INDUSTRY.co.id - Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengklaim perekonomian Indonesia mencatatkan kinerja yang kuat di tengah tekanan global akibat konflik geopolitik, perang dagang, dan gangguan rantai pasok internasional. Pemerintah mencatat realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp1.931 triliun dengan penciptaan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja, sementara pertumbuhan ekonomi pada semester pertama 2026 disebut menjadi yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2026, Prabowo mengatakan ketidakpastian global tidak menghalangi Indonesia untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan investasi.
“Kita mengetahui dunia sedang menghadapi konflik geopolitik, perang dagang, perang terbuka di Eropa, di Timur Tengah, dan berbagai tempat lain di dunia. Seluruh dunia mengalami gangguan rantai pasok dan tekanan ekonomi. Dalam keadaan seperti ini, Indonesia harus semakin mampu berdiri di atas kaki kita sendiri,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, capaian investasi tersebut mencerminkan kepercayaan dunia usaha terhadap perekonomian Indonesia. Ia menyebut realisasi investasi pada semester pertama 2026 telah mencapai Rp1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.
Prabowo juga menyoroti pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 dan 5,45 persen pada semester pertama 2026.
“Ini adalah pertumbuhan kuartal pertama dan pertumbuhan semester pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir,” ujarnya.
Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan investasi bukanlah tujuan akhir pemerintah.
“Pertumbuhan dan investasi bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan rakyat,” kata dia.
Ia menekankan bahwa setiap investasi harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan perbaikan kualitas hidup.
“Setiap rupiah investasi harus menciptakan pekerjaan. Setiap kebijakan harus memperbaiki kehidupan rakyat. Itulah orientasi Pemerintah yang saya pimpin,” ujar Prabowo.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menyoroti sektor pertanian sebagai salah satu fokus utama pemerintah. Menurutnya, ketika pemerintahannya mulai bekerja, petani masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kesulitan memperoleh pupuk, harga gabah yang rendah saat panen, hingga regulasi yang dinilai berbelit-belit.
Prabowo mengatakan pemerintah memilih fokus pada penyelesaian masalah tersebut melalui penyederhanaan birokrasi dan kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat.
"Birokrasi tidak boleh menghambat keputusan yang baik. Negara harus memudahkan rakyat, bukan mempersulit," tegasnya.