Harga daging sapi di Indonesia pada Agustus 2026 terus menunjukkan tren kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga rata-rata daging sapi nasional mencapai Rp143.737 per kilogram pada pekan pertama Agustus 2026, naik 0,54% dibandingkan Juli 2026.
Harga tersebut sudah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp140.000 per kg. Kondisi ini membuat harga daging sapi menjadi salah satu sorotan utama inflasi pangan nasional.
Harga Daging Sapi di Berbagai Daerah
Lonjakan harga tidak merata di seluruh Indonesia. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional per 12 Agustus 2026, berikut harga daging sapi di sejumlah wilayah:
- Maluku — Rp175.340/kg (pasar modern), termahal secara nasional
- Kalimantan Tengah — Rp155.950/kg (pasar tradisional)
- Sumatera Selatan — Rp147.500/kg (pasar tradisional)
- Jakarta (Pasar Tomang Barat) — Rp160.000–180.000/kg
- Bali — Rp122.417/kg (daging has luar)
BPS bahkan mencatat ada daerah yang harga daging sapinya menembus Rp200.000 per kg pada awal Agustus ini, terutama di wilayah dengan jangkauan distribusi yang terbatas.
Harga Sapi Hidup di Tingkat Peternak
Di tingkat peternak, harga sapi hidup juga mengalami tekanan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengunci harga sapi hidup di level Rp55.000 per kg berat badan menjelang Ramadhan hingga Idulfitri 2026. Sementara itu, Kementerian Pertanian mengupayakan agar harga sapi hidup tidak jatuh di bawah Rp50.000 per kg.
Menteri Pertanian menegaskan bahwa jika ditemukan pelaku usaha yang menekan harga sapi hidup di bawah Rp48.000–Rp50.000 per bobot badan, tindakan tegas akan diambil sesuai regulasi. Langkah ini untuk melindungi peternak dari praktik penekanan harga oleh tengkulak.
Pemerintah juga telah menaikkan HAP sapi hidup di tingkat produsen serta HAP daging kerbau di tingkat konsumen untuk menjaga keseimbangan pasar.
Apa Penyebab Kenaikan?
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa kenaikan harga daging sapi dipicu oleh beberapa faktor:
- Distribusi yang tidak merata — daerah dengan jangkauan distribusi sulit mengalami harga lebih tinggi
- Pasokan terbatas — stok sapi potong domestik belum mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat
- Biaya pakan dan ternak — biaya pemeliharaan sapi yang naik berdampak pada harga jual
- Musim kurban — permintaan meningkat menjelang Idul Adha yang jatuh pada Mei-Juni 2026
Mendag meminta agar impor daging sapi digenjot untuk menekan harga di tingkat konsumen. Namun, impor juga menghadapi tantangan berupa ketersediaan kuota dan harga internasional yang fluktuatif.
Dampak terhadap Konsumen
Kenaikan harga daging sapi berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Di pasar-pasar tradisional Jakarta, pedagang melaporkan bahwa harga seminggu bisa naik dua kali. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan harga komoditas pangan lain seperti cabai, telur, dan bawang.
Bagi konsumen, beberapa alternatif yang bisa dipertimbangkan:
- Daging kerbau impor — harga lebih terjangkau, tersedia di pasar modern
- Daging ayam — meskipun juga mengalami kenaikan, masih lebih murah dari sapi
- Ikan — sumber protein alternatif dengan harga relatif stabil
Proyeksi ke Depan
Menjelang akhir tahun 2026, harga daging sapi diprediksi masih akan bertahan di level tinggi. Permintaan yang terus meningkat sementara pasokan domestik terbatas menjadi faktor utama. Pemerintah terus memantau dan mengambil langkah-langkah stabilisasi, termasuk mempercepat distribusi dan mengoptimalkan impor.
Masyarakat diimbau untuk bijak dalam mengonsumsi daging sapi dan mempertimbangkan sumber protein alternatif untuk menjaga kebutuhan gizi tanpa memberatkan pengeluaran.