INDUSTRY.co.id - JAKARTA — PT ESSA Industries Indonesia Tbk membuka tahun 2026 dengan kinerja keuangan yang impresif di tengah volatilitas pasar energi global. Emiten yang bergerak di sektor energi dan kimia melalui bisnis kilang LPG dan pabrik amoniak ini mencatat lonjakan pendapatan sebesar 37% secara tahunan (year-on-year/YoY), diikuti kenaikan laba kotor lebih dari dua kali lipat dan pertumbuhan laba bersih hingga 131%.
Kinerja agresif ESSA tak lepas dari kombinasi momentum harga komoditas yang menguat dan peningkatan volume operasional. Reli harga amoniak menjadi katalis utama, seiring membaiknya fundamental pasar global dan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang ikut mendorong penguatan harga energi.
Harga amoniak tercatat naik 34% YoY menjadi US$455 per metrik ton. Sementara harga LPG memang masih terkoreksi 14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, tetapi menunjukkan pemulihan signifikan secara kuartalan dengan kenaikan 11% pada kuartal I-2026 ke level US$537 per metrik ton.
Di sisi operasional, ESSA menunjukkan perbaikan fundamental yang solid. Produksi amoniak naik 16% YoY setelah gangguan pasokan gas dari hulu yang sempat membatasi kapasitas produksi berhasil sepenuhnya diselesaikan pada akhir kuartal II-2025. Pemulihan pasokan ini berdampak langsung terhadap tingkat utilisasi pabrik yang melonjak menjadi 121% pada kuartal I-2026, dari 104% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden Direktur dan CEO ESSA, Kanishk Laroya, mengatakan perseroan berhasil memanfaatkan momentum kenaikan harga dengan menjaga reliabilitas aset dan disiplin operasional.
“Kami dapat memaksimalkan produksi untuk menangkap momentum positif pasar. Hal ini mencerminkan bagaimana kami mengoperasikan dan melakukan pemeliharaan pabrik guna memastikan tingkat utilisasi yang tinggi tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan keandalan pabrik,” ujar Kanishk.
Manajemen menilai strategi menjaga keandalan aset menjadi faktor pembeda di tengah rantai pasok global yang masih rentan terhadap gangguan. Dengan utilisasi tinggi dan efisiensi operasional yang terjaga, ESSA berada dalam posisi yang lebih kompetitif untuk menangkap peluang pasar ekspor amoniak.
Namun, ESSA juga bersiap menghadapi fase pemeliharaan berkala. Pada Mei 2026, pabrik amoniak perseroan dijadwalkan menjalani plant turnaround selama 35 hingga 40 hari. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan operasi jangka panjang.
“Kegiatan ini merupakan bagian penting dari siklus pemeliharaan ESSA untuk memastikan keselamatan, keandalan, dan efisiensi aset dalam jangka panjang, setelah turnaround komprehensif terakhir yang dilaksanakan pada tahun 2021,” kata Kanishk.
Dengan harga amoniak yang masih berada dalam tren bullish dan kapasitas produksi yang tetap terjaga, prospek ESSA pada sisa tahun ini dinilai tetap menjanjikan. Tantangannya kini terletak pada bagaimana perseroan menjaga kesinambungan produksi pasca-turnaround, sekaligus memanfaatkan dinamika harga energi global yang semakin sensitif terhadap perkembangan geopolitik.