INDUSTRY.co.id - Bali – Nuanu Creative City mempertemukan para chef ternama, pemilik restoran, operator hospitality, hingga investor dalam forum Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders yang digelar pada 4 Maret 2026 di Bali. 

Forum ini menjadi wadah diskusi strategis untuk membahas masa depan industri kuliner Bali sekaligus memperkenalkan Sutala Culinary District, distrik kuliner baru yang dirancang sebagai pusat gastronomi masa depan.

Sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di dunia, Bali terus memperkuat posisinya di kancah internasional. Pengakuan global, termasuk dinobatkan sebagai destinasi terbaik dunia oleh TripAdvisor, membuat sektor kuliner di Pulau Dewata berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Pertumbuhan restoran yang dipimpin chef, ekspansi jaringan hospitality internasional, serta semakin berkembangnya operator lokal turut meningkatkan standar industri kuliner Bali secara signifikan.

Melihat dinamika tersebut, Nuanu Creative City menghadirkan forum yang mempertemukan para pemimpin industri untuk berdialog mengenai berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi sektor kuliner Bali.

Forum ini mendapat dukungan dari sejumlah mitra industri, seperti Putra Surya Internusa, Chalista Mandiri Energy, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PT Gagas Energi Indonesia, PT Hatten Bali Tbk, dan RIEDEL The Wine Glass Company.

Dalam forum tersebut, para peserta membahas berbagai isu penting yang memengaruhi perkembangan kuliner Bali. Mulai dari kejelasan regulasi, ketahanan operasional, model investasi jangka panjang, hingga strategi memposisikan kuliner Indonesia di panggung internasional.

Acara ini juga didukung oleh sejumlah organisasi industri seperti Bali Tourism & Investment Chamber (BTIC), Bali Restaurant & Café Association (BRCA), dan Bali HoreCa Club (BHC).

CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, menegaskan pentingnya membangun dialog sebelum melakukan pembangunan fisik. “Yang paling penting hari ini adalah menghadirkan orang-orang yang tepat dalam satu ruang,” ujar Lev.

Menurut Lev, mereka yang benar-benar membangun lanskap kuliner Bali dan Indonesia dapat berbicara terbuka tentang apa yang berjalan baik dan apa yang masih perlu dibenahi. Ia ingin Bali dan Nuanu tumbuh sebagai destinasi kuliner yang diperhitungkan. 

"Karena itu, memulai dengan belajar dan mendengar terasa sebagai langkah yang paling tepat—jika kita ingin menemukan yang terbaik dari Indonesia sekaligus menghadirkan yang terbaik dari dunia, maka berdialog bersama para pemimpin hari ini adalah strategi yang relevan,” kata Lev.

Forum ini juga menjadi momentum penting bagi Nuanu Creative City untuk memperkenalkan Sutala Culinary District, distrik kuliner yang akan menjadi bagian dari kawasan pengembangan Nuanu seluas 44 hektare.

Sutala dirancang bukan hanya sebagai ruang fisik untuk restoran atau tempat makan, tetapi sebagai ekosistem gastronomi yang mendorong kolaborasi, inovasi, dan pengembangan jangka panjang bagi industri kuliner Bali.

Salah satu fokus utama diskusi dalam forum ini adalah menjaga identitas kuliner Bali di tengah derasnya pengaruh konsep internasional.

Chef Wayan Kresna Yasa, pemilik HOME by Chef Wayan dan Chef Patron KAUM, menekankan pentingnya inovasi yang tetap berakar pada budaya lokal.

“Masa depan gastronomi Bali bergantung pada kemampuan kita untuk berinovasi tanpa kehilangan akar budaya kita. Kita harus berinvestasi bukan hanya pada konsep-konsep baru, tetapi juga dalam menjaga pengetahuan, bahan, dan tradisi yang mendefinisikan kita,” ujarnya.

“Sebagai chef Bali, saya berterima kasih kepada Nuanu karena telah menciptakan platform di mana para pelaku di lapangan dapat berkumpul dan turut membentuk realitas industri kita,” katanya lagi.

Sejumlah tokoh kuliner internasional dan lokal turut hadir dalam forum ini, di antaranya Hans Christian (August), Syrco Bakker (Syrco Base), Chris Smith (7AM, Red Gun Powder, Woods), Nic Vanderbeeken (Aperitif), Will Goldfarb (Room4Dessert), hingga Pablo Fourcard dan Jordie Strybos (Milk & Madu, Banksia Hospitality).

Kehadiran para pelaku industri tersebut menegaskan bahwa Bali kini berada di titik penting dalam evolusi industri kulinernya.

Melalui forum Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders dan pengenalan Sutala Culinary District, Nuanu Creative City menegaskan ambisinya untuk berkontribusi menjadikan Bali tidak hanya sebagai destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga sebagai pusat gastronomi global.