INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Jamu kembali mendapat panggung sebagai bagian penting dari gaya hidup sehat masyarakat modern melalui penyelenggaraan Acaraki Jamu Festival 2026. 

Mengusung tema “The Rise of Jamu Culture”, festival yang berlangsung pada 6–7 Juni 2026 di Hutan Kota GBK, Jakarta, hadir sebagai gerakan budaya yang mengajak masyarakat untuk kembali mengenal, menikmati, dan membanggakan jamu sebagai identitas bangsa Indonesia.

Selama ratusan tahun, jamu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Warisan leluhur ini tidak hanya dikenal sebagai ramuan kesehatan tradisional, tetapi juga sebagai simbol pengetahuan, budaya, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola hidup sehat, jamu kini kembali mendapat perhatian. Namun, masih banyak masyarakat yang memandang jamu hanya sebagai minuman yang dikonsumsi saat sakit. Padahal, jamu memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Melalui Acaraki Jamu Festival 2026, masyarakat diajak melihat wajah baru jamu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Festival ini memadukan unsur kesehatan, budaya, olahraga, kuliner, hiburan, dan kreativitas dalam satu perayaan yang dapat dinikmati seluruh anggota keluarga.

Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Dari sekitar 40.000 spesies tanaman yang ada di dunia, sekitar 30.000 spesies tumbuh di Indonesia. Kekayaan alam tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia sekaligus sumber pengetahuan pengobatan tradisional yang telah berkembang selama berabad-abad.

Tidak hanya kaya akan tanaman herbal, masyarakat Indonesia juga memiliki kemampuan mengolah berbagai tanaman tersebut menjadi ramuan yang bermanfaat bagi kesehatan. Pengetahuan ini melahirkan berbagai tradisi seperti budaya jamu gendong hingga resep-resep pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Pengakuan dunia terhadap warisan budaya tersebut semakin kuat setelah UNESCO menetapkan Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia pada 6 Desember 2023. Pengakuan ini menegaskan bahwa jamu merupakan bagian penting dari identitas budaya bangsa yang memiliki nilai sejarah, pengetahuan, dan keberlanjutan yang harus terus dijaga.

Acaraki Jamu Festival 2026 terselenggara melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari acaraki, Larutan Penyegar Cap Badak, BPOM RI, GP Jamu, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, hingga komunitas, pelaku UMKM, seniman, dan pegiat budaya.

Kolaborasi tersebut dibangun melalui dua pendekatan utama. Bersama Kementerian Ekonomi Kreatif, festival menghadirkan berbagai aktivitas kreatif seperti pertunjukan seni, musik, kuliner, permainan tradisional, dan pengalaman budaya yang dekat dengan generasi muda. Tujuannya adalah mengubah persepsi jamu dari sekadar produk tradisional menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Sementara itu, BPOM RI dan GP Jamu berperan dalam memperkuat kualitas, keamanan, edukasi, inovasi produk, serta pengembangan industri jamu nasional agar semakin dipercaya dan memiliki daya saing tinggi.

Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menegaskan bahwa pelestarian jamu perlu dilakukan dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Acaraki Jamu Festival menjadi momentum penting untuk mengajak masyarakat kembali mengenal dan mencintai jamu sebagai warisan budaya Indonesia yang telah diwariskan lintas generasi. Festival ini juga menunjukkan bahwa jamu mampu beradaptasi dan terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Menurut Taruna Ikrar, kekayaan biodiversitas dan pengetahuan tradisional yang dimiliki Indonesia menjadikan jamu memiliki potensi besar sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus penggerak ekonomi nasional yang mampu dikenal hingga tingkat global.

Perkembangan industri jamu menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern. Jika dahulu jamu identik dengan jamu gendong, kini produk herbal hadir dalam berbagai bentuk seperti minuman siap minum (RTD), kemasan botol, sachet, kapsul, café jamu, hingga produk perawatan tubuh berbasis herbal.

Transformasi tersebut membuktikan bahwa jamu mampu berkembang tanpa meninggalkan akar budaya dan manfaat kesehatannya.

Sebagai salah satu pendukung festival, Larutan Penyegar Cap Badak turut mengangkat pentingnya revitalisasi Aksara Nusantara. Banyak resep dan pengetahuan jamu tradisional yang dahulu dituliskan menggunakan berbagai aksara daerah di Indonesia.

Ketua Umum GP Jamu, Jony Yuwono, mengatakan bahwa pelestarian jamu membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, industri, komunitas, hingga masyarakat.

“Melalui Acaraki Jamu Festival, kami berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk ikut melestarikan dan mengembangkan warisan budaya jamu Indonesia. Semangat para pelaku jamu tradisional perlu menjadi inspirasi bagi generasi saat ini untuk terus berinovasi dan memperkuat daya saing UMKM jamu,” kata Jony.

Untuk mewujudkan visi tersebut, festival menghadirkan berbagai program unggulan yang memadukan unsur kesehatan dan budaya. Salah satunya adalah Jamu Fit Fest yang menghadirkan beragam aktivitas olahraga seperti 5K Fun Run, Fun Walk, Yoga, Poundfit, dan Zumba.

Selain itu, terdapat Perjamuan Nusantara yang menampilkan aneka jamu, kuliner tradisional, produk UMKM, serta karya kreatif dari berbagai daerah di Indonesia.

Festival juga dimeriahkan oleh berbagai kegiatan budaya dan hiburan seperti Estafet Permainan Nusantara, Karnaval Nusantara, Kompetisi Jamu Mixologist, Parade Jamu Gendong, Temu Lawak, hingga konser musik “Sorak Serai” yang menghadirkan pengalaman budaya yang meriah dan interaktif.

Dirancang sebagai festival ramah keluarga, Acaraki Jamu Festival 2026 menghadirkan berbagai aktivitas yang dapat dinikmati oleh anak-anak, remaja, hingga orang tua. Melalui pengalaman yang menyenangkan, festival ini diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan terhadap jamu sekaligus mempererat hubungan antar generasi.