INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya dalam memperkuat industri baja nasional melalui pengukuhan pengurus The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) periode 2026-2030 di Jakarta, Jumat (10/4).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, IISIA merupakan mitra strategis pemerintah dalam mendorong penguatan struktur industri, khususnya sektor baja yang dinilai vital bagi perekonomian nasional.

“Pemerintah memandang IISIA sebagai mitra penting dalam memperkuat industri baja nasional. Kepengurusan baru diharapkan mampu menjawab tantangan global sekaligus mengoptimalkan peluang ke depan,” kata Menperin Agus.

Kemenperin mencatat, kinerja industri pengolahan pada 2025 tumbuh 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen, dengan kontribusi terhadap PDB mencapai 19,07 persen.

Sementara itu, subsektor logam dasar, termasuk baja mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 15,71 persen, didorong oleh meningkatnya permintaan dari sektor infrastruktur dan manufaktur.

Meski demikian, Menperin mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti tingkat utilisasi industri baja yang baru mencapai 52,7 persen serta ketergantungan terhadap impor bahan baku.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai langkah strategis, antara lain perlindungan pasar, penerapan SNI wajib, kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), hingga pemberian insentif fiskal guna mendorong investasi.

Selain itu, pemeritah juga terus mendorong pengembangan green steel atau baja ramah lingkungan yang digadang-gadang menjadi masa depan industri nasional.

“Prospek green steel di Tanah Air sangat cerah. Komitmen para pelaku industri baja untuk bertransformasi menuju produksi yang berkelanjutan terlihat tinggi. Sejumlah produsen bahkan telah memulai menyiapkan langkah konkret untuk mendukung transisi tersebut,” paparnya.

Pemerintah pun tak tinggal diam. Dalam perkembangan terbaru, telah dilakukan penandatanganan kesepakatan awal yang menandai dimulainya langkah nyata, bukan sekedar wacana. Langkah ini diperkuat dengan dukungan dari World Bank yang telah menyiapkan pendanaan guna membantu pemerintah membangun infrastruktur pendukung transformasi industri.

“Optimisme terhadap pengembangan green steel juga didorong oleh kesiapan teknologi produksi baja ramah lingkungan (proven technology) yang telah tersedia dan terbukti efektif,” jelas Menperin.

Dia optimis dengan kombinasi komitmen industri, dukungan pendanaan internasional, serta kesiapan teknologi, Indonesia dinilai berada di jalur yang tepat untuk menjadi salah satu pemain penting dalam industri green steel global.

Dikesempatan yang sama, Chairman IISIA, Muhamad Akbar menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong kemajuan industri nasional, termasuk pengembangan green steel.

“Kami saat ini tengah mengembangkan teknologi green steel sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Langkah tersebut tidak terlepas dari komitmen Indonesia terhadap target Nationally Determined Contribution (NDC) dalam menekan emisi karbon,” kata Akbar.

Dalam implementasinya, IISIA berfokus pada sejumlah aspek utama, antara lain pengurangan konsumsi gas alam serta peningkatan efisiensi produksi (yield). Upaya ini diharapkan mampu menekan jejak karbon secara signifkan dalam proses pembuatan baja.

IISIA menargetkan Indonesia mampu mencapai standar green steel pada 2050. “Meski demikian, target ini tidak dapat dilakukan sendiri. Dukungan dari berbagai pihak menjadi faktor krusial, terutama dari sektor energi,” katanya.

Meski target menuju green steel dinilai cukup menantang, IISIA tetap optimis dapat mencapai target tersebut. Salah satu indikatornya adalah upaya menurunkan intensitas emisi karbon hingga sekitar 0,5 per kilogram produk baja.

“Transformasi ini menjadi langkah penting bagi industri baja nasional untuk tetap kompetitif di pasar global, sekaligus berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim,” pungkas Akbar.