INDUSTRY.co.id - Jakarta – Gejolak geopolitik di Timur Tengah yang memicu gangguan energi dan rantai pasok global ternyata tidak serta-merta mengguncang industri keramik nasional.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto menegaskan bahwa dampak langsung terhadap sektor ini relatif minim, meski tantangan lain justru muncul dari dalam negeri.
Dari sisi energi, Edy menjelaskan bahwa industri keramik Indonesia masih berada dalam posisi yang cukup aman. Hal ini karena pasokan gas bumi yang digunakan mayoritas berasal dari sumber domestik dan disalurkan melalui jaringan pipa nasional.
“Kalau bicara dampak langsung dari Timur Tengah terhadap industri keramik, sebenarnya tidak signifikan. Kita tidak seperti India yang sangat bergantung pada pasokan gas dari Qatar atau kawasan Timur Tengah,” ujar Edy di Jakarta (8/4).
Sebagai perbandingan, Edy menyoroti kondisi di India, khususnya di kawasan Morbi, Gujarat, yang menjadi pusat industri keramik negara tersebut. Ketergantungan terhadap gas impor membuat banyak pabrik di sana terpaksa menghentikan produksi akibat terganggunya pasokan.
"Berdasarkan informasi yang kami dapat bahwa disana (India) sudah banyak pabrik yang tutup karena minimnya pasokan gas," terangnya.
Sementara dari sisi supply chain, industri keramik Indonesia juga dinilai cukup tangguh. Meski beberapa bahan pendukung seperti glass ink, serta suku cadang mesin masih diimpor dari Eropa, terutama Italia, dampaknya tidak terlalu besar.
“Distribusi dari Eropa memang ada, tapi saat ini bisa digantikan oleh produk serupa dari China yang tidak terdampak konflik Timur Tengah,” jelas Edy.
Kondisi ini membuat industri keramik nasional tetap bisa menjaga stabilitas produksi di tengah ketidakpastian global.
Peluang Ekspor Terbuka, Tapi Terhambat Logistik
Di balik stabilitas tersebut, sebenarnya tersimpan peluang besar bagi Indonesia untuk merebut pasar ekspor di Timur Tengah yang sebelumnya dikuasai India. Namun sayangnya, peluang ini belum bisa dimanfaatkan secara optimal.
Kendala utama justru datang dari sektor logistik. Jalur distribusi yang melewati kawasan Timur Tengah mengalami gangguan, sehingga ekspor menjadi lebih sulit dan mahal.
“Harusnya ini jadi peluang bagi Indonesia untuk menggantikan posisi India di pasar Timur Tengah. Tapi kendalanya ada di logistik, terutama jalur pengiriman yang terganggu,” katanya.
Tak hanya ekspor, tekanan juga dirasakan di pasar domestik. Edy mengungkapkan bahwa biaya pengiriman kontainer antar pulau mengalami kenaikan signifikan pada kuartal pertama 2026.
Pengiriman dari Jawa ke Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi dilaporkan naik antara 20% hingga 70%. Lonjakan ini menjadi beban tambahan bagi pelaku industri.
“Ini yang jadi tantangan besar. Biaya logistik naik tajam, padahal distribusi dalam negeri sangat bergantung pada kontainer,” tegasnya.
Selain itu, Asaki juga mengingatkan potensi ancaman lain yang tidak kalah serius, yakni pengalihan pasar ekspor oleh negara lain seperti China dan India.
Edy menegaskan bahwa ketika kondisi global mulai stabil, negara-negara tersebut berpotensi membanjiri pasar internasional, termasuk Indonesia, dengan produk keramik mereka.
“China sudah mulai agresif. Dan India tidak akan berhenti lama. Begitu mereka pulih, mereka akan kembali ekspansi. Ini yang harus kita waspadai,” pungkasnya.