INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Peluncuran 13 proyek hilirisasi nasional fase II yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto dinilai menjadi penegasan arah kebijakan pemerintah dalam mempercepat transformasi ekonomi berbasis nilai tambah sumber daya alam.

Dukungan politik dari parlemen pun menguat, seiring harapan agar proyek-proyek tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai proyek hilirisasi fase II yang dijalankan oleh Danantara Indonesia menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam nasional.

Menurut Misbakhun, pesan utama yang disampaikan Presiden adalah bahwa hilirisasi harus menjadi instrumen untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nasional, mulai dari mineral hingga sektor pertanian.

“Pesan yang sangat kuat disampaikan oleh Bapak Presiden bahwa hilirisasi ini adalah memberikan nilai tambah terhadap produk-produk alam Indonesia baik itu mineral, pertanian maupun produk yang lain,” ujar Misbakhun dalam seremoni groundbreaking proyek hilirisasi nasional fase II di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Dukungan serupa datang dari Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Ermarini. Ia menyebut proyek ini sebagai langkah strategis yang menjadi tonggak baru dalam pengembangan industri nasional. Namun, Anggia menekankan pentingnya strategi implementasi yang matang agar target hilirisasi dapat tercapai secara optimal.

Menurutnya, ekspektasi publik terhadap keberhasilan program hilirisasi sangat besar, terutama dalam mendorong ekspansi ekonomi nasional dan memperluas serapan tenaga kerja.

“Karena masyarakat Indonesia semuanya, kita semua berharap besar terhadap keberhasilan proyek hilirisasi. Terutama untuk pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan serapan tenaga kerja,” ujar Anggia.

Di sisi lain, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Arief Poyuono menilai pembangunan 13 proyek hilirisasi fase II sejalan dengan visi besar pemerintah untuk membangun kemandirian ekonomi nasional.

Arief menyoroti pola lama ekspor bahan mentah yang selama ini dinilai mengurangi potensi nilai ekonomi dalam negeri. Menurutnya, hilirisasi menjadi jalan strategis untuk memastikan manfaat ekonomi dari sumber daya alam tetap berputar di dalam negeri.

“Selama ini kita melihat sumber daya alam kita keluar dalam bentuk mentah. Ketika kita menjual bahan mentah, itu sama saja kita menjual pertumbuhan ekonomi kita ke negara lain,” kata Arief.

Ia menambahkan keberhasilan hilirisasi membutuhkan dukungan investasi skala besar, penguasaan teknologi, serta penguatan sumber daya manusia berbasis sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Dalam konteks itu, Arief memandang peran Danantara Indonesia menjadi sangat penting untuk mengonsolidasikan pembiayaan proyek-proyek strategis, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan atau smelter.

“Ini adalah cita-cita besar untuk menjadikan Indonesia berdaulat secara ekonomi. Hilirisasi harus menjadi tabungan masa depan bagi generasi mendatang, dan itu membutuhkan dukungan investasi serta kelembagaan yang kuat,” ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani melaporkan bahwa pembangunan 13 proyek hilirisasi fase II telah berjalan sesuai rencana.

Proyek-proyek tersebut disebut menjadi bagian penting dari agenda transformasi ekonomi nasional yang berfokus pada peningkatan nilai tambah industri domestik.

Rosan menjelaskan proyek hilirisasi tahap kedua difokuskan pada sektor-sektor strategis seperti mineral, energi, dan perkebunan. Fokus tersebut diarahkan untuk memperkuat struktur industri nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap ekspor komoditas mentah.

Ia juga menegaskan skema pembiayaan terintegrasi melalui Danantara telah mempercepat realisasi proyek dan membuka peluang investasi lanjutan. Pemerintah, kata Rosan, memastikan kesiapan pendanaan dan eksekusi agar program hilirisasi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.