INDUSTRY.co.id - KENDAL — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong arus investasi yang masuk ke wilayahnya tidak hanya berorientasi pada ekspansi bisnis, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan investor yang beroperasi di Jawa Tengah harus memprioritaskan pekerja lokal seiring kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dinilai semakin kompetitif dan mampu bersaing di level global.
Pesan itu disampaikan Luthfi saat meninjau fasilitas produksi PT Borine Technology Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Rabu (6/5). Dalam kunjungan tersebut, ia melihat langsung aktivitas produksi dan berdiskusi dengan manajemen perusahaan terkait pengembangan investasi serta kontribusi terhadap ekonomi daerah.
Dari hasil peninjauan, Luthfi menilai kualitas produk yang dihasilkan tenaga kerja lokal menunjukkan daya saing yang kuat. Menurutnya, produktivitas pekerja di Kendal sudah berada pada level yang setara dengan pekerja di negara asal investor, yakni Tiongkok.
“Artinya, selama kita mempunyai niat untuk bekerja, khususnya di wilayah Jawa Tengah, kita mampu bersaing dengan negara lain,” ujar Luthfi usai peninjauan bersama Bupati Kendal, Dyah Kartika Purnamasari.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa Jawa Tengah tengah memperkuat posisi sebagai basis manufaktur yang kompetitif di tengah meningkatnya relokasi industri global ke Asia Tenggara. Kompetensi tenaga kerja menjadi salah satu faktor utama yang menopang daya tarik investasi di provinsi tersebut.
Masuknya PT Borine Technology Indonesia ke KEK Kendal juga dinilai membawa efek berganda terhadap perekonomian lokal. Perusahaan yang bergerak di sektor produksi peralatan rumah tangga itu tidak hanya membangun pabrik, tetapi juga mendorong terbentuknya rantai pasok industri baru.
Luthfi mengungkapkan Borine telah mengajak enam perusahaan pemasok bahan baku untuk ikut berinvestasi di Jawa Tengah. Langkah ini dinilai mempertebal ekosistem industri dan memperkuat integrasi manufaktur di kawasan tersebut.
Dari sisi nilai investasi, angka yang dikomitmenkan Borine tergolong jumbo. Pada fase pertama, perusahaan telah merealisasikan investasi senilai US$ 700 juta. Kini, ekspansi tahap kedua tengah dipersiapkan dengan nilai investasi mencapai US$ 1,4 miliar.
Nilai tersebut mempertegas posisi KEK Kendal sebagai salah satu magnet investasi asing, terutama dari sektor manufaktur berbasis ekspor. Luthfi menyebut besarnya komitmen modal itu menjadi bukti bahwa Jawa Tengah semakin dipandang sebagai kawasan investasi yang aman, stabil, dan kompetitif.
Ia pun meminta kepala daerah dan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk lebih agresif memasarkan potensi wilayah masing-masing guna menjaga momentum investasi yang terus tumbuh.
Namun, di tengah derasnya investasi, persoalan infrastruktur logistik masih menjadi catatan penting. Dalam dialog dengan pengelola KEK Kendal, Luthfi menerima masukan mengenai kebutuhan akses pelabuhan yang lebih efisien untuk mendukung aktivitas bongkar muat.
Menanggapi hal itu, Pemprov Jawa Tengah berjanji mempercepat koordinasi dengan PT Pelindo dan Kementerian Perhubungan untuk memperkuat konektivitas kawasan industri.
“Langkah ini penting supaya kita bisa segera membuka kembali Pelabuhan Kendal dan Batang, serta mempercepat revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang,” pungkasnya.
Dorongan perbaikan infrastruktur logistik dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya saing industri Jawa Tengah, terutama ketika investor mulai memperbesar kapasitas produksi dan memperluas jaringan rantai pasok di kawasan tersebut.