INDUSTRY.co.id - Jakarta— PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. mengambil langkah besar dalam transformasi industri hijau dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terbesar di sektor semen di Indonesia. Proyek ini memiliki total kapasitas mencapai 71,9 MW yang tersebar di tiga kompleks pabrik utama perusahaan, yakni Citeureup, Cirebon, dan Tarjun.
Langkah tersebut menegaskan posisi Indocement sebagai salah satu pelopor dekarbonisasi di sektor industri berat atau hard-to-abate sector. Inisiatif ini juga menjadi bukti bahwa transisi energi di sektor manufaktur tidak lagi sekadar wacana, melainkan telah berjalan dalam skala industri yang nyata dan terukur.
Di tengah tekanan global terhadap industri semen untuk menekan emisi karbon, proyek PLTS ini dinilai menjadi contoh bahwa dekarbonisasi dapat dilakukan tanpa mengorbankan efisiensi maupun daya saing industri. Kehadiran proyek ini sekaligus mendukung target pemerintah Indonesia menuju net zero emission 2060 serta percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan di dalam negeri.
Instalasi PLTS tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan lebih dari 108 juta kWh energi bersih setiap tahun. Selain itu, proyek ini diperkirakan dapat menurunkan emisi karbon lebih dari 85 ribu ton CO₂ per tahun. Dampak lingkungannya disebut setara dengan penanaman sekitar 1,4 juta pohon setiap tahun, menjadikannya salah satu inisiatif dekarbonisasi industri terbesar di Indonesia saat ini.
Bagi Indocement, transformasi ini tidak hanya sebatas proyek energi terbarukan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mengurangi jejak karbon operasional secara menyeluruh. Strategi tersebut dilakukan melalui pemanfaatan bahan bakar alternatif seperti refuse-derived fuel (RDF), optimalisasi bahan baku alternatif untuk menekan emisi proses produksi, pengembangan roadmap energi rendah karbon, hingga inovasi produk semen yang lebih ramah lingkungan.
Sebagai bagian dari grup global Heidelberg Materials, Indocement juga membawa standar keberlanjutan kelas dunia ke dalam operasionalnya di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memastikan transformasi yang dijalankan tidak hanya relevan di tingkat lokal, tetapi juga mampu bersaing secara global.
Direktur Indocement, Holger Mørch, menegaskan bahwa transformasi industri merupakan sebuah keharusan bagi sektor semen saat ini.
“Industri semen tidak punya pilihan selain bertransformasi. Di Indocement, kami memilih untuk memimpinnya. Pembangunan PLTS terbesar di sektor ini adalah bukti bahwa dekarbonisasi bisa dilakukan secara nyata, dalam skala besar, terukur, dan terintegrasi dengan kebutuhan operasional industri,” ujar Holger.
Dalam merealisasikan proyek tersebut, Indocement menggandeng perusahaan penyedia solusi energi terbarukan, SUN Energy, sebagai mitra strategis. Melalui pendekatan sustainability-as-a-service, SUN menghadirkan solusi energi yang dirancang tidak hanya sebagai sumber energi alternatif, tetapi juga menjadi bagian dari sistem operasional industri masa depan.
Director of Power SUN, Jefferson Kuesar, mengatakan bahwa peran perusahaan tidak hanya terbatas sebagai penyedia PLTS, melainkan sebagai mitra dekarbonisasi bagi industri nasional.
“Bagi kami, peran SUN bukan hanya sebagai penyedia PLTS, tetapi sebagai mitra dekarbonisasi bagi industri. Kami memastikan solusi yang kami hadirkan adaptif terhadap kebutuhan operasional, tetap andal dalam jangka panjang, dan relevan secara bisnis. Kolaborasi dengan Indocement ini menunjukkan bahwa transisi energi bisa dijalankan tanpa mengganggu produktivitas, bahkan justru memperkuat daya saing industri,” kata Jefferson.
Kolaborasi antara Indocement dan SUN Energy ini menandai pergeseran penting dalam dunia industri, di mana agenda keberlanjutan kini tidak lagi menjadi program tambahan, melainkan telah menjadi strategi inti dalam operasional perusahaan. Dengan skala proyek yang besar dan pendekatan yang terintegrasi, pembangunan PLTS ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi menuju industri rendah karbon di Indonesia sedang berlangsung secara nyata dan berkelanjutan.