INDUSTRY.co.id - Bekasi — Provinsi Jawa Barat terus menjadi penggerak ekonomi nasional, dan kawasan Cikarang Raya muncul sebagai episentrum pertumbuhan industri.
Di tengah pesatnya ekspansi kawasan, Kota Jababeka kembali menegaskan posisinya sebagai kota mandiri berbasis industri terbesar di Asia Tenggara, didukung lebih dari 2.000 perusahaan nasional dan multinasional.
Lonjakan populasi dan aktivitas industri mendorong kebutuhan konektivitas baru yang lebih cepat, terjangkau, dan terintegrasi. Sebagai hinterland Jabodetabek, kelancaran mobilitas di Jababeka kini menjadi faktor krusial penentu efisiensi logistik dan pergerakan pekerja harian.
Pada 21 November 2025, jajaran Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama pengembang kawasan industri melakukan peninjauan langsung untuk mematangkan konsep integrasi jaringan transportasi di Kabupaten Bekasi, termasuk Jababeka.
Kunjungan ini dipimpin oleh Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Ditjen Intram) untuk mengidentifikasi kebutuhan mobilitas serta memperkuat rencana Transit-Oriented Development (TOD) di kawasan strategis nasional ini.
Dirjen Intram Kemenhub, Risal Wasal mengapresiasi pesatnya pengembangan Jababeka.
“Perkembangan moda transportasi dan pola perjalanan masyarakat menjadi masukan penting bagi kami dalam memetakan kebutuhan mobilitas di Cikarang Raya," katanya.
Risal menambahkan, konsep integrasi antarmoda di Jababeka berpotensi meningkatkan kemudahan mobilitas secara signifikan dan pihaknya terbuka melanjutkan pembahasan teknis dengan pemerintah daerah serta pengelola kawasan.
Kajian akademisi mencatat adanya 770 ribu perjalanan harian di Cikarang Raya, dan 46% berasal atau menuju Kota Jababeka. Data ini membuktikan bahwa Jababeka bukan sekadar kawasan industri, tetapi poros mobilitas terbesar di Bekasi.
Menanggapi kunjungan Kemenhub, Jababeka mempercepat penerapan Transit-Oriented Development (TOD) untuk menghadirkan konektivitas yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Ivonne Anggraini, Presiden Direktur PT Graha Buana Cikarang menegaskan, TOD adalah langkah strategis untuk menciptakan ekosistem perkotaan yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan.
"Ini menjadikan Jababeka bukan hanya pusat industri, tetapi kota modern yang kompetitif di tingkat global," ungkap Ivonne.
Ia menekankan bahwa pengembangan infrastruktur tidak bisa dilakukan parsial dan membutuhkan kolaborasi multipihak untuk menghadirkan transportasi publik masa depan.
Saat ini, kota Jababeka kini ditopang berbagai moda transportasi publik yang terus berkembang, di antaranya: AO Shuttle rute Hollywood Junction–AEON Deltamas & Jakarta, DAMRI rute Jababeka–Bandara Soekarno-Hatta, Primajasa rute Jababeka–Bandung, Feeder Swatantra S01: Stasiun Cikarang–President University–Kota Jababeka, serta Akses KRL Cikarang & BISKITA yang terhubung ke LRT.
Ke depan, mobilitas kawasan akan semakin strategis dengan adanya, MRT Fase III Cikarang–Balaraja, pengembangan Commuter Line Cikarang–Cikampek. Proyek-proyek ini akan menjadi tulang punggung konektivitas koridor timur–barat Jabodetabek.
Jababeka juga diperkuat oleh Cikarang Dry Port, pusat logistik terpadu yang mempermudah distribusi industri, serta lokasi strategis yang dekat Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati.
“Peningkatan infrastruktur transportasi dan logistik akan memperkuat keyakinan investor dan meningkatkan kualitas hidup penghuni Jababeka. Ini adalah langkah menuju kota modern yang layak huni dan berkelanjutan," tutup Ivonne.