JAKARTA – Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara layanan kesehatan diberikan, termasuk bagaimana pasien mencari informasi dan berinteraksi dengan tenaga kesehatan. Jika sebelumnya pasien lebih banyak mengandalkan dokter, rumah sakit, atau mesin pencari untuk mendapatkan informasi kesehatan, kini AI generatif mulai menjadi salah satu sumber informasi yang semakin mudah diakses.
Perubahan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Future Health Index (FHI) 2026, riset yang dikomisikan oleh Philips untuk melihat dampak nyata AI terhadap layanan kesehatan. Memasuki edisi ke-11, FHI 2026 melibatkan lebih dari 2.000 tenaga kesehatan dan lebih dari 20.000 pasien di 10 negara, termasuk Indonesia. Survei dilakukan pada Februari hingga April 2026.
Berbeda dari pembahasan AI yang banyak menyoroti potensinya, FHI 2026 berfokus pada bagaimana AI sudah digunakan dalam praktik dan dampak yang mulai dirasakan oleh tenaga kesehatan maupun pasien.
Pasien Berbasis AI Jadi Bagian Tim Perawatan
Salah satu temuan penting FHI 2026 adalah meningkatnya peran pasien dalam ekosistem layanan kesehatan. Di Indonesia, 70 persen tenaga kesehatan menilai pasien yang diberdayakan oleh AI akan menjadi bagian integral dari tim perawatan di masa depan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 63 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya berpotensi mengubah pekerjaan dokter atau rumah sakit, tetapi juga posisi pasien. Pasien dapat datang ke konsultasi dengan pengetahuan awal mengenai kondisi yang ingin ditanyakan, membawa pertanyaan yang lebih spesifik, serta berdiskusi lebih aktif dengan tenaga kesehatan. Dalam konteks tersebut, pasien tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, melainkan partner yang lebih aktif dalam proses perawatan.
Pasien Makin Sering Datang dengan Informasi dari AI
Fenomena tersebut bukan sekadar prediksi. Secara global, 74 persen tenaga kesehatan mengatakan pasien datang ke konsultasi dengan informasi kesehatan yang diperoleh dari AI. AI dapat membantu pasien mempersiapkan konsultasi, memahami istilah kesehatan yang sulit, maupun menyusun pertanyaan sebelum bertemu dokter.
FHI 2026 juga menemukan bahwa pasien yang menggunakan AI untuk mendapatkan informasi kesehatan merasa lebih memahami kondisi mereka, lebih siap mengajukan pertanyaan kepada tenaga kesehatan, dan dapat menggunakan waktu konsultasi dengan lebih baik.
Namun, Philips juga menyoroti bahwa pemanfaatan AI di kesehatan harus dibangun dengan kesiapan sistem. AI memang sudah mulai memberikan manfaat nyata, tetapi adopsinya berkembang lebih cepat dibandingkan kesiapan sebagian sistem kesehatan dalam hal integrasi, pelatihan, dan dukungan implementasi.
Informasi AI Tidak Selalu Benar
Di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan. AI dapat menghasilkan jawaban dengan cepat dan terlihat meyakinkan, namun informasi tersebut tetap perlu diverifikasi, terutama ketika menyangkut kondisi medis.
FHI 2026 menemukan bahwa 69 persen tenaga kesehatan secara global pernah harus mengoreksi informasi yang salah yang dihasilkan AI dan dibawa pasien dalam konsultasi. Artinya, AI sebaiknya tidak diposisikan sebagai pengganti tenaga kesehatan. Pasien dapat menggunakan AI untuk memperoleh informasi awal, tetapi diagnosis dan keputusan medis tetap membutuhkan tenaga kesehatan yang memahami kondisi pasien secara menyeluruh.
AI Bergeser dari Tool Menjadi Teammate
Salah satu konsep penting yang diangkat Philips melalui FHI 2026 adalah perubahan posisi AI dari sekadar tool menjadi teammate. AI mulai dipandang sebagai bagian dari tim layanan kesehatan yang membantu tenaga kesehatan melakukan pekerjaan tertentu, tetapi tidak mengambil alih kendali klinis. Philips menyebut arah ini sebagai perubahan menuju hybrid care team.
Dalam model tersebut, AI membantu memproses informasi, mengotomatisasi pekerjaan rutin, dan memberikan rekomendasi. Tenaga kesehatan memvalidasi informasi, mempertimbangkan konteks klinis, dan mengambil keputusan akhir. Sementara pasien lebih aktif mencari informasi, mempersiapkan konsultasi, dan terlibat dalam perjalanan perawatannya.
Kepercayaan Pasien Jadi Faktor Kunci
Semakin besar penggunaan AI dalam kesehatan, semakin penting pula persoalan kepercayaan. FHI 2026 menunjukkan bahwa 89 persen pasien secara global mengatakan mereka perlu diberi tahu ketika AI digunakan dalam perawatan mereka. Di sisi lain, 39 persen tenaga kesehatan mengatakan mereka pernah melihat pasien kehilangan kepercayaan setelah mengetahui AI terlibat dalam layanan mereka.
Ini menunjukkan bahwa transparansi bukan sekadar persoalan komunikasi, melainkan bagian dari pengalaman pasien. Rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang menggunakan AI perlu menjelaskan bagaimana teknologi tersebut digunakan, apa manfaatnya, serta batasan-batasannya.
90 Persen Nakes Ingin Manusia Tetap dalam Proses
Kekhawatiran terhadap AI juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. FHI 2026 menunjukkan bahwa 66 persen tenaga kesehatan secara global khawatir AI dapat melakukan kesalahan, sementara 60 persen menyoroti kurangnya transparansi mengenai bagaimana AI menghasilkan rekomendasi.
Karena itu, pengawasan manusia tetap menjadi faktor penting. Sebanyak 90 persen tenaga kesehatan mengatakan manusia harus tetap berada dalam proses ketika AI semakin berkembang, sementara 86 persen mengatakan seluruh output AI membutuhkan pengawasan manusia. Konsep tersebut sering disebut sebagai human in the loop.
Tantangan Indonesia: Bukan Teknologi, tapi SDM
Jika AI ingin digunakan secara lebih luas di Indonesia, kesiapan tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor utama. FHI 2026 menemukan bahwa secara global 70 persen tenaga kesehatan mengatakan pelatihan untuk menggunakan perangkat berbasis AI di organisasi mereka masih tidak tersedia, terbatas, atau tidak konsisten.
Tenaga kesehatan perlu memahami bagaimana AI bekerja, bagaimana memeriksa akurasi hasil AI, kapan hasil AI harus diverifikasi, serta bagaimana menjaga keamanan data. FHI 2026 mencatat 58 persen tenaga kesehatan membutuhkan dukungan untuk memeriksa akurasi rekomendasi AI, sementara 55 persen membutuhkan kemampuan teknis untuk menggunakan teknologi tersebut.
Menariknya, kebutuhan terhadap AI di kalangan tenaga kesehatan tidak selalu menunggu rumah sakit menyediakan teknologi. Di Indonesia, 58 persen tenaga kesehatan mengatakan mereka menggunakan AI personal ketika pilihan AI yang tersedia di tempat kerja belum memenuhi kebutuhan mereka. Fenomena ini menunjukkan adanya gap antara kebutuhan pengguna dan kesiapan institusi.
Masa Depan: Manusia dan AI Bekerja Bersama
Philips melalui FHI 2026 melihat bahwa AI sudah bergerak dari sekadar potensi menjadi teknologi yang mulai memberikan dampak nyata dalam layanan kesehatan. Secara global, AI dilaporkan membantu menghemat waktu tenaga kesehatan, meningkatkan kapasitas layanan, mendukung pengambilan keputusan, dan mengurangi beban kerja.
Indonesia memiliki peluang yang sama. Dengan semakin banyak pasien yang mengenal AI dan semakin banyak tenaga kesehatan yang menggunakannya, ekosistem kesehatan Indonesia berpotensi bergerak menuju model yang lebih kolaboratif. AI membantu mengolah informasi, dokter dan tenaga kesehatan memberikan keahlian serta keputusan klinis, dan pasien menjadi lebih aktif.
Inilah gambaran hybrid care team yang mulai muncul dalam layanan kesehatan masa depan. Pada akhirnya, masa depan AI dalam kesehatan Indonesia bukan tentang AI menggantikan dokter, melainkan tentang bagaimana AI, tenaga kesehatan, dan pasien dapat bekerja bersama untuk menciptakan layanan yang lebih efektif, terinformasi, aman, dan berpusat pada manusia.