INDUSTRY.co.id - Jakarta — Gejolak harga energi global akibat konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel mulai memberikan tekanan terhadap berbagai sektor industri, termasuk tekstil dan produk tekstil (TPT). Meski demikian, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) tetap menunjukkan sikap optimistis dalam menghadapi potensi gangguan pada rantai pasok bahan baku hingga distribusi ekspor.

Direktur Eksekutif API, Danang Girindra menyatakan bahwa pihaknya mendukung penuh langkah strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri. Salah satu kebijakan yang diapresiasi adalah upaya menjaga harga BBM subsidi dan biosolar agar tidak mengalami kenaikan hingga akhir tahun.

“Kita mendukung upaya strategis Menteri Koordinator Perekonomian untuk mengatasi dampak kenaikan harga energi dunia yang pasti berimbas ke industri dalam negeri,” ujar Danang melalui keterangan resminya di Jakarta (8/4).

Selain itu, API juga menilai kebijakan penghematan energi melalui skema work from home (WFH) satu hari dalam seminggu sebagai langkah positif. Menurut Danang, jika kebijakan ini dijalankan secara masif oleh pemerintah dan dunia usaha, maka pengurangan konsumsi BBM dapat signifikan dan berdampak pada efisiensi subsidi energi.

API juga memberikan apresiasi terhadap penyesuaian harga tiket maskapai penerbangan sebagai respons atas lonjakan harga avtur global. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah realistis dalam menjaga keberlangsungan industri transportasi yang turut berperan dalam rantai distribusi ekspor tekstil.

Di sisi lain, industri tekstil didorong untuk melakukan inovasi, khususnya dalam penggunaan teknologi mesin produksi yang lebih hemat energi. API menyatakan kesiapan untuk melakukan modernisasi permesinan melalui kerja sama internasional.

“Modernisasi teknologi menjadi kunci untuk efisiensi energi sekaligus menjaga daya saing industri. Ini penting untuk mempertahankan jutaan tenaga kerja di sektor padat karya seperti tekstil dan garmen,” jelas Danang.

Sebagai langkah konkret, API tengah menjajaki kerja sama dengan India ITME Society, yang dikenal memiliki teknologi permesinan tekstil maju. Kolaborasi ini mencakup berbagai sektor, mulai dari spinning, weaving, hingga digital printing dan technical textiles.

Dalam waktu dekat, delegasi API dan India ITME Society akan bertemu untuk memperkenalkan perusahaan-perusahaan teknologi tekstil terkemuka asal India kepada pelaku industri di Indonesia. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka peluang peningkatan kapasitas produksi sekaligus efisiensi energi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Januari 2026, ekspor tekstil Indonesia masih didominasi produk hilir bernilai tambah tinggi. Ekspor pakaian jadi (garmen) tercatat mencapai sekitar US$609,4 juta, jauh melampaui ekspor benang pintal sebesar US$78,3 juta.

Hal ini menegaskan bahwa sektor garmen tetap menjadi tulang punggung ekspor tekstil nasional, sementara sektor hulu berperan penting dalam menjaga keberlanjutan rantai pasok industri secara keseluruhan.

Dengan basis manufaktur yang kuat dan potensi ekspor yang terus berkembang, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk bersinergi dengan India dalam pengembangan teknologi tekstil. Kolaborasi ini diyakini mampu memperkuat perdagangan bilateral, mendorong inovasi, serta membangun ekosistem industri tekstil Asia yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.

Di tengah tekanan global, optimisme dan langkah strategis menjadi kunci bagi industri tekstil nasional untuk tetap bertahan dan tumbuh.