INDUSTRY.co.id - Sidoarjo – Industri alas kaki nasional terus menunjukkan performa gemilang di tengah dinamika ekonomi global. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (4/11), sebagai langkah memperkuat daya saing sektor alas kaki menuju era industrialisasi baru.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, industri alas kaki Indonesia merupakan subsektor unggulan yang berkontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja, ekspor, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 8,31 persen pada triwulan II 2025, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,12 persen,” ujarnya.
Kinerja ekspor alas kaki Indonesia terus meningkat. Pada periode Januari–Agustus 2025, nilai ekspor mencapai USD 5,16 miliar, tumbuh 11,89 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan capaian ini, Indonesia kini menempati posisi ke-6 eksportir alas kaki terbesar dunia, dengan Amerika Serikat sebagai pasar utama, disusul Uni Eropa dan negara emerging market lainnya.
Sementara itu, berdasarkan data BPS, terdapat 53.333 industri kecil alas kaki dengan serapan tenaga kerja 159.454 orang, serta 737 industri menengah-besar yang mempekerjakan 571.156 pekerja.
Peresmian Gedung BPIPI menjadi bagian dari implementasi Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Menteri Perindustrian, industrialisasi ke depan harus mengacu empat kerangka strategis yaitu: industrialisasi berbasis sumber daya alam, pengembangan ekosistem industri, penguasaan teknologi, penerapan prinsip keberlanjutan.
Untuk mempercepatnya, pemerintah menguatkan enabling factors seperti pasokan bahan baku, kawasan industri, logistik, energi, SDM, inovasi, dan kebijakan TKDN.
Gedung BPIPI sendiri menerapkan konsep Bangunan Gedung Hijau (BGH) yang hemat energi, ramah lingkungan, dan mendukung produktivitas.
Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan, BPIPI telah mendampingi lebih dari 13.000 SDM alas kaki di seluruh Indonesia, termasuk 3.608 pelaku IKM.
Dengan gedung baru seluas 14.044 m², BPIPI akan memperkuat layanan pendampingan teknis, pengujian alas kaki, sertifikasi profesi, inkubator bisnis, hingga pengembangan jejaring melalui Indonesia Footwear Network.
Gedung baru ini juga menggunakan 97,84 persen produk dalam negeri, dengan realisasi TKDN 61,51 persen sebagai dukungan nyata pada program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).
Peresmian BPIPI turut dirangkai kegiatan sosialisasi Kredit Industri Padat Karya (KIPK), pelatihan pembuatan sandal, fit & wear test sepatu, coaching clinic, hingga pemberian sepatu sekolah untuk siswa.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ekosistem industri alas kaki dari hulu ke hilir, termasuk inovasi desain, pengujian kualitas produk, dan pengembangan SDM berbasis vokasi.
Dengan fasilitas baru dan strategi industrialisasi jangka panjang, pemerintah optimistis Indonesia mampu mempertahankan posisi sebagai pemain utama industri alas kaki global dan memperluas pasar ekspor.