INDUSTRY.co.id - Tanggamus - Kemerdekaan bagi Yopanda (38) kini memiliki makna yang lebih luas. Bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi juga terbebas dari ketidakpastian penghasilan, keterbatasan pendidikan, dan minimnya akses terhadap kesempatan untuk berkembang.
Pria yang sebelumnya menggantungkan hidup sebagai petani dan pekerja serabutan itu kini telah menjadi supervisor di Pabrik AQUA Tanggamus, Lampung.
Perjalanan Yopanda menjadi bagian dari industri modern bermula ketika pembangunan Pabrik AQUA Tanggamus berlangsung. Ia sempat terlibat dalam proyek konstruksi dan bekerja bersama tim engineering.
Dari lingkungan tersebut, Yopanda mulai mengenal dunia kerja industri yang berbeda jauh dari kesehariannya sebagai petani.
Jika sebelumnya penghasilan sangat bergantung pada cuaca dan musim panen, pekerjaan di industri memberinya pendapatan yang lebih stabil dan dapat direncanakan. Namun, perubahan yang dirasakan Yopanda tidak berhenti pada aspek ekonomi.
Saat bekerja bersama tim engineering, Yopanda melihat rekan-rekannya menggunakan komputer dan laptop untuk menyelesaikan pekerjaan.
Ketika itu, ia belum memiliki ijazah setara SMA. Keinginan untuk belajar pun semakin kuat.
Kesempatan datang ketika Pabrik AQUA Tanggamus membuka program Paket C bagi masyarakat sekitar yang belum memiliki ijazah SMA. Yopanda menjadi salah satu dari sekitar 20 warga yang mengikuti program tersebut.
Di tengah kesibukannya bekerja, ia kembali belajar dua kali dalam seminggu hingga akhirnya memperoleh ijazah Paket C.
"Saya lihat teman-teman di engineering bisa menggunakan komputer dan laptop. Dari situ saya tergerak, saya juga ingin bisa. Ketika ada program Paket C, saya ikut karena ingin mendapat ijazah sekaligus menambah pengetahuan," ujar Yopanda.
Kini, keterampilan yang dahulu hanya dilihatnya dari rekan kerja telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Selain memperoleh pendidikan formal, Yopanda juga mengalami perubahan dalam budaya kerja. Ia belajar mengenai disiplin waktu, prosedur kerja, serta pentingnya keselamatan.
Kebiasaan tersebut bahkan terbawa ketika dirinya kembali melakukan aktivitas di kebun.
"Dulu ketika bekerja sebagai petani, kami tidak terlalu mengenal aturan keselamatan seperti di industri. Setelah bekerja di sini, kami jadi lebih peduli. Bahkan ketika sedang libur dan pergi ke kebun, tanpa sadar kebiasaan tentang keselamatan itu ikut kami terapkan," tuturnya.
Kisah Yopanda menjadi salah satu gambaran dampak keberadaan Pabrik AQUA Tanggamus terhadap masyarakat di sekitarnya.
Sejak beroperasi pada April 2016, perusahaan mengaku memprioritaskan masyarakat lokal untuk menjadi bagian dari tenaga kerja.
Data per Agustus 2026 menunjukkan sekitar 90 persen karyawan Pabrik AQUA Tanggamus berasal dari masyarakat sekitar.
Kepala Pabrik AQUA Tanggamus, Teguh Santoso mengatakan, komposisi tersebut dibangun melalui proses panjang, termasuk pemberian pelatihan kepada warga yang sebelumnya bekerja di sektor pertanian maupun pekerjaan informal.
"Bagi kami, membangun pabrik berarti juga membangun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal, dan hari ini mayoritas karyawan kami adalah putra-putri daerah yang tumbuh bersama Pabrik AQUA Tanggamus," kata Teguh.
Pada tahun pertama operasional, masyarakat sekitar mendapat berbagai pelatihan untuk mengenal dunia manufaktur.
Pelatihan tidak hanya menyangkut keselamatan kerja, tetapi juga keterampilan teknis yang diperlukan di lingkungan industri, termasuk pengelasan atau welding dan kompetensi operasional lainnya.
Program tersebut juga terbuka bagi masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan usia yang beragam.
Komitmen Pabrik AQUA Tanggamus terhadap masyarakat juga dilakukan melalui berbagai program keberlanjutan dengan mengusung filosofi lokal "Begawi Jejama" yang berarti bekerja bersama dan bergotong royong.
Di wilayah hulu Pegunungan Tanggamus, perusahaan bersama masyarakat telah menanam lebih dari 11.000 pohon dan membangun sekitar 700 rorak atau lubang resapan air sejak 2016 hingga 2026.
Upaya tersebut ditujukan untuk memperkuat daerah tangkapan air, mengurangi risiko erosi, serta menjaga kelestarian sumber daya air. Program itu juga disertai pendampingan kepada petani kopi agar produktivitas meningkat melalui praktik budidaya ramah lingkungan.
Di wilayah hilir, perusahaan mengembangkan Taman Kehati Galih Batin seluas sekitar 3,2 hektare sebagai ruang terbuka hijau sekaligus pusat edukasi lingkungan.
Penelitian bersama Universitas Lampung pada 2025 menunjukkan kawasan tersebut memiliki indeks keanekaragaman hayati sebesar 3,16 yang tergolong tinggi. Sedikitnya enam spesies tanaman endemik dan 22 jenis burung telah teridentifikasi di kawasan tersebut.
Program lainnya adalah Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) yang ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi.
Hingga saat ini, program tersebut telah memberikan manfaat kepada 1.037 warga melalui 203 sambungan akses air bersih yang terhubung langsung ke rumah-rumah warga.
Di bidang pengelolaan sampah, program "Sampahku Tanggung Jawabku" telah mengelola sekitar 378 ton sampah plastik sejak dimulai hingga 2026.
Makna Kemerdekaan bagi Masyarakat
Bagi Yopanda, perjalanan dari petani hingga menjadi supervisor menunjukkan bahwa kesempatan dapat mengubah kehidupan seseorang ketika disertai kemauan untuk belajar.
Ia kini memiliki ijazah setara SMA, keterampilan teknis, kemampuan menggunakan komputer, serta penghasilan yang lebih stabil.
Kemerdekaan yang dirasakannya bukan lagi sekadar terbebas dari persoalan masa lalu, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menentukan masa depan.
Teguh mengatakan, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa juga membutuhkan masyarakat yang memiliki kesempatan untuk tumbuh dan semakin mandiri.
"Bagi kami, semangat kemerdekaan hari ini adalah tentang membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk hidup dengan kualitas yang lebih baik dan mendorong setiap individu dapat menjadi versi terbaik mereka. Kisah Yopanda adalah salah satu contohnya, dan kami ingin Pabrik AQUA Tanggamus terus menjadi bagian dari perjalanan itu," ujar Teguh.
Perjalanan Yopanda menunjukkan bahwa keberadaan industri di suatu daerah tidak hanya berbicara mengenai aktivitas produksi. Ketika masyarakat lokal mendapat akses terhadap pendidikan, pelatihan, pekerjaan, dan pemberdayaan, sebuah pabrik juga dapat menjadi bagian dari perjalanan masyarakat menuju kehidupan yang lebih mandiri.