INDUSTRY.co.id - CIKARANG - Dari tanah gersang menjadi kota hijau berbasis AI. Transformasi menuju ekonomi digital dan kecerdasan buatan kian tak terelakkan.
Di Cikarang, PT Jababeka Tbk (KIJA) pengembang kawasan industri terbesar di Asia Tenggara menjawab dua tantangan sekaligus: menjadi pemain utama AI dan membangun keberlanjutan melalui Silicon Valley Hijau yang mengintegrasikan AI, ESG, dan industri di lahan 5.000 Ha.
Perjalanan ini bermula dari visi perseroan pada akhir 1980-an. Saat itu, Cikarang masih berupa lahan relatif gersang, infrastruktur terbatas, dan minim vegetasi.
Founder sekaligus CEO Jababeka, Setyono Djuandi Darmono menolak membangun sekadar klaster pabrik. Ia memilih jalan berbeda: membangun kota industri yang terintegrasi dengan kehidupan manusia dan lingkungan.
Visi yang kala itu dianggap terlalu maju, kini terbukti menjadi fondasi ekosistem terintegrasi lebih dari 5.000 hektare yang menampung dua ribuan tenant dari 30 lebih negara, dengan kombinasi industri, residensial, pendidikan, hingga fasilitas sosial.

Dari lahan kosong, Darmono bersama konsorsium yang terdiri dari 21 pengusaha bertekad mengembangkan Kota Jababeka di Cikarang, kawasan industri terpadu pertama di Indonesia berbasis lingkungan.
Jababeka kini memasuki fase berikutnya dari industrial growth menuju green industrial leadership. Fokus tidak lagi hanya ekspansi fisik, tetapi efisiensi dan keberlanjutan berbasis sistem.
Menurut Darmono, hal ini adalah kelanjutan logis dari filosofi awal Jababeka tiga dekade lalu.
Jika dulu pembangunan kota dimulai di atas tanah gersang 500 ha, kini membangun masa depan di atas fondasi kota hijau dan produktif seluas 5.000 ha.
“Jababeka membidik transformasi menuju green industrial city yang lebih kompetitif di tingkat global. Strategi ini menegaskan bahwa industrialisasi dan keberlanjutan kini bukan lagi dua agenda yang saling bertolak belakang, melainkan dua fondasi utama untuk menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang," ujar Darmono dikutip redaksi INDUSTRY.co.id Kamis (30/4/2026).
Menurutnya, konsep tersebut bukan kawasan baru, tetapi evolusi dari industrial estate menjadi innovation-driven ecosystem berbasis hijau.
Perlu diketahui, di sisi keberlanjutan, Jababeka menyematkan ESG sejak desain. Kawasan ini telah meraih PROPER Hijau 6 kali dari Kementerian Lingkungan Hidup terakhir medio April 2026, mengoperasikan Air Quality Monitoring System (AQMS) yang lapor real-time ke ruang monitor Menteri LHK, serta mengimplementasikan panel surya sejak 2023.
Untuk mempercepat transisi net zero, Jababeka membentuk Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC) sebagai wadah kolaborasi tenant. Perusahaan juga menyiapkan carbon trading dari rehabilitasi mangrove seluas 40 Ha yang telah ditanam selama tujuh tahun.
Infrastruktur lingkungan dibangun di level kawasan: sistem pengolahan air limbah terpadu, reuse & recycling air industri, hingga konservasi air, untuk mengurangi dampak lingkungan secara kolektif.
Silicon Valley Hijau di Cikarang
Pengembangan kawasan pintar dan hijau Jababeka Digital Park ini ditopang lima pilar utama. Pertama, infrastruktur digital kelas dunia berupa data center, ekosistem cloud, hingga kapabilitas komputasi AI seperti GPU cluster dan edge computing agar Indonesia tidak hanya jadi pengguna, tapi produsen dan pengelola data bernilai tinggi.
Kedua, integrasi Industri 4.0 dimana kedekatan dengan basis manufaktur memungkinkan penerapan AI, IoT, dan analitik data langsung di lini produksi sehingga pabrik bertransformasi menjadi pusat inovasi.
Ketiga, talent engine melalui President University dengan model belajar + magang + bekerja dalam satu ekosistem untuk menciptakan pipeline talenta siap pakai bagi sektor AI dan ekonomi digital.
Keempat, innovation hub berupa inkubator startup, pusat R&D perusahaan global, dan kolaborasi dengan modal ventura yang menciptakan siklus: talenta ke ide ke startup ke scale-up ke industri.
Kelima, lingkungan live-work-play dengan hunian profesional, rumah sakit, sekolah, golf, hingga convention center untuk menarik talenta global. Green landscape dan urban ecology juga konsisten dikembangkan untuk memperbaiki mikroklimat dan kualitas hidup.

Jababeka Digital Park bertumpu pada fondasi yang sudah terbentuk: basis industri 2.000+ tenant, populasi kota mandiri, infrastruktur logistik termasuk dry port, dan universitas dalam kawasan.
"Artinya, ini bukan proyek spekulatif, tetapi akselerasi dari ekosistem yang sudah hidup,” tegas Darmono.
Secara strategis, pengembangan ini menjawab tiga kebutuhan nasional: kedaulatan digital, penciptaan lapangan kerja berkualitas, dan peningkatan daya saing regional menghadapi Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
“Transformasi digital bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Negara yang berhasil bukan yang paling besar, tetapi yang paling cepat membangun ekosistem,” kata Darmono.
Dengan integrasi industri, talenta, infrastruktur digital, serta kolaborasi global, Jababeka Digital Park berpeluang menjadi Silicon Valley Hijau-nya Indonesia.
Jika konsisten, Cikarang akan bertransformasi dari kota industri menjadi pusat pertumbuhan ekonomi digital nasional yang berkelanjutan.
"Perjalanan Jababeka di Cikarang adalah contoh nyata bahwa industrialisasi dan keberlanjutan bukan dua hal yang bertentangan," ujar Darmono.
Baginya, ini adalah babak ketiga dari visinya: setelah membangun kota dari tanah gersang dan menjadikannya hijau, kini saatnya menjadikan Cikarang sebagai pusat masa depan digital Indonesia.
“Jababeka bukan lagi sekadar kawasan industri. Ini adalah laboratorium hidup bagaimana Indonesia membangun masa depan: produktif secara ekonomi, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” pungkas Darmono.