INDUSTRY.co.id - Jakarta, Indonesia kembali menjejakkan kaki di pasar pangan internasional. Setelah memastikan ketersediaan beras nasional berada dalam kondisi aman, pemerintah bersiap mengirim 1.000 ton beras premium ke Malaysia sebagai tahap awal kerja sama perdagangan yang berpotensi berkembang hingga ratusan ribu ton.
Pengiriman perdana tersebut diarahkan ke Sarawak melalui jalur Entikong, Kalimantan Barat. Wilayah Sarawak sendiri diperkirakan membutuhkan sekitar 200 ribu ton beras per tahun, sementara kebutuhan Malaysia secara keseluruhan berada di kisaran 1,5 juta hingga 1,7 juta ton per tahun.
General Manager Beras Corporation Malaysia, Jumaat bin Ibrahim, mengatakan pengiriman 1.000 ton tersebut akan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan beras Indonesia ke pasar Malaysia, khususnya Sarawak.
“Untuk di Sarawak kita membutuhkan lebih kurang 200 ribu ton untuk setahun. Ini akan kita usahakan dengan cara promosi, di mana 1.000 ton yang pertama itu sebagai langkah promosi kita untuk mempromosikan beras-beras Indonesia ke Sarawak, khasnya ke Malaysia.”
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ekspor tersebut dimungkinkan karena produksi beras nasional saat ini berada dalam kondisi surplus. Ia menyebut stok beras pemerintah telah mencapai sekitar 5,2 juta ton, sementara kapasitas penyimpanan nasional juga terus diperkuat.
“Ini bukan lagi wacana, bukan lagi rencana. Pekan ini Indonesia resmi ekspor beras ke Malaysia,” kata Amran.
Menurut dia, produksi beras pada 2026 dibandingkan 2025 menunjukkan surplus sekitar 8 juta ton. Kondisi tersebut, kata Amran, membuat Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mulai membuka ruang ekspor.
“Kebutuhan rakyat Indonesia terjamin 100 persen, dan kini saatnya pertanian Indonesia bicara di kancah internasional.”
Amran menuturkan, sebelum membuka kembali pasar ekspor, Indonesia terlebih dahulu memastikan kebutuhan domestik aman. Indonesia sebelumnya juga pernah mengirim beras ke sejumlah negara, termasuk Palestina dan Mesir.
Kini, Malaysia menjadi salah satu pasar berikutnya.
Dalam pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Pertanian Malaysia, Amran menyebut telah mendapat respons positif terkait rencana peningkatan ekspor beras Indonesia.
“Kalau Datuk setuju, oke, saya setuju dari sini. Pelepasan kapan saja mau diambil,” ujar Amran saat menceritakan percakapannya dengan Menteri Pertanian Malaysia.
Harga yang disepakati untuk tahap awal disebut berada di kisaran RM3,9 per kilogram, atau sekitar Rp17 ribu per kilogram. Jika kebutuhan Sarawak yang mencapai 200 ribu ton per tahun dapat dipenuhi melalui kerja sama tersebut, potensi nilai perdagangannya diperkirakan mencapai sekitar Rp3,39 triliun.
Bagi Amran, langkah ini bukan semata soal perdagangan. Ekspor beras menjadi penanda bahwa hasil produksi petani Indonesia mulai memiliki ruang lebih luas di pasar regional.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada petani dan masyarakat yang dinilai turut menopang keberhasilan sektor pangan nasional.
“Ini bukan kerja saya. Ini kerja kita bersama sebagai anak bangsa.”
Amran juga menekankan pentingnya kritik dan dukungan dalam perjalanan menuju ketahanan pangan.
“Kalau mau sukses, kalau mau berhasil, harus mau menerima kritikan dan juga mau menerima apresiasi,” katanya.
Pengiriman beras ke Malaysia ini sekaligus menjadi babak baru hubungan perdagangan pangan kedua negara. Dari sawah-sawah Indonesia, beras yang sebelumnya diarahkan untuk memastikan kebutuhan domestik kini mulai bergerak menembus pasar regional.
Pemerintah berharap ekspor perdana ini berjalan lancar dan menjadi pintu pembuka bagi kerja sama yang lebih besar, sekaligus memperkuat posisi petani Indonesia di pasar internasional.