INDUSTRY.co.id - Jakarta - Colliers mengungkapkan bahwa investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) serta meningkatnya tekanan terhadap sistem energi tengah membentuk ulang strategi bisnis, tenaga kerja, dan sektor properti komersial di kawasan Asia Pasifik. Temuan tersebut tercantum dalam riset global terbaru perusahaan yang dirilis pada 21 Mei 2026.
Dalam laporan bertajuk Building Resilience: 5 Megatrends Redefining Corporate Real Estate, Colliers menilai konvergensi perubahan teknologi, demografi, dan infrastruktur mendorong perusahaan untuk meninjau ulang strategi pengelolaan talenta, desain tempat kerja, rantai pasok, hingga perencanaan risiko jangka panjang.
Asia Pasifik diperkirakan akan menyumbang sekitar 60% pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa dekade mendatang. Kondisi tersebut membuat kawasan ini dipandang akan memainkan peran semakin penting dalam strategi lokasi bisnis, investasi, dan pengembangan talenta perusahaan global.
Laporan tersebut mengidentifikasi lima megatren utama yang saling berkaitan dan memengaruhi strategi real estate korporasi. Pertama, berkembangnya tenaga kerja berbasis AI, di mana integrasi otomatisasi, analitik, dan kecerdasan buatan mengubah cara perusahaan beroperasi, mengambil keputusan, dan menentukan kebutuhan properti mereka. Asia Pasifik dinilai menjadi pusat penting bagi investasi infrastruktur digital sekaligus sumber talenta teknologi yang berkembang pesat.
Kedua, perubahan demografi besar-besaran. Penuaan populasi di sejumlah negara dan pertumbuhan ekonomi muda di negara lain membentuk ulang dinamika tenaga kerja serta memengaruhi lokasi perusahaan mencari talenta. Banyak organisasi kini melihat Asia Pasifik sebagai kawasan yang mampu menyeimbangkan pasar matang dengan pusat talenta berpertumbuhan tinggi.
Ketiga, isu kelangkaan dan keamanan energi. Permintaan energi dari teknologi berdaya tinggi, ditambah keterbatasan infrastruktur, menjadikan ketersediaan energi sebagai faktor krusial dalam keputusan investasi dan pemilihan lokasi bisnis. Tekanan ini semakin besar di Asia Pasifik seiring urbanisasi cepat dan pertumbuhan pusat data.
Keempat, meningkatnya risiko iklim. Frekuensi cuaca ekstrem yang semakin tinggi dan perubahan regulasi mendorong perusahaan mengadopsi pendekatan baru untuk membangun ketahanan bisnis. Banyak pasar di Asia Pasifik disebut memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap gangguan terkait perubahan iklim.
Kelima, perubahan tatanan global. Pergeseran hubungan perdagangan, rantai pasok, dan pola pertumbuhan ekonomi membuat perusahaan mulai mengevaluasi ulang model bisnis tradisional dan memperluas ekspansi ke pasar baru. Asia Pasifik diperkirakan akan memegang porsi lebih besar dalam aktivitas ekonomi global serta menjadi pusat diversifikasi perdagangan, investasi, dan rantai pasok.
Head of Enterprise Clients Asia Colliers, Amit Oberoi mengatakan berbagai megatren tersebut menunjukkan perlunya perusahaan membangun strategi bisnis yang lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian.
“Perubahan teknologi, pergeseran demografi, dan tekanan infrastruktur sedang membentuk ulang cara klien kami mengambil keputusan terkait real estate. Organisasi yang mengambil langkah proaktif akan lebih siap menghadapi disrupsi dan membuka nilai jangka panjang,” ujar Oberoi.
Ia menambahkan dinamika Asia Pasifik menunjukkan bahwa inovasi dan persaingan global kini tidak lagi terpusat di satu kawasan tertentu.
“Kawasan ini akan menjadi faktor yang semakin penting dalam strategi lokasi bisnis global, baik sebagai pusat pertumbuhan masa depan, mata rantai pasok vital, maupun sumber tenaga kerja terampil,” katanya.
Meski tantangan global masih berlanjut, riset tersebut menilai peluang tetap terbuka bagi perusahaan yang mampu beradaptasi. Investasi pada fleksibilitas bisnis, penguatan kemampuan tenaga kerja, dan penerapan ketahanan dalam proses pengambilan keputusan disebut menjadi kunci mempertahankan pertumbuhan di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompleks.
Dalam laporan itu, perwakilan Colliers lainnya, Mr Davis menyebut penelitian tersebut diharapkan menjadi peringatan bagi perusahaan untuk segera bertindak.
“Kecepatan perubahan membuat organisasi harus bergerak sekarang untuk memperkuat ketahanan dan mempersiapkan masa depan. Mereka yang melakukannya akan lebih siap untuk beradaptasi dan berkembang,” ujarnya.