INDUSTRY.co.id - Jakarta – Pengembang kawasan industri PT Jababeka Tbk (KIJA) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 1,192 triliun pada Kuartal I 2026. Angka ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 1,291 triliun.
Meski pendapatan mengalami penurunan, bisnis infrastruktur perseroan justru menunjukkan pertumbuhan positif dan semakin menjadi penopang utama pendapatan berulang perusahaan.
Corporate Secretary PT Jababeka Tbk Muljadi Suganda mengatakan, pelemahan pendapatan terutama berasal dari penjualan tanah matang pada Pilar Land Development & Property.
“Penurunan ini terutama berasal dari penjualan tanah matang yang tercatat sebesar Rp 433,9 miliar dibandingkan Rp 638,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Muljadi dalam keterangannya di laman Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, dikutip Kamis (7/5/2026).
Pada Kuartal I 2026, pendapatan dari Pilar Land Development & Property tercatat sebesar Rp 507,1 miliar, turun dibandingkan Rp 690,1 miliar pada Kuartal I 2025.
Penurunan penjualan lahan industri terutama terjadi di kawasan Cikarang dan Kendal. Namun, perseroan menegaskan kondisi tersebut lebih dipengaruhi perbedaan waktu pengakuan pendapatan.
Di tengah penurunan itu, penjualan tanah dan bangunan pabrik standar justru melonjak menjadi Rp 32,5 miliar dari sebelumnya Rp 9,3 miliar. Sementara penjualan rumah dan tanah juga naik menjadi Rp 21,8 miliar dibandingkan Rp 13,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini dinilai mencerminkan permintaan properti industri yang masih tetap sehat.
Di sisi lain, Pilar Infrastruktur menjadi motor pertumbuhan baru bagi Jababeka. Pendapatan segmen ini naik 15 persen menjadi Rp 654,7 miliar pada Kuartal I 2026, dibandingkan Rp 568,3 miliar pada Kuartal I 2025.
Kenaikan terutama ditopang segmen ketenagalistrikan yang tumbuh menjadi Rp 418,5 miliar dari Rp 384,2 miliar. Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya konsumsi listrik tenant di kawasan Kendal dan Cikarang.
Selain itu, pendapatan dari jasa dan pemeliharaan seperti air, pengolahan air limbah, hingga pengelolaan kawasan juga meningkat signifikan menjadi Rp 173,3 miliar dari Rp 116,9 miliar.
Perseroan menyebut kenaikan tersebut mencerminkan aktivitas tenant yang semakin tinggi, khususnya di Kendal.
Sementara itu, pendapatan dari bisnis dry port tercatat sebesar Rp 57,2 miliar, sedikit turun dibandingkan Rp 62,6 miliar pada Kuartal I 2025.
Dengan capaian tersebut, kontribusi pendapatan berulang dari Pilar Infrastruktur kini mencapai sekitar 55 persen dari total pendapatan perseroan, naik dibandingkan 44 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Hal ini menunjukkan transformasi model bisnis Jababeka menuju sumber pendapatan yang lebih stabil dan berkelanjutan di tengah fluktuasi penjualan lahan industri.
Untuk kinerja profitabilitas, laba kotor konsolidasi tercatat sebesar Rp 432,2 miliar pada Kuartal I 2026, turun dibandingkan Rp 540,8 miliar pada Kuartal I 2025.
Margin laba kotor juga turun menjadi 36 persen dari sebelumnya 42 persen.
Penurunan margin terjadi seiring berkurangnya kontribusi penjualan lahan industri yang memiliki margin lebih tinggi, serta meningkatnya porsi bisnis infrastruktur yang cenderung memberikan pendapatan stabil namun dengan margin lebih rendah.
Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp 164,0 miliar pada Kuartal I 2026, turun dibandingkan Rp 200,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan laba bersih terutama dipicu melemahnya pendapatan dan laba kotor perusahaan.