INDUSTRY.co.id - LUWU TIMUR — Pengembangan Blok Tanamalia di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, dinilai berpotensi memperkuat ekonomi lokal. Dampak ekonomi dari pengembangan tersebut dapat diperluas melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha daerah, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Wakil Ketua Komite Tetap Perencanaan Pengembangan Energi Baru Terbarukan Kadin Indonesia, Feiral Rizky Batubara, mengatakan manfaat ekonomi dari pengembangan Tanamalia perlu dirancang sejak awal. Menurutnya, manfaat tersebut tidak boleh berhenti pada aktivitas utama pertambangan.

“Dari perspektif dunia usaha, investasi pertambangan memiliki efek berganda yang cukup besar. Yang perlu dipastikan adalah bagaimana manfaat tersebut masuk ke masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja lokal, keterlibatan UMKM, dan tumbuhnya usaha-usaha pendukung,” kata Feiral, Rabu (19/8/2026).

Potensi tersebut sejalan dengan struktur ekonomi Luwu Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertambangan dan penggalian menjadi kontributor terbesar PDRB Luwu Timur pada 2025. Nilainya sekitar Rp13,29 triliun atau 51,27% dari total PDRB. Sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar Rp8,61 triliun.

Feiral menilai besarnya kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian daerah menunjukkan pentingnya memperluas keterlibatan pelaku usaha daerah. Pemerintah, dunia usaha, dan perusahaan perlu membangun skema yang jelas sejak awal, mulai dari pelatihan, pendampingan UMKM, hingga pembukaan akses ke rantai pasok.

“Pelaku usaha lokal perlu mendapatkan kesempatan untuk masuk dalam rantai pasok, mulai dari penyediaan barang dan jasa, transportasi, katering, penginapan, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya,” ujarnya.

Menurut Feiral, penguatan sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam pengembangan Blok Tanamalia. Pelatihan perlu disesuaikan dengan kebutuhan industri dan dilakukan secara bertahap sejak masa eksplorasi hingga pengembangan proyek.

Salah satu contoh pengembangan kapasitas tenaga kerja di Luwu Timur yang dapat menjadi referensi berasal dari wilayah Loeha Raya, Tanamalia.

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk, Budiawansyah, mengatakan penguatan keterampilan masyarakat perlu dilakukan sejak dini, bahkan sebelum aktivitas pertambangan dikembangkan.

Di wilayah Loeha Raya, pendekatan tersebut mulai dijalankan melalui pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi masyarakat sekitar agar talenta lokal memiliki kesiapan yang lebih baik dalam memanfaatkan peluang ekonomi yang tumbuh seiring perkembangan industri.

Menurutnya, kebutuhan industri tidak hanya berkaitan dengan tenaga kerja langsung, tetapi juga menciptakan peluang bagi berbagai usaha pendukung yang dapat melibatkan masyarakat setempat.

Sebagai gambaran, sebagian besar karyawan PT Vale di Luwu Timur berasal dari daerah setempat. Selain itu, kegiatan operasional perusahaan juga didukung oleh tenaga kerja dari perusahaan mitra dan kontraktor lokal.

“Semakin siap kompetensi masyarakat lokal, semakin besar pula peluangnya untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas ekonomi yang berkembang di daerah,” kata Budiawansyah.

Dengan demikian, pengembangan Blok Tanamalia dinilai tidak hanya perlu dilihat dari sisi investasi dan aktivitas pertambangan, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya terhadap masyarakat dan pelaku usaha lokal. Kesiapan tenaga kerja, UMKM, serta rantai pasok daerah menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi dari pengembangan kawasan tersebut dapat dirasakan secara lebih luas.