INDUSTRY.co.id - Jakarta - Nama Chef Dimas Ramadhan Pangestu atau yang akrab dikenal sebagai Dims The Meat Guy kian bersinar di dunia kuliner Indonesia. Kreator konten spesialis daging sapi dan steak ini kembali mencuri perhatian lewat aksi live cooking di lantai 67 The Westin Jakarta pada 28 April 2026.
Dalam acara bertajuk The Prime Table Chef Experience yang digelar oleh Anugerah Agri Makmur (AAM) bersama Meat & Livestock Australia (MLA), Chef Dimas memasak puluhan kilogram daging premium untuk hampir 100 tamu undangan dari industri perhotelan dan F&B.
"Hari ini gue live cooking di The Westin Jakarta pakai beef dari Anugerah Agri Makmur (AAM), Indonesia Livestock. Honestly kualitasnya bikin masak jadi lebih fun. Dari sizzle pertama sampai plating terakhir vibes-nya dapat banget," ujar Dimas.
Di puncak salah satu hotel tertinggi di Indonesia itu, Chef Dimas menyajikan tiga menu spesial menggunakan potongan unggulan dari brand daging AAM:
1. Beef Skewers Tenderloin: Menggunakan tenderloin—bagian paling empuk dari sapi—yang dipilih agar teksturnya langsung “meleleh” saat digigit.
2. Japanese Marinated Beef (Signature Dish): Potongan tenderloin yang diiris tipis dan dimarinasi selama 12 jam menggunakan soy sauce asli Jepang. Menu ini terinspirasi dari pengalaman kuliner Dimas saat berkunjung ke Shiga Farm di Jepang.
3. Potongan rib eye yang dikenal kaya rasa (rich) dipadukan dengan chimichurri racikan pribadi Chef Dimas. Menu ini disebut sebagai yang paling “remarkable” dari sisi taste.
“Yang paling sulit itu yang marinated Japanese, karena kita harus trial and error dulu untuk menemukan rasio bumbu dan daging yang pas sebelum akhirnya dimarinasi 12 jam,” jelasnya.
Dari total sekitar 30 kilogram daging yang dimasak, hampir seluruhnya habis disantap para tamu yang bahkan sempat menambah porsi.
Anugerah Agri Makmur (AAM) merupakan brand daging dari perusahaan Australia yang memiliki rantai pasok ternak terintegrasi antara Australia dan Indonesia. Melalui PT Indonesia Livestock Operations (ILO), AAM mengelola proses dari hulu hingga hilir dengan konsep “one company, one team, one standard”.
Menurut Chef Dimas, kualitas daging yang baik tidak hanya soal rasa, tetapi juga sistem pemeliharaan.
“Kualitas daging yang baik itu sapi yang dirawat dengan teknologi dan fasilitas canggih, bersih, dipotong di rumah potong hewan tersertifikasi dan halal. Warnanya merah cerah, aromanya fresh,” ungkapnya.
Salah satu hal menarik dari produk yang dimasak Dimas adalah jenis composite beef. Banyak yang mengira daging tersebut wagyu, padahal bukan sepenuhnya wagyu.
“Composite itu hasil mix breed dari Wagyu, Brahman, dan Red Angus. Masih ada darah wagyu, tapi kita nggak bisa bilang itu wagyu,” jelas Dimas.
Dengan formulasi pakan khusus dan manajemen kesejahteraan hewan yang ketat—termasuk minim stres, akses air penuh, serta pemberian pakan 2–3 kali sehari—AAM mengklaim mampu menghadirkan daging dengan kelembutan dan cita rasa optimal yang konsisten.
Meski pada acara tersebut Dimas menyajikan menu bergaya Western dan Japanese, ia menilai daging AAM juga sangat potensial untuk masakan Indonesia.
“Kalau untuk menu lokal, bisa eksplor secondary cut-nya. Itu cocok banget buat sate maranggi, rendang, semur, sop daging, sampai iga kuah bening. Lemaknya enak banget kalau ketemu bumbu khas Indonesia,” ujarnya antusias.
Program AAM sendiri telah berjalan di Indonesia sejak 2024 dan kini mulai masuk ke sejumlah hotel serta restoran premium. Dimas bahkan membuka kemungkinan menggunakan produk AAM untuk kolaborasi di Mitgay Steakhouse.
“Ini sangat memungkinkan karena dagingnya sudah masuk ke beberapa hotel. Menurut mereka cocok untuk lidah menengah ke atas,” katanya.
Dengan meningkatnya kebutuhan daging premium berkualitas di Indonesia, kehadiran AAM dinilai menjadi alternatif baru yang menggabungkan standar peternakan Australia dengan proses finishing lokal, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Di tangan Chef Dimas Ramadhan Pangestu, kualitas tersebut bukan hanya soal klaim, melainkan pengalaman rasa yang langsung terasa sejak potongan pertama.