INDUSTRY.co.id - Jakarta – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tingginya ketergantungan ekspor Indonesia ke China. Meski memberikan kontribusi besar, kondisi ini dinilai menyimpan risiko serius bagi ketahanan industri nasional, khususnya sektor baja.

Kemenperin mencatat, ekspor produk baja Indonesia pada 2025 masih didominasi lima pasar utama, yakni China, Taiwan, India, Vietnam, dan Italia dengan total nilai ekspor mencapai USD 29,7 miliar.

China menjadi tujuan terbesar dengan nilai lebih dari USD 17,9 miliar, disusul Taiwan sekitar USD 1,8 miliar, India USD 1,6 miliar, Vietnam USD 864 juta dan Italia USD 777 juta.

“Kalau kita terlalu bergantung pada satu negara, risikonya tinggi. Ketika negara tersebut mengalami gejolak ekonomi, dampaknya pasti langsung terasa ke industri kita,” kata Menperin Agus di Jakarta (10/4).

Ia menjelaskan, potensi perlambatan ekonomi atau ketidakstabilan di China dapat secara langsung memukul konerja ekspor Indonesia.

“Jadi, saya khawatir bahwa ada ketergantungan negara tujuan ekspor kita ke satu negara. Ketika itu terjadi, maka kalai kita mengasumsikan negara tersebut ada turnmoil, ada masalah ekonomi, itu pasti akan berdampak pada industri baja kita,” terangnya.

Meski demikian, Menperin Agus menegaskan bahwa tingginya permintaan dari China tetap merupakan hal positif bagi kinerja ekspor nasional. Namun, Indonesia tetap harus mengantisipasi risiko ke depan apabila terjadi perlambatan atau gangguan ekonomi di negara tersebut yang berpotensi menekan ekspor baja nasional.

Oleh karena itu, pemeritah mendorong pelaku industri untuk segera melakukan diversifikasi pasar. Sebagai alternatif, pemerintah melihat peluang ekspor ke kawasan Timur Tengah yang dinilai memiliki kebutuhan besar terhadap produk baja, terutama untuk pembangunan kembali infrastruktur dan fasilitas industri seperti kilang (refinery).\\

Selain itu, negara-negara dengan basis industri baja yang belum kuat juga dinilai sebagai pasar potensial baru bagi ekspor Indonesia.

“Negara-negara yang kekuatan industri bajanya atau di sekitar kawasan yang kekuatan industri bajanya masih belum terlalu kuat, itu juga bisa menjadi target market kita selanjutnya,” tutup Menperin.