INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pembangunan Underpass Bitung di Kabupaten Tangerang, Banten, diproyeksikan menjadi pengungkit kelancaran arus logistik dan mobilitas ekonomi di koridor Pantura Serang–Tangerang yang selama ini kerap mengalami kemacetan parah, terutama di akses menuju Tol Tangerang–Merak dan kawasan industri sekitar Bitung.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) saat ini tengah mempercepat penyelesaian proyek underpass yang berada di ruas nasional Batas Kabupaten Serang/Tangerang–Batas Kota Tangerang tersebut. Infrastruktur ini dinilai strategis karena menjadi jalur utama distribusi barang dan pergerakan kendaraan menuju kawasan industri serta pergudangan di wilayah Tangerang dan sekitarnya.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan pembangunan underpass merupakan solusi jangka panjang untuk mengurai kepadatan lalu lintas sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan di kawasan strategis nasional.
“Diharapkan juga dapat memperlancar mobilitas perekonomian masyarakat yang melewati jalan nasional,” kata Dody.
Selama ini kawasan Bitung dikenal sebagai salah satu titik perlambatan kendaraan di jalur Pantura akibat pertemuan arus lalu lintas dari arah Serang, Jakarta, dan Curug. Kepadatan semakin tinggi pada jam sibuk pagi dan sore hari, terutama antrean kendaraan menuju akses Tol Tangerang–Merak.
Underpass Bitung dibangun di Jalan Pantura pada STA 0+125 hingga STA 0+475 dengan panjang mencapai 350 meter. Konstruksi menggunakan desain single cell dua lajur satu arah untuk arus kendaraan dari Tangerang menuju Serang.
Perubahan desain dari konsep awal double cell menjadi single cell dilakukan untuk menjaga keamanan utilitas strategis nasional berupa jalur pipa gas milik PT Pertamina Gas yang berada di sekitar lokasi proyek. Penyesuaian tersebut juga diklaim meningkatkan efektivitas pelaksanaan konstruksi.
Selain pembangunan terowongan utama, Kementerian PU melalui BPJN Banten juga melakukan pelebaran jalan di sejumlah titik guna meningkatkan kapasitas lalu lintas dan mengurangi bottleneck kendaraan.
Pada segmen pertama setelah underpass menuju entry ramp Tol Bitung sepanjang 150 meter, jalan diperlebar dari dua lajur menjadi tiga lajur untuk arah Serang menuju Tangerang. Kemudian pada segmen kedua di bawah kolong Tol Tangerang–Merak sepanjang 125 meter dilakukan pelebaran dari satu lajur menjadi dua lajur. Sementara pada segmen ketiga setelah kolong tol hingga taper exit ramp Tol Bitung sepanjang 200 meter, jalan diperlebar dari dua menjadi tiga lajur termasuk taper kendaraan.
Pemerintah berharap penataan arus lalu lintas tersebut dapat meningkatkan kapasitas jalan sekaligus mempercepat pergerakan kendaraan logistik yang melintasi kawasan industri Tangerang.
Hingga kini progres konstruksi Underpass Bitung telah mencapai 27,32% dan ditargetkan rampung pada 2027. Proyek tersebut telah didukung berbagai dokumen teknis mulai dari feasibility study sejak 2018 yang direviu kembali pada 2024, dokumen lingkungan, Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin), hingga review Detail Engineering Design (DED).
Untuk mendukung pembangunan proyek, dibutuhkan lahan seluas 11.257 meter persegi dengan progres pembebasan lahan mencapai 9.094 meter persegi. Adapun sisa lahan milik PT Pertamina Gas seluas 2.163 meter persegi di sekitar lokasi underpass disebut telah memperoleh izin prinsip.
Selama masa konstruksi berlangsung, masyarakat diimbau mengantisipasi potensi kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi proyek serta mematuhi rambu dan arahan petugas di lapangan.