INDUSTRY.co.id - SERANG - Jauh sebelum Indonesia merdeka, satu pelabuhan di ujung barat Jawa sudah jadi pusat dunia. Pada abad ke-17, di bawah Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683), Kesultanan Banten tumbuh sebagai pelabuhan tersibuk di Asia, kekuatan maritim Asia Tenggara, dan simbol perlawanan terhadap monopoli VOC Belanda.

Banten saat itu bersifat kosmopolitan, terbuka, dan terhubung langsung dengan jaringan dunia Islam serta jalur dagang China, India, Arab, hingga Eropa. Pedagang dari Gujarat, Turki, Inggris, dan Portugis berlabuh di Banten untuk berburu lada, rempah, dan komoditas lain. Armada laut Banten kuat, diplomasi istananya aktif.

Menghadapi ambisi VOC yang ingin memonopoli perdagangan, Sultan Ageng menempuh jalan berbeda: membuka Banten selebar-lebarnya bagi semua bangsa. Kedaulatan ekonomi dijaga bukan dengan isolasi, tetapi dengan menjadi simpul yang tak tergantikan.

Peran Tionghoa Muslim 

Salah satu kekuatan Banten adalah wataknya yang multikultural. Hubungan dengan komunitas Tionghoa Muslim sangat erat, terlihat dari arsitektur, teknologi, hingga jaringan dagang di lingkar istana. Sejumlah tradisi lokal bahkan menyebut adanya kerabat dekat Sultan yang berasal dari keturunan Tionghoa Muslim. 

Fakta ini menegaskan identitas Islam Nusantara pada masa itu: terbuka, percaya diri, dan mampu hidup berdampingan dengan budaya China, India, Arab, dan Eropa dalam satu peradaban maritim.

Diplomasi Cerdas: Gandeng Inggris untuk Lawan VOC 

Untuk mengimbangi tekanan VOC, Sultan Ageng menjalin hubungan dagang dan diplomatik dengan Inggris melalui East India Company. Inggris diizinkan membuka kantor dagang di Banten, dan utusan Banten dikirim ke London. 

Langkah ini adalah manuver geopolitik: Banten tidak mau tunduk pada satu kekuatan asing. Dengan membuka diri ke banyak mitra, Sultan Ageng mempertahankan harga lada dan kemandirian ekonomi Banten.

Bantam yang Mendunia

Jejak paling populer dari kejayaan Banten justru ada di kamus bahasa Inggris. Kata "Bantam" masuk Oxford English Dictionary sebagai sebutan untuk ayam kecil yang lincah dan agresif: "bantam chicken".

Sebutan itu lahir karena pelaut dan pedagang Eropa terkesan dengan ayam sabung dari Banten. Hewan itu terkenal petarung. Nama pelabuhan asalnya, Bantam/Banten, akhirnya melekat jadi istilah umum. 

Ada pula cerita bahwa ayam sabung ikut dibawa sebagai hadiah diplomatik utusan Asia Tenggara ke Eropa. Meski istilah "duta ASEAN" belum ada saat itu, praktik diplomasi dengan membawa komoditas eksotik memang lazim. Ayam bantam pun populer di Eropa sebagai ayam laga dan hias.

Warisan untuk Indonesia Hari Ini
 
Era Sultan Ageng Tirtayasa membuktikan Nusantara pernah sangat global dan aktif dalam diplomasi dunia. Banten bukan daerah pinggiran, melainkan simpul jaringan internasional dari Timur Tengah, India, China, hingga Eropa.

Warisan terbesar Sultan Ageng adalah teladan bahwa Islam, budaya lokal, dan pengaruh global bisa bersatu dalam satu poros maritim yang berdaulat. Ia bukan hanya pemimpin politik, tetapi simbol kedaulatan ekonomi, keterbukaan budaya, dan perlawanan terhadap dominasi asing.