INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pasar properti industri di Greater Jakarta masih menunjukkan daya tahan pada kuartal II 2026 di tengah melambatnya aktivitas transaksi dan sikap investor yang semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi. Laporan terbaru Colliers Indonesia mencatat serapan lahan industri mencapai 36,74 hektare sepanjang periode April–Juni 2026.
Colliers menilai perlambatan transaksi bukan mencerminkan melemahnya fundamental pasar, melainkan perubahan pola investasi. Investor masih aktif menjajaki peluang di Indonesia, namun kini membutuhkan waktu lebih panjang sebelum merealisasikan investasi karena lebih mengutamakan kepastian operasional, kesiapan infrastruktur, dan prospek bisnis jangka panjang.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan pasar industri saat ini tengah memasuki fase baru yang menitikberatkan kualitas investasi dibandingkan sekadar mengejar volume transaksi.
"Pasar industri Greater Jakarta bukan sedang mengalami perlambatan secara menyeluruh. Sebaliknya, pasar memasuki fase investasi baru, di mana perusahaan semakin mengutamakan kepastian operasional, kesiapan infrastruktur, dan keberlanjutan bisnis jangka panjang sebelum memutuskan untuk berekspansi. Saat ini, fokus pasar bukan lagi pada besarnya volume transaksi, melainkan pada kualitas keputusan investasinya," ujar Ferry Salanto.
Menurut Colliers, perubahan preferensi tersebut membuat investor semakin selektif dengan mempertimbangkan kepastian regulasi, efisiensi operasional, serta kesiapan infrastruktur sebelum menanamkan modal. Meski demikian, Indonesia dinilai masih menjadi tujuan investasi yang menarik, terutama bagi sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
Permintaan lahan industri masih ditopang oleh ekspansi pusat data, logistik, industri kendaraan listrik beserta rantai pasoknya, elektronik, fast moving consumer goods (FMCG), layanan kesehatan, serta perusahaan yang telah lebih dahulu beroperasi di kawasan industri. Sektor-sektor tersebut dinilai sejalan dengan tren digitalisasi, pertumbuhan konsumsi domestik, pengembangan industri hilir, dan penguatan rantai pasok nasional.
Di sisi pasokan, Colliers mencatat total stok lahan industri di Greater Jakarta tetap berada di kisaran 18.500 hektare pada kuartal II 2026. Tidak adanya kawasan industri baru yang selesai dibangun membuat para pengembang lebih memilih mengoptimalkan bank lahan yang telah dimiliki melalui pengembangan bertahap, penyesuaian masterplan, serta alih fungsi lahan secara selektif sesuai kebutuhan pasar.
Colliers juga menilai kesiapan infrastruktur kini menjadi faktor pembeda utama di tengah bergesernya permintaan menuju industri berbasis teknologi dan bernilai tambah tinggi. Kawasan industri yang memiliki pasokan utilitas andal, kapasitas listrik memadai, konektivitas yang kuat, serta kepastian operasional dinilai mampu mempertahankan harga sekaligus menarik minat investor, khususnya dari sektor pusat data dan manufaktur berteknologi tinggi.
Ke depan, prospek pasar properti industri Greater Jakarta diperkirakan tetap positif seiring besarnya pasar domestik Indonesia, perluasan infrastruktur digital, dan berlanjutnya program hilirisasi industri. Namun, Colliers mengingatkan bahwa realisasi investasi akan sangat bergantung pada kepastian regulasi, percepatan perizinan, pembangunan infrastruktur, serta kesiapan utilitas di kawasan industri.