INDUSTRY.co.id, Jakarta–Di tengah arus digitalisasi dan kebangkitan kecerdasan buatan (AI), industri data center Indonesia diproyeksikan tumbuh empat kali lipat dalam satu dekade mendatang.
Schneider Electric Indonesia dan komunitas Indonesia Data Center Professionals (IDPRO) menegaskan bahwa infrastruktur lama tidak lagi cukup kuat menahan beban AI, sehingga peralihan ke teknologi liquid cooling dan desain data center berbasis kepadatan tinggi menjadi keharusan strategis, bukan sekadar tren teknologi.
AI dan IoT Pacu IT Load Data Center
Schneider Electric memaparkan bahwa kebutuhan kapasitas data center global diperkirakan melonjak empat kali lipat dari 2023 ke 2033, seiring dengan 50 miliar perangkat IoT yang terhubung pada 2030 dan kebangkitan agentic AI yang bisa mengotomasi 80 persen interaksi layanan pelanggan pada 2029.
Di Indonesia, dengan 230 juta pengguna internet dan 331 juta sambungan seluler pada 2025, proyeksi IT load nasional meningkat dari sekitar 1.717 MW pada 2026 menjadi 4.145 MW pada 2031, dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) sekitar 19,27 persen.
“Data center tidak lagi hanya soal ruang dan koneksi, tapi menjadi jantung ekonomi digital. Kesiapan power, cooling, dan software management menentukan keberlangsungan layanan digital nasional,” kata Ellya Cen, Business Vice President Data Center, Schneider Electric Indonesia, dalam Media Masterclass Liquid Cooling & Next‑Gen Data Center Infrastructure di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
AI Juga Naikkan Beban Energi
AI juga menambah berat konsumsi energi. Schneider Electric memperkirakan beban daya workload AI dan infrastruktur fisik naik dari 4,3 Gigawatt (GW) pada 2023 menjadi 13,5–18 GW pada 2028, dengan porsi AI dalam konsumsi daya data center melonjak dari 8 persen menjadi 15–20 persen.
Workload AI Makin Padat, Risiko Panas Memanas
Workload AI berbeda dari komputasi konvensional karena mengandalkan GPU dan high‑performance computing yang memusatkan beban di racks berkepadatan sangat tinggi. Kepadatan racks AI kini bisa menembus 132 kW, 600 kW, bahkan hingga 1.000 kW per rak, sementara skala GPU dalam satu sistem bisa naik dari 72 menjadi 288 unit, sehingga kebutuhan distribusi daya per rak melonjak dari sekitar 150 kW menjadi 1.000 kW.
“Dengan kepadatan seperti ini, sistem pendingin berbasis udara (air cooling) tradisional mulai menyentuh batasnya. Kalau panas tidak dikelola, risiko thermal throttling, penurunan performa, hingga downtime meningkat drastis,” ujar Ellya Cen.
Menurut Ellya Cen, jika panas tidak dikelola secara optimal, data center berisiko: menurunkan kecepatan proses dan performa komputasi, meningkatkan konsumsi energi karena sistem pendingin bekerja lebih keras, menimbulkan gangguan layanan, kerusakan perangkat, serta penurunan kepercayaan pelanggan.
Liquid Cooling sebagai Tulang Punggung Data Center AI‑Ready.
Di sinilah liquid cooling menjadi kunci utama. Schneider Electric menghadirkan solusi liquid cooling untuk GPU servers dan lingkungan high‑density IT, dengan pendekatan hibrida: pendingin cair untuk beban panas utama dan pendingin udara untuk beban sisa.
Beberapa keunggulan solusi Schneider Electric, menurut Ellya Cen, antara lain: Hybrid flexibility—kombinasi liquid cooling dan air cooling memungkinkan optimasi PUE (Power Usage Effectiveness) dan pengurangan biaya energi; Energy efficiency—desain termal presisi membuat PUE lebih rendah, cocok untuk racks di atas 250 kW; Scalability—sistem modular seperti Coolant Distribution Unit (CDU), manifold, prefabricated pods, dan heat rejection dapat diperluas seiring kebutuhan AI; serta Resiliency—sistem memiliki lapisan cadangan sehingga data center tetap beroperasi stabil, bahkan saat ada perawatan komponen atau lonjakan beban.
Sejak 2018, Schneider Electric sudah mampu mendinginkan beban di atas 400 kW per rak. Akuisisi Motivair pada Februari 2025 memperkuat kapabilitas ini, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun, lebih dari 4 GW kapasitas liquid cooling yang sudah terpasang, serta pengalaman mendinginkan 6 dari 10 superkomputer tercepat di dunia, termasuk 3 teratas.
“Kami juga berkolaborasi dengan NVIDIA dalam reference design GPU GB200 dan GB300, sehingga desain data center AI‑ready sudah terintegrasi dari power ke chip,” kata Ellya Cen.
IDPRO: Indonesia Butuh Desain Data Center yang Lebih Matang
Di sisi lain, Hendra Suryakusuma, Chairman IDPRO (Indonesia Data Center Professionals), menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan desain data center yang lebih matang. Menurut perwakilan IDPRO, pertumbuhan IT load yang masif di Indonesia tidak bisa dijawab hanya dengan menambah jumlah pusat data, tetapi harus diikuti peningkatan kualitas infrastruktur dan kompetensi.
IDPRO memproyeksikan industri data center Indonesia tumbuh pesat, dengan nilai pasar yang diperkirakan naik dari sekitar 2,8 miliar dolar AS pada 2025 menjadi lebih dari 6 miliar dolar AS pada 2031. Di sisi IT load, kapasitas diperkirakan meningkat dari sekitar 1,4–1,7 ribu MW menjadi hampir 4 ribu MW pada awal 2030‑an, dengan CAGR sekitar 19–20 persen.
“Kita tidak boleh hanya sibuk membangun lebih banyak data center, tapi harus menyiapkan desain yang AI‑ready, efisien, dan tahan lama. Dari sisi cooling, liquid cooling sudah bukan opsi jauh, tapi kebutuhan nyata untuk menghadirkan uptime tinggi dan efisiensi energi,” kata Hendra Suryakusuma dalam sesi yang sama.
IDPRO juga menekankan perlunya kolaborasi erat antara pelaku industri, pemerintah, dan lembaga edukasi, agar tenaga kerja data center di Indonesia siap mengelola infrastruktur berbasis liquid cooling dan AI‑driven workload.
Roadmap Inovasi Schneider Electric untuk Indonesia
Schneider Electric Indonesia menegaskan komitmen mendukung Indonesia menuju AI‑ready infrastructure melalui portofolio end‑to‑end power, cooling, racks, software, dan services. Di tingkat global, Schneider Electric digolongkan sebagai pemimpin dalam AI infrastructure, dengan posisi nomor 1 untuk UPS dan Low Voltage, nomor 2 untuk liquid cooling, serta 90 persen ekosistem hyperscale data center dunia yang menggunakan solusi Schneider Electric.
“Di Indonesia, kami memadukan portofolio global dengan kekuatan teknisi lokal bersertifikasi, sehingga pelanggan data center mendapat dukungan yang mendalam, dari konsultasi, desain, commissioning, hingga lifecycle services,” kata Ellya Cen.
Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan global, Schneider Electric menargetkan membantu pelanggan menghemat atau mengalihkan 1.500 Terawatt‑hour (TWh) konsumsi energi dan menghindari 1,5 miliar ton emisi CO₂ kumulatif antara 2018 dan 2030. Beberapa pengakuan global atas kepemimpinan Schneider Electric, misalnya, perusahaan masuk dalam daftar 10 perusahaan energi paling berpengaruh dalam TIME100 Companies 2026 dan dinobatkan nomor 1 dalam kategori Liquid Cooling Companies oleh Data Centre Magazine.
Pesan Bersama: AI Tidak Boleh Menghanguskan Data Center
Baik Schneider Electric maupun IDPRO sepakat bahwa Indonesia memiliki momentum besar untuk menjadi hub data center di Asia Tenggara, tetapi itu bergantung pada kesiapan infrastruktur, regulasi, dan SDM. AI bukan hanya tantangan teknis, tapi juga urusan perencanaan strategis nasional.
“Jika kita ingin menang di era AI, infrastruktur data center harus dirancang dari sekarang: bukan hanya kuat, tapi juga efisien, andal, dan berkelanjutan. Liquid cooling dan desain data center AI‑ready bukan sekadar opsi, tapi jembatan menuju transformasi digital yang berkelanjutan,” kata Ellya Cen, menutup sesi diskusi dengan IDPRO.