INDUSTRY.co.id - Jakarta, Industri makanan dan minuman nasional, khususnya sektor minuman kemasan, terus menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Sebagai salah satu kontributor utama sektor manufaktur dan penopang konsumsi domestik, industri ini dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan meski menghadapi tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan biaya produksi, hingga belum pulihnya daya beli masyarakat secara optimal.

Data Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mencatat, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Industri pengolahan tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan kontribusi 19,07 persen. Dari angka tersebut, subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional, memperkuat posisinya sebagai motor penggerak manufaktur nasional.

Meski secara makro menunjukkan kinerja yang relatif solid, kondisi di tingkat industri masih menghadapi sejumlah tantangan. Peneliti Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, menilai dinamika pasar saat ini memerlukan perhatian serius, terutama terkait kemampuan konsumsi masyarakat.

“Momentum Ramadan, Lebaran, mobilitas masyarakat, serta konsumsi domestik masih menjadi penggerak utama permintaan industri minuman ringan. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural antara lain; pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.900 per dolar AS, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri," ujarnya.

Tekanan tersebut mulai tercermin dalam performa industri sepanjang 2025. Data industri menunjukkan sektor manufaktur minuman mencatat penurunan volume pertumbuhan total sebesar 0,5 persen. Penurunan paling signifikan terjadi pada kategori minuman non-air (excluding water) yang terkontraksi hingga 11,6 persen.

Di sisi lain, kategori air minum dalam kemasan (AMDK) masih mampu tumbuh 4,4 persen. Namun secara keseluruhan, total pertumbuhan nilai industri mengalami kontraksi sebesar 4,3 persen. Kondisi ini mengindikasikan meningkatnya tekanan terhadap margin produsen sekaligus perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin selektif dalam berbelanja.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, menilai industri belum sepenuhnya kembali ke tingkat pertumbuhan ideal seperti sebelum pandemi.

“ASRIM menilai bahwa meskipun industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen, pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi yang sebelumnya dapat mencapai kisaran 7–9 persen. Sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadan-Lebaran, sementara pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat," ungkapnya.

Selain tantangan permintaan pasar, pelaku usaha juga menghadapi tekanan biaya produksi yang meningkat akibat tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku dan kemasan. Fluktuasi nilai tukar rupiah turut memperbesar beban operasional industri.

Data inflasi per April 2026 menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,42 persen.

Merespons kondisi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim usaha manufaktur tetap kondusif. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan struktur industri, percepatan hilirisasi, serta peningkatan daya saing sektor makanan dan minuman.

Perwakilan Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, menyampaikan “Sektor industri pengolahan berkontribusi sekitar 19% terhadap PDB nasional pada Triwulan I-2026, dengan industri makanan-minuman sebagai subsektor utama penopang pertumbuhan manufaktur nasional. Kami memahami bahwa tekanan ekonomi global juga memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman untuk terus tumbuh. Untuk itu, pemerintah terus berkomitmen mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya siang sektor mamin. Kami juga akan terus memperkuat sinergi bersama pelaku usaha dalam menjaga keberlanjutan industri dan penciptaan lapangan kerja di tengah dinamika ekonomi global.”

ASRIM menyambut positif komitmen pemerintah tersebut dan berharap implementasi kebijakan dapat dilakukan secara adaptif tanpa menambah beban bagi dunia usaha. Menurut asosiasi, kepastian regulasi dan iklim usaha yang sehat menjadi faktor penting untuk menjaga investasi serta keberlangsungan penyerapan tenaga kerja.

Sebagai penutup, Triyono Prijosoesilo menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah dan pelaku industri guna memperkuat ketahanan sektor minuman kemasan nasional.

“Industri minuman kemasan melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka, namun membutuhkan penguatan berkelanjutan agar lebih resilient ke depan. Kami mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk penguatan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha. ASRIM mengedepankan dialog konstruktif bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi berbagai kebijakan industri, termasuk cukai dan bea masuk, demi menjaga stabilitas industri, keberlanjutan investasi, dan perlindungan tenaga kerja nasional," pungkasnya.