INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di kawasan kuliner NICE PIK 2, Jakarta, kekayaan rasa Nusantara semakin mendapat perhatian luas. “Chef Expo 2026” menjadi ajang yang mempertemukan para chef untuk berbagi ide, berkolaborasi, dan memperkenalkan cita rasa Indonesia ke tingkat global.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, hadir membuka acara dengan nada penuh penghargaan. "Satu kehormatan bagi saya untuk hadir di Chef Expo 2026 bersama para insan kuliner Indonesia yang terus membentuk dan menghidupkan citra serta cita rasa Indonesia," ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Selama empat hari, dari 6 hingga 9 Mei 2026, panggung ini diramaikan oleh nama-nama besar dunia kuliner Tanah Air—Chef Juna, Chef Chandra Yudasswara, Bunda Sisca Soewitomo, Chef Axhiang, hingga Chef Mutho. Mereka tidak hanya hadir, tetapi juga berbagi melalui demo memasak yang menampilkan kekayaan kuliner Nusantara dalam berbagai tafsir modern.

Namun Chef Expo bukan hanya soal pertunjukan. Ia juga arena kompetisi: dari sajian tradisional Indonesia hingga modern plated dessert, dari cake decoration hingga fruit carving. Bahkan tantangan seperti rijsttafel dan Black Box Challenge—dengan Chef Juna dan Chef Ragil sebagai juri—menjadi ajang adu kreativitas lintas generasi, dari chef profesional hingga junior.

Dalam narasi yang lebih luas, Menpar Widiyanti menegaskan keterkaitan erat antara kuliner dan pariwisata. "Budaya gastronomi nusantara dan pariwisata Indonesia merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Semakin populer makanan Indonesia, semakin besar pula daya tarik Indonesia sebagai destinasi wisata dunia," katanya.

Indonesia, dengan segala kekayaan rempah, ragam budaya, dan tradisi turun-temurun, disebutnya memiliki fondasi kuat untuk menjadi kekuatan gastronomi dunia. Pengakuan global pun mulai berdatangan—dari New Destination Champion Awards 2026 oleh La Liste hingga masuknya Indonesia dalam Top 10 Best Cuisine in the World 2025 versi Taste Atlas.

Lebih jauh, ia melihat peluang ekonomi yang mengalir dari popularitas ini. Restoran Indonesia di luar negeri bukan hanya soal ekspansi rasa, tetapi juga pembuka lapangan kerja dan penggerak kunjungan wisata. "Ini pada akhirnya akan menciptakan efek berganda pada perekonomian nasional melalui pemesanan akomodasi, transportasi, cenderamata, dan produk makanan," jelasnya.

Pemerintah pun tak tinggal diam. Melalui program "Serasa", upaya menghadirkan restoran autentik Indonesia di luar negeri terus didorong sebagai bagian dari gastro diplomacy. Sementara itu, platform Wonderful Indonesia Gastronomi menjadi wajah promosi terpadu—menghubungkan destinasi, pelaku usaha, hingga pengalaman kuliner dalam satu ekosistem.

Tak hanya itu, penghargaan restoran berkelanjutan juga dihadirkan sebagai bentuk apresiasi terhadap praktik kuliner ramah lingkungan—sebuah langkah kecil menuju masa depan yang lebih sadar.

Menutup sambutannya, Menpar mengajak semua pihak bergerak bersama. "Indonesia sesungguhnya telah memiliki seluruh fondasi untuk menjadi kekuatan gastronomi dunia, mulai dari kekayaan rempah, tradisi kuliner, hingga generasi chef berbakat. Namun keberhasilan itu ditentukan oleh langkah nyata yang kita ambil bersama. Mari kita pastikan cita rasa nusantara tidak hanya dikenal, tetapi juga hadir dan mudah diakses di berbagai belahan dunia."

Sebagai penanda arah baru, ditandatangani pula kerja sama antara Indonesian Chef Association dan CrescentRating. Fokusnya: memperkuat profil gastronomi halal Indonesia melalui program Certified Halal Gourmet Chef (CHGC) serta Halal Trip Gastronomy Awards 2026—sebuah langkah strategis untuk menempatkan Indonesia sebagai destinasi wisata ramah Muslim yang berdaya saing global.