INDUSTRY.co.id - Medan — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa perubahan iklim global menjadi pemicu utama meningkatnya bencana hidrometeorologi di Pulau Sumatra, termasuk banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir 2025.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, pemanasan suhu bumi dan kemunculan siklon tropis di sekitar Sumatra memicu curah hujan ekstrem hingga tiga kali lipat dari kondisi normal.

“Curah hujan normal sekitar 474 mm, namun pada November 2025 mencapai 1.356 mm. Ini kondisi ekstrem akibat perubahan iklim global,” ujar Ardhasena dalam Diskusi Ilmiah Dialektika Sawit Indonesia di Universitas Sumatra Utara (USU), Selasa (10/2).

BMKG mencatat, siklon tropis Senyar menyebabkan hujan sangat lebat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, dengan intensitas harian di beberapa wilayah menembus 225 mm per hari.

Dikesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Pertanian USU, Prof. Abdul Rauf menegaskan bahwa perkebunan kelapa sawit tidak bisa serta-merta disalahkan sebagai penyebab bencana.

“Yang menjadi persoalan adalah ketidaksesuaian ekofisiologi tanaman dengan kondisi lahannya, ditambah praktik ilegal seperti illegal logging dan illegal planting,” kata Prof Rauf.

Menurutnya, kelapa sawit yang dikelola sesuai kaidah justru memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air, serta membantu konservasi tanah dan air.

Sementara itu, Wakil Rektor III USU, Prof Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dan riset ilmiah dalam merumuskan kebijakan lingkungan.

“Diskusi ini bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan menemukan solusi berbasis bukti agar kebijakan benar-benar melindungi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

Diskusi ilmiah tersebut menghadirkan akademisi, BMKG, pemerintah, serta pelaku industri sawit untuk memperkuat kolaborasi menghadapi risiko bencana akibat perubahan iklim.