INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga minyak bergerak bullish pada perdagangan Selasa (18/8/2026) seiring meningkatnya risiko eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Berakhirnya kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump pada Senin (17/8) menyatakan tidak tertarik memperbarui kesepakatan gencatan senjata 60 hari dengan Teheran yang secara teknis berakhir pada 17 Agustus. Trump juga menegaskan AS memiliki posisi tawar yang kuat, salah satunya melalui blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pernyataan tersebut langsung meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan konflik yang lebih luas. Seorang pejabat senior Iran pada Senin mengatakan Teheran akan beralih ke sikap militer yang lebih ofensif. Entitas-entitas Iran juga disebut telah bersiap meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya.

Selat Hormuz menjadi titik krusial bagi pasar minyak global karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan premi risiko harga minyak sekaligus menekan stabilitas pasokan energi global.

Indikasi awal gangguan lalu lintas juga mulai terlihat. Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan aktivitas kapal yang melewati Selat Hormuz melambat setelah sempat meningkat tipis pada akhir pekan. Pada Senin, hanya enam kapal kargo yang tercatat melintasi selat tersebut, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 11 kapal.

Risiko geopolitik juga datang dari kawasan Laut Merah. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, pada Senin mengklaim kelompoknya telah menyerang kapal militer Saudi dan empat kapal pengawal menggunakan rudal di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah.

Jika eskalasi berlanjut di sejumlah jalur perdagangan strategis tersebut, pasar minyak berpotensi menghadapi tekanan dari sisi pasokan. Investor kini tidak hanya mencermati perkembangan konflik AS-Iran, tetapi juga dampaknya terhadap pergerakan tanker dan biaya pengiriman minyak.

Meski demikian, sentimen dari sisi permintaan mulai memberikan penyeimbang. Volume pengolahan minyak mentah China pada Juli meningkat sebesar 210.000 barel per hari (bph). Kenaikan tersebut sekaligus menjadi peningkatan bulanan pertama sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, berdasarkan data resmi Biro Statistik Nasional China yang dirilis Senin.

Kenaikan aktivitas pengolahan minyak di China memberikan sinyal bahwa permintaan dari konsumen minyak terbesar dunia masih memiliki daya tahan. Kondisi ini berpotensi menjadi katalis tambahan bagi harga minyak apabila dibarengi dengan risiko pasokan yang semakin ketat akibat konflik geopolitik.

Dari sisi teknikal, harga minyak masih memiliki peluang melanjutkan penguatan dengan resistance terdekat di level US$82 per barel. Namun, apabila muncul katalis negatif yang mampu meredakan kekhawatiran pasokan, harga minyak berpotensi bergerak turun menuju level support terdekat di US$86 per barel.

Dengan demikian, pasar minyak dalam jangka pendek masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan hubungan AS dan Iran, terutama potensi gangguan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Setiap perubahan sikap Washington maupun Teheran dapat dengan cepat mengubah ekspektasi pasar terhadap pasokan dan mendorong volatilitas harga minyak.