INDUSTRY.co.id - Jakarta - Indonesia semakin dilirik investor global sebagai basis produksi baru di Asia Tenggara. Pergeseran rantai pasok global yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir mendorong banyak perusahaan manufaktur mencari lokasi strategis untuk memperluas operasi mereka.
Hal tersebut mengemuka dalam forum bisnis Indonesia Infrastructure Transformation - Unlocking Cross Border Investment Opportunities yang digelar pada 4 Maret 2026. Forum ini diselenggarakan oleh HSBC bersama Federation of Hong Kong Industries.
Dalam acara tersebut, Suryacipta Swadaya—anak usaha dari Surya Semesta Internusa memaparkan strategi pengembangan kawasan industri Indonesia untuk menangkap peluang relokasi rantai pasok global. Kehadiran Suryacipta dalam forum tersebut dinilai penting karena Hong Kong merupakan salah satu pusat keuangan global sekaligus penghubung investasi internasional.
Hong Kong juga dikenal sebagai super-connector bagi perusahaan-perusahaan dari China yang ingin menyalurkan investasinya ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Berdasarkan data investasi terbaru, Hong Kong tercatat sebagai sumber Foreign Direct Investment (FDI) terbesar kedua bagi Indonesia, dengan total investasi mencapai 35,5 miliar dollar AS sepanjang periode 2021–2025.
Selain itu, status Hong Kong sebagai hub re-ekspor terbesar di dunia membuat banyak perusahaan manufaktur yang berbasis di sana mulai mempertimbangkan Indonesia sebagai lokasi produksi baru untuk mendiversifikasi rantai pasok mereka di tengah dinamika perdagangan global.
Mewakili Suryacipta, Chief Commercial Officer Abednego Purnomo menjelaskan bahwa konsep kawasan industri di Indonesia kini mengalami transformasi besar. Menurut dia, kawasan industri modern tidak lagi hanya menyediakan lahan produksi, tetapi juga menghadirkan ekosistem terintegrasi.
“Kawasan industri modern tidak lagi sekadar menyediakan lahan, melainkan menawarkan integrasi penuh antara logistik, infrastruktur digital, dan transisi energi,” ujar Abed.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk meningkatkan efisiensi ekonomi nasional, termasuk target pemerintah menurunkan biaya logistik dari 23 persen terhadap PDB menjadi sekitar 8 persen pada tahun 2045.
Untuk mendukung target tersebut, Suryacipta mengembangkan kawasan kota industri terintegrasi Subang Smartpolitan di Subang. Kawasan ini dirancang terhubung langsung dengan berbagai infrastruktur strategis nasional, termasuk Pelabuhan Patimban.
Pelabuhan Patimban sendiri diproyeksikan menjadi pelabuhan ekspor otomotif terbesar di Indonesia, yang akan memainkan peran penting dalam memperkuat distribusi logistik internasional. Akses langsung ke pelabuhan ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat kawasan industri di Subang semakin menarik bagi investor manufaktur global.
Dalam diskusi panel, para pelaku usaha dari Hong Kong menyoroti satu faktor utama dalam menentukan lokasi investasi, yakni speed-to-market atau kecepatan perusahaan untuk memulai produksi.
Menanggapi hal tersebut, Abed menjelaskan bahwa reformasi regulasi pemerintah Indonesia yang disertai kesiapan infrastruktur kawasan industri telah berhasil memangkas waktu realisasi investasi secara signifikan.
Kondisi ini memberikan kepastian bagi perusahaan yang ingin segera membangun fasilitas produksi di Indonesia.
Tren Industri Hijau Semakin Menguat
Selain faktor logistik dan infrastruktur, tren industri hijau juga menjadi perhatian utama investor global. Menurut Abed, kawasan industri modern kini dituntut untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam pengembangannya. Konsep tersebut diterapkan dalam pengembangan Subang Smartpolitan yang mengusung visi “Green, Smart, and Sustainable City.”
Kawasan ini menggabungkan area industri, komersial, dan hunian dengan penerapan teknologi cerdas untuk membantu perusahaan memenuhi target net zero emission secara terukur.
Selain itu, Abed juga menyoroti pertumbuhan sektor manufaktur Indonesia yang semakin kuat, terutama pada industri logam. Data menunjukkan sektor ini mendominasi investasi Hong Kong di Indonesia dengan kontribusi 19,7 persen dari total FDI pada periode 2021–2025.
Ke depan, Abed melihat peluang investasi juga diperkirakan akan meningkat di beberapa sektor antara lain, baterai kendaraan listrik (EV), industri farmasi, teknologi manufaktur berkelanjutan. Sektor-sektor tersebut diproyeksikan menjadi pendorong utama permintaan kawasan industri di Indonesia.
Ekosistem Industri Terintegrasi Jadi Penentu
Menutup paparannya, Abed menekankan bahwa pemilihan mitra industri dengan jaringan rantai pasok yang kuat menjadi faktor penting bagi perusahaan global. Karena itu, pengembangan kawasan industri ke depan harus mampu menghadirkan ekosistem terintegrasi yang mendukung efisiensi operasional jangka panjang.
“Melalui pengembangan Subang Smartpolitan, kami berupaya menyediakan ekosistem yang memungkinkan pelaku usaha menjalankan operasional industri yang lebih efisien, cerdas, dan berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.