INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Pergerakan pasar valuta asing masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan meningkatnya risiko geopolitik. Dolar AS mendapat dukungan dari permintaan aset safe haven dan kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS, sementara sejumlah mata uang utama bergerak terbatas menjelang publikasi Risalah Rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Pasangan NZDUSD menjadi salah satu yang tertekan. NZDUSD bergerak melemah ke sekitar 0,5866 pada perdagangan Rabu (19/8), melanjutkan koreksi selama dua hari berturut-turut setelah sebelumnya menyentuh 0,5925, level tertinggi sejak 3 Juni.

Pelemahan dolar Selandia Baru terjadi di tengah tekanan jual terhadap NZD. Pada saat yang sama, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven masih memberikan dukungan meski terbatas menjelang Risalah FOMC.

Dolar AS juga memperoleh katalis dari kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan menjaga imbal hasil obligasi Pemerintah AS tetap tinggi.

"Kondisi tersebut dapat membatasi tekanan terhadap dolar AS, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September telah menurun," demikian bahan analisis tersebut.

Ketegangan Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang masih diperhatikan investor. Pernyataan pemerintah AS terkait blokade terhadap pelabuhan Iran serta perkembangan di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.

Harga minyak mentah pun terdorong ke level tertinggi dalam hampir tiga minggu. Kenaikan tersebut meningkatkan premi risiko geopolitik sekaligus menopang permintaan terhadap dolar AS. Dengan demikian, ruang penguatan NZDUSD dalam jangka pendek diperkirakan masih terbatas.

Namun, tekanan terhadap NZDUSD berpotensi tertahan oleh sikap Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) yang masih membuka peluang pengetatan kebijakan. Ekspektasi kenaikan suku bunga RBNZ dapat menjadi penopang bagi dolar Selandia Baru, terutama apabila prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi domestik tetap kuat. Secara teknikal, level support NZDUSD berada di 0,5840, sedangkan resistance di 0,5900.

Sementara itu, EURUSD bergerak melemah ke sekitar 1,1574. Tekanan terhadap euro terjadi meskipun data ekonomi Jerman menunjukkan perbaikan. Survei ZEW Sentimen Ekonomi Jerman meningkat menjadi 34,2 pada Agustus dari 26,3 pada Juli. Indeks Situasi Saat Ini juga membaik menjadi -61,1 dari -77,6.

Pasar selanjutnya mencermati pernyataan Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde. Ekspektasi terhadap kelanjutan siklus kenaikan suku bunga ECB masih relatif kuat. Probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,50% pada pertemuan September berada di kisaran 90%-94%.

Ekspektasi tersebut berpotensi memberikan bantalan bagi euro dan membatasi pelemahan EURUSD. Dari sisi teknikal, support berada di 1,1540 dan resistance di 1,1620.

Berbeda dengan euro, poundsterling cenderung bergerak datar. GBPUSD berada di sekitar 1,3534 setelah data menunjukkan inflasi Inggris kembali meningkat.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Inggris secara tahunan naik menjadi 2,9% pada Juli dari 2,6% pada Juni. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan pasar, tetapi masih berada di atas target inflasi Bank of England (BoE) sebesar 2%. Inflasi inti bahkan tercatat 2,6%, lebih tinggi dari ekspektasi 2,5%.

Kondisi tersebut dapat memperkuat alasan BoE untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat. "Kenaikan inflasi tersebut berpotensi memperkuat pertimbangan BoE untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga dapat memberikan dukungan bagi pound," demikian analisis tersebut.

Pelaku pasar kini akan mencermati respons BoE terhadap tekanan inflasi yang masih berada di atas target. Secara teknikal, support GBPUSD berada di 1,3500 dan resistance di 1,3570.

Dari Australia, AUDUSD melemah ke sekitar 0,7073 meski Reserve Bank of Australia (RBA) kembali memberikan sinyal hawkish. Deputi Gubernur RBA Andrew Hauser membuka peluang pengetatan kebijakan apabila tekanan inflasi belum mereda.

Sinyal tersebut semestinya menjadi katalis positif bagi dolar Australia. Namun, untuk sementara, dukungan tersebut belum mampu mengimbangi tekanan jual terhadap AUD.

Di sisi lain, menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September berpotensi membatasi penguatan dolar AS dan menahan pelemahan AUDUSD lebih lanjut. Investor akan mencermati Risalah FOMC untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS. Data ketenagakerjaan Australia yang dijadwalkan dirilis Kamis juga menjadi perhatian berikutnya.

Secara teknikal, AUDUSD memiliki support di 0,7040 dan resistance di 0,7100.

Yen Jepang justru mendapatkan ruang penguatan. USDJPY melemah ke sekitar 159,48 seiring yen kembali menguat terhadap dolar AS. Penguatan tersebut terutama ditopang ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pada September.

Ekspektasi tersebut tetap bertahan meski pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal II tercatat lebih lemah dari perkiraan. Pasar masih melihat peluang pengetatan kebijakan BoJ sehingga tekanan terhadap yen relatif terbatas.

Dari AS, sejumlah data ekonomi yang menunjukkan pelemahan turut menekan dolar AS. Data ketenagakerjaan dan inflasi yang relatif moderat serta berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September membuat perbedaan ekspektasi kebijakan moneter Jepang dan AS semakin mendukung yen.

USDJPY memiliki support di 158,80 dan resistance di 160,00.

Sementara itu, USDCHF bergerak di sekitar 0,8123 setelah mencatat penguatan tipis pada sesi sebelumnya. Pasangan ini masih menghadapi tekanan dari pelemahan dolar AS akibat menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Penjualan ritel AS yang turun pada Juli, ditambah pelemahan pasar tenaga kerja dan inflasi yang relatif moderat, semakin memperkuat pandangan bahwa ruang kenaikan suku bunga The Fed masih terbatas.

Dari Swiss, pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan inflasi yang melandai turut memengaruhi pergerakan franc. Ekonomi Swiss tumbuh 1,5% secara kuartalan pada kuartal II 2026, sedangkan inflasi Juli melambat menjadi 0,4%.

Swiss National Bank (SNB) mempertahankan suku bunga di level 0% dan diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan tersebut dalam beberapa waktu ke depan. Secara teknikal, support USDCHF berada di 0,8085 dan resistance di 0,8150.

Di Kanada, USDCAD bergerak menguat ke sekitar 1,3902. Penguatan berlangsung hati-hati menjelang tenggat tarif AS terhadap produk Kanada dan publikasi Risalah FOMC.

Perundingan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney menjadi perhatian pasar. Risiko pengenaan tarif AS sebesar 50% terhadap produk Kanada senilai US$20 miliar berpotensi meningkatkan volatilitas dolar Kanada.

Di sisi lain, dolar AS memperoleh dukungan dari kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS dan meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun, kenaikan harga minyak menjadi faktor penahan karena berpotensi memberikan dukungan terhadap dolar Kanada sebagai mata uang berbasis komoditas.

Pasar selanjutnya akan menunggu Risalah FOMC sebagai petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed. Secara teknikal, support USDCAD berada di 1,3845, sedangkan resistance di 1,3950.

Dengan demikian, arah pasar valas dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada kombinasi kebijakan bank sentral, data ekonomi dan perkembangan geopolitik. Risalah FOMC menjadi katalis utama yang akan menentukan apakah pelemahan dolar AS berlanjut atau justru mendapatkan momentum baru di tengah tingginya permintaan aset safe haven.