INDUSTRY.co.id - Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks. Hal ini sejalan dengan HUT ke-14 Pupuk Indonesia yang mengusung tema “Transform, Sustain, Empower”.
Momentum ini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya tekanan terhadap rantai pasok pupuk dunia, termasuk akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mempengaruhi jalur distribusi global.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pambudi menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan tetap pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri, yang menjadi fondasi utama ketahanan pangan nasional.
“Di tengah dinamika global, prioritas kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi dengan baik. Namun, dengan kapasitas yang kami miliki, Indonesia juga memiliki ruang untuk berkontribusi dalam menjaga keseimbangan pasokan global,” jelas Rahmad dalam keterangan resminya di Jakarta (6/4).
Saat ini, kapasitas produksi Pupuk Indonesia mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk urea sebesar 9,4 jut ton. Dengan basis produksi yang kuat dan didukung sumber daya domestik, Indonesia memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan rantai pasok global.
Sejalan dengan tema HUT ke-14, transformsi yang dijalankan perusahaan mencakup pembenahan menyekuruh, mulai dari kebijakan subsidi, tata kelola distribusi, hingga penguatan struktur pembiayaan.
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang kemudian disempurnakan melalui Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025, yang mendorong sistem distribusi yang lebih efektif serta skema pembiayaan yang lebih adaptif.
Melalui perubahan skema subsidi dari cost plus menjadi market-based mechanism atau market-to-market (MtM), serta dukungan pembayaran subsidi sebagian di muka, Pupuk Indonesia memperoleh fleksibilitas finansial yang lebih kuat. Hal ini memungkinkan perusahaan menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku sekaligus mempercepat program revitalisasi industri.
“Revitalisasi menjadi kunci untuk memastikan industri pupuk nasional tetap andal dan bardaya saing. Dengan dukungan kebijakan baru, kami kini memiliki fleksibilitas pembiayaan yang lebih kuat sehingga pembangunan dan peremajaan pabrik dapat dipercepat,” katanya.
Dalam lima tahun ke depan, Pupuk Indonesia menargetkan pembangunan dan revitalisasi tujuh pabrik sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan efisiensi produksi.
Transformasi tersebut juga memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian. Penyaluran pupuk bersubsidi berhasil dilakukan tepat waktu sejak 1 Januari selama dua tahun berturut-turut, disertai penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20% pada 2025. Hal ini turut mendorong peningkatan penyerapan pupuk subsidi sebesar 31% pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Komisaris Utama Pupuk Indonesia, Sudaryono mengungkapkan bahwa transformasi dan revitalisasi yang dijalankan perusahaan telah memperkuat fondasi industri pupuk nasional, sekaligus menempatkan Indonesia pada posisi strategis di tengah gangguan rantai pasok global.
Menurutnya, penguatan tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi nasional, tetapi juga membuka ruang bagi Indonesia untuk berperan dalam menjaga keseimbangan pasokan pupuk di tingkat global.
“Porsi pupuk dalam negeri pasti akan dipenuhi terlebih dahulu. Namun, dengan terganggunya pasokan global, banyak negara kini membutuhkan urea dari Indonesia. Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia dan ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan pasokan,” kata Sudaryono.
Di usia ke-14 ini, Pupuk Indonesia menegaskan bahwa transformasi yang dijalankan bukan hanya untuk memperkuat kinerja perusahaan, tetapi juga untuk memastikan peran strategisnya dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Ke depan, perusahaan akan terus mendorong pupuk yang semakin mudah diakses dan terjangkau, serta didukung oleh industri yang efisien, tangguh, dan berkelanjutan,” tutupnya.