INDUSTRY.co.id - JAKARTA — PT Prudential Life Assurance mempertegas komitmennya dalam memperluas literasi dan inklusi keuangan nasional dengan menggandeng Otoritas Jasa Keuangan melalui program Pekan Literasi Keuangan Nasional bertema “Gen Z Cerdas Financial”. Program ini menyasar lebih dari 300 generasi muda untuk memperkuat pemahaman tentang pengelolaan keuangan, proteksi diri, dan kesiapan menghadapi risiko finansial di tengah dinamika ekonomi digital.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya industri jasa keuangan untuk memperkuat fondasi finansial generasi muda yang kini menghadapi tantangan konsumsi digital, tren investasi instan, hingga maraknya pinjaman online ilegal. Prudential melihat bahwa akses ke layanan keuangan harus diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan secara sehat agar inklusi keuangan tidak hanya tumbuh secara kuantitatif, tetapi juga berkualitas.
Direktur sekaligus Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, Karin Zulkarnaen, menegaskan kolaborasi dengan regulator menjadi bagian penting dalam memperluas edukasi keuangan sejak dini. “Prudential Indonesia berkomitmen untuk mendukung edukasi keuangan kepada generasi muda bersama dengan OJK,” kata Karin saat membuka kegiatan Pekan Literasi Keuangan Nasional.
Dari sisi regulator, Asisten Direktur Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Grani Ayuningtyas Harmani, mengingatkan bahwa peningkatan akses terhadap produk keuangan harus dibarengi pemahaman yang memadai atas manfaat dan risikonya.
“Peningkatan akses keuangan harus dibarengi dengan pemahaman masyarakat terhadap manfaat dan risiko produk keuangan. Generasi muda perlu semakin cermat mengenali legalitas lembaga keuangan dan tidak mudah tergiur tawaran keuntungan instan maupun pinjaman tanpa syarat yang jelas,” ujar Grani.
Menurut OJK, kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi strategi penting untuk memperluas jangkauan edukasi keuangan nasional, khususnya bagi generasi muda yang akan menjadi penentu arah ekonomi Indonesia ke depan.
Dalam sesi edukasi, pemerhati keuangan Sufintri Rahayu menyoroti fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang dinilai menjadi salah satu pemicu perilaku konsumtif di kalangan Gen Z. Ia menilai kemampuan mengelola keuangan tidak sekadar soal mencatat pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga mengendalikan gaya hidup.
“Gen Z perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Pengelolaan keuangan yang sehat dimulai dari kebiasaan sederhana seperti menabung secara konsisten, memiliki proteksi, dan berinvestasi secara disiplin agar masa depan finansial lebih aman,” jelas Sufintri.
Sementara itu, Head of Digital Marketing & Partnership Prudential Indonesia, Albertus Andre, menekankan pentingnya proteksi sebagai fondasi utama dalam perencanaan keuangan. Menurut dia, masih banyak anak muda yang belum menempatkan asuransi sebagai prioritas, padahal risiko kesehatan atau kondisi tak terduga bisa mengganggu seluruh rencana finansial.
“Proteksi adalah fondasi penting sebelum seseorang mulai fokus pada pengembangan aset dan investasi,” ujar Albertus.
Prudential menilai edukasi keuangan yang komprehensif perlu mencakup pemahaman tentang budgeting, dana darurat, investasi sehat, hingga manajemen risiko. Perusahaan juga mendorong pemanfaatan layanan digital agar akses terhadap perlindungan finansial semakin mudah dan inklusif.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Salah satu peserta, Muhammad Fawwaz Wijaya, mengaku memperoleh perspektif baru dalam mengelola keuangan pribadi.
“Saya jadi lebih memahami pentingnya mengatur keuangan sejak dini, mulai menabung, membangun dana darurat, hingga lebih berhati-hati terhadap penggunaan paylater dan pinjaman online,” ujarnya.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Billy Mambrasar yang menilai peningkatan pemahaman finansial sejak muda menjadi bekal penting bagi generasi penerus untuk menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Menurutnya, literasi keuangan bukan lagi kebutuhan tambahan, melainkan kompetensi dasar yang harus dimiliki generasi produktif di era digital.