INDUSTRY.co.idJakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan kesiapan produksi dan pasokan untuk menangkap peluang ekspor pupuk urea di tengah disrupsi rantai pasok global. Namun, perusahaan menegaskan bahwa kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi mengatakan, ekspor hanya akan dilakukan jika pasokan domestik dalam kondisi aman, sesuai arahan pemerintah.

“Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri cukup,” kata Rahmad Pribadi di Jakarta, kemarin.

Ia menegaskan, rencana eskpor dilakukan secara hati-hati dan tidak akan mengganggu kebutuhan petani dalam negeri, terutama pada musim tanam.

“Jika tidak mungkin ekspor saat musim tanam. Ekspor dilakukan di luar periode tersebut,” tegasnya.

Saat ini, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi urea mencapai 9,4 juta ton per tahun, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan domestik yang berada di kisaran 6-7 juta ton per tahun.

Selain itu, stok pupuk nasional tercatat mencapai sekitar 1,2 juta ton per 14 April 2026, dengan tambahan produksi harian sekitar 25 ribu ton untuk urea dan 15 ribu ton untuk NPK.

Dengan kondisi tersebut, Pupuk Indonesia optimis mampu menjaga pasokan dalam negeri sekaligus berkontribusi pada stabilitas pangan global.

Di sisi lain, pemerintah juga memastikan harga pupuk subsidi tetap stabil meski harga global berfluktuasi. Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi yang telah diturunkan sebesar 20 persen sejak Oktober 2025 tetap dipertahankan guna melindungi daya beli petani.

"Ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia justru tetap terjaga," tutup Rahmad Pribadi.