INDUSTRY.co.id - Jakarta – Bayer Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui dukungan nyata kepada petani jagung di Jawa Tengah. 

Lewat penyediaan benih unggul dan pendampingan teknis berkelanjutan, produktivitas panen jagung di wilayah Grobogan dan Kendal berhasil melampaui rata-rata nasional.

Dalam kegiatan panen bersama yang melibatkan sekitar 800 petani, Bayer mencatat capaian produksi 6 hingga 7 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi jagung nasional tahun 2025 yang berada di angka 5,93 ton per hektare.

Panen ini menggunakan varietas jagung hibrida DEKALB DK19C “Cantik” dan DK79C “Kuat”, dua benih unggulan Bayer yang dirancang untuk menjawab kebutuhan agroekologi berbeda di Jawa Tengah.

Jawa Tengah dikenal sebagai provinsi penghasil jagung terbesar kedua di Indonesia, dengan kontribusi produksi mencapai sekitar 3,18 juta ton per tahun. Peran strategis ini menjadikan wilayah tersebut sebagai tulang punggung dalam mendukung target swasembada jagung nasional, bagian dari program Asta Cita pemerintah.

Jagung sendiri merupakan komoditas pangan strategis yang menjadi bahan baku utama industri pangan dan pakan ternak. Di tengah tantangan perubahan iklim serta meningkatnya permintaan industri, peningkatan produktivitas petani menjadi faktor kunci menjaga stabilitas pasokan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 16,11 juta ton pipilan kering, meningkat 6,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Program Bayer tidak hanya berdampak pada hasil panen, tetapi juga langsung dirasakan petani secara ekonomi. Melalui penerapan benih unggul dan pendampingan teknis, produktivitas meningkat hingga 15 persen, sementara pendapatan petani naik sekitar 20 persen per musim tanam.

Mateus Barros, Cluster Lead East Asia & Pakistan Bayer Crop Science, menegaskan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam pengembangan sektor pertanian di kawasan Asia.

“Petani jagung berada di jantung upaya peningkatan produksi pangan. Akses terhadap teknologi benih yang andal serta praktik budidaya yang tepat sangat penting untuk menjaga produktivitas secara berkelanjutan,” ujarnya.

Varietas DEKALB DK19C “Cantik” diperkenalkan pada akhir 2024 dengan keunggulan stabilitas hasil dan umur panen sekitar 105 hari. Sementara itu, DK79C “Kuat” yang diluncurkan pada kuartal ketiga 2025 dirancang khusus untuk lahan kering dan wilayah berbukit, dengan umur panen lebih singkat sekitar 100 hari.

Kedua varietas ini dikembangkan melalui riset plasma nutfah Bayer untuk membantu petani menghadapi tantangan iklim dan kondisi lahan yang beragam.

Tak hanya menyediakan benih, Bayer juga menjalankan program pendampingan teknis secara menyeluruh. Mulai dari pelatihan teknik budidaya, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga pemanfaatan teknologi pertanian digital.

Country Commercial Lead Bayer Crop Science Indonesia dan Malaysia, Yuchen Li, menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam peningkatan hasil pertanian.

“Benih berkualitas tinggi harus didukung dengan pendampingan teknis yang konsisten, akses informasi, serta praktik pertanian yang lebih baik agar produktivitas dapat berkelanjutan,” jelasnya.

Program pendampingan Bayer meliputi ekosistem Better Life Farming bagi petani kecil, pusat riset dan pelatihan Bayer JUARA di Klaten, komunitas SOBAT Bayer yang kini beranggotakan lebih dari 1.000 penasihat petani, serta platform edukasi digital TANIA (Teman Petani Indonesia).