INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) memutuskan tidak membagikan dividen kepada pemegang saham pada tahun ini meski kinerja operasional perseroan menunjukkan pertumbuhan signifikan pascamerger XL Axiata dan Smartfren. Keputusan tersebut diambil lantaran perusahaan masih membukukan rugi bersih secara laporan keuangan akibat dampak integrasi merger.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (20/5), pemegang saham menyetujui laporan tahunan perseroan, penunjukan auditor eksternal untuk tahun buku 2026, serta penetapan remunerasi direksi dan komisaris.

Presiden Direktur & CEO XLSMART Telecom Sejahtera Rajeev Sethi mengatakan RUPST telah menyetujui dan menerima laporan tahunan perseroan tahun buku 2025, termasuk laporan pengawasan dewan komisaris serta pengesahan laporan keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto dan Rekan yang merupakan anggota jaringan global PwC.

“RUPST juga memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya atau acquit et de charge kepada Direksi dan Dewan Komisaris atas tindakan pengurusan dan pengawasan selama tahun buku 2025,” ujar Rajeev dalam keterangan resmi, Rabu (20/5/2026).

Selain itu, pemegang saham juga menyetujui penunjukan kembali Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto dan Rekan dengan Akuntan Publik Lukmanul Arsyad sebagai auditor eksternal untuk mengaudit laporan keuangan tahun buku 2026.

Di tengah keputusan absennya dividen, kinerja operasional XLSMART justru mencatat pertumbuhan agresif sepanjang 2025. Perseroan membukukan pendapatan Rp42,49 triliun atau tumbuh 23% dibanding tahun sebelumnya. EBITDA yang dinormalisasi mencapai Rp20,14 triliun, naik 13%, sedangkan laba bersih yang dinormalisasi melonjak 63% menjadi Rp3 triliun.

Manajemen menyebut pertumbuhan tersebut mulai ditopang realisasi sinergi merger yang berdampak pada efisiensi operasional, optimalisasi jaringan, dan peningkatan kualitas layanan pelanggan.

Namun demikian, Direktur & Chief Financial Officer XLSmart, Antony Susilo menjelaskan perseroan belum dapat membagikan dividen karena secara pembukuan perusahaan masih mencatatkan rugi bersih.

“Di tahun 2025, XLSmart di bukunya mencatatkan kerugian. Makanya tahun 2026 ini, untuk RUPST yang kita lakukan, kita tidak bisa memberikan dividen,” ujar Antony.

Menurut dia, kerugian tersebut bukan berasal dari melemahnya bisnis inti, melainkan efek akuntansi dari proses merger antara XL dan Smartfren. Beban integrasi dan percepatan depresiasi aset jaringan menjadi faktor utama yang menekan laba perusahaan.

Antony menjelaskan sejumlah perangkat jaringan milik XL tidak lagi digunakan setelah proses integrasi berlangsung. Akibatnya, nilai aset yang seharusnya disusutkan bertahap dalam beberapa tahun harus dibebankan sekaligus dalam laporan keuangan 2025.

“Angka aset tersebut cukup tinggi mencapai hampir Rp5 triliun. Angka yang besar ini membuat, di atas kertas, perusahaan tampak merugi, meskipun secara operasional kinerjanya sehat,” katanya.

Meski tidak membagikan dividen tahun ini, manajemen mengingatkan bahwa perseroan sebelumnya telah menyalurkan dividen spesial sekitar Rp3 triliun pada periode November–Desember 2025. Dengan demikian, pemegang saham sebenarnya telah menerima distribusi dividen dua kali pada tahun lalu.

Di sisi lain, integrasi merger dinilai berjalan lebih cepat dari target awal. XLSMART mencatat realisasi sinergi mencapai US$252 juta pada periode kuartal II hingga kuartal IV 2025, melampaui ekspektasi perseroan.

Hingga akhir 2025, sekitar 70% site jaringan juga telah terintegrasi. Perseroan menilai proses tersebut menjadi fondasi penting untuk memperkuat kualitas jaringan dan memperluas layanan digital di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat.