INDUSTRY.co.id - JAKARTA — PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. memperkuat langkah ekspansi bisnis sekaligus upaya menarik arus modal asing dengan menggandeng China Silk Road Group Ltd.. Kerja sama strategis kedua entitas ini ditandai dengan pembentukan China–Indonesia Innovation & Cooperation Center, yang diproyeksikan menjadi kanal baru masuknya investasi China ke Indonesia.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi KIJA untuk mempertegas posisinya sebagai pengembang kawasan industri yang tidak hanya menyediakan lahan industri, tetapi juga membangun ekosistem bisnis terintegrasi berbasis teknologi dan digitalisasi.

Founder dan Chairman Setyono Djuandi Darmono mengatakan kerja sama tersebut akan dimulai melalui pengembangan proyek-proyek percontohan yang diharapkan dapat mempercepat realisasi investasi secara bertahap dengan pendekatan yang lebih terukur.

“Salah satunya, akan dimulai dengan peluncuran Jababeka Digital Park seluas 500 hektar, yang rencananya akan diumumkan secara resmi dalam World Digital Economic Forum di Beijing pada awal Juli 2026,” ujar Darmono di Jakarta, Kamis (23/4).

Menurut Darmono, pembentukan Innovation & Cooperation Center menjadi instrumen strategis untuk menjembatani kebutuhan investor China yang ingin melakukan ekspansi ke pasar Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi produk nasional untuk masuk lebih dalam ke pasar Negeri Tirai Bambu.

Ia menilai momentum ini penting di tengah meningkatnya persaingan negara-negara Asia Tenggara dalam merebut investasi asing langsung (FDI), terutama di sektor manufaktur berteknologi tinggi dan ekonomi digital.

“Dengan adanya Innovation Center, kami ingin memastikan bahwa perusahaan yang masuk ke Indonesia mendapatkan dukungan yang komprehensif, mulai dari perizinan, integrasi kawasan, hingga koneksi dengan rantai pasok lokal,” katanya.

Bagi Jababeka, kerja sama ini bukan semata soal penambahan tenant industri, tetapi juga transformasi model bisnis kawasan industri ke arah ekosistem yang lebih bernilai tambah, terutama di sektor digital, kecerdasan buatan, dan manufaktur cerdas.

Di sisi lain, Chairman Lijin Yan menilai hubungan ekonomi Indonesia-China kini memasuki fase baru dengan kualitas pertumbuhan yang lebih tinggi, terutama setelah penguatan kerja sama perdagangan kawasan melalui Regional Comprehensive Economic Partnership.

Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan kebutuhan transformasi industri yang besar, sementara China memiliki kapabilitas teknologi yang sudah matang di bidang artificial intelligence, robotika industri, dan digitalisasi.

“Kedua negara memiliki potensi saling melengkapi yang sangat besar, dengan prospek kerja sama ekonomi digital yang menjanjikan,” ujarnya.

Ke depan, fokus kolaborasi antara KIJA dan China Silk Road Group akan diarahkan pada tiga sektor utama, yakni ekonomi digital, kecerdasan buatan, serta robotika dan manufaktur cerdas. Implementasinya akan menjangkau berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan berbasis teknologi, pabrik pintar, pengelolaan energi minyak dan gas, kota pintar, pertanian modern, hingga layanan keuangan digital.

Selain pengembangan proyek investasi, kedua pihak juga akan memperluas kerja sama melalui penyelenggaraan pameran bisnis, forum ekonomi, penguatan jaringan perdagangan, hingga pembangunan sistem logistik dan rantai pasok yang lebih efisien guna mendukung perdagangan dua arah Indonesia-China.

Sebagai bagian dari penguatan promosi investasi, Jababeka dan China Silk Road Group juga sepakat mendirikan showroom Innovation & Cooperation Center di Beijing dan Jakarta. Langkah ini dinilai dapat mempercepat business matching sekaligus memperkuat penetrasi pasar bagi pelaku industri dari kedua negara.

Dengan langkah agresif ini, Jababeka tampak ingin menangkap momentum relokasi industri global dan gelombang investasi baru dari China, terutama ketika persaingan kawasan industri di Asia Tenggara semakin ketat dalam memperebutkan proyek-proyek manufaktur berteknologi tinggi.