INDUSTRY.co.id, Jakarta-Ribuan pengunjung memadati Anjungan Nusa Tenggara Timur (NTT), Taman Mini Indonesia Indah (TMII), saat Festival Budaya Manggarai yang digelar Ikatan Keluarga Manggarai Djakarta (IKAMADA) pada Minggu, 2 Agustus 2026.

Festival menampilkan ragam pertunjukan tradisional, pameran kuliner, dan kirab budaya yang menghadirkan suasana seperti pesta adat di kampung halaman mereka di Manggarai Flores. Beberapa kesenian khas yang dipertunjukkan antara lain tarian Caci, Sanda, Mbata, Danding Ndudundake, dan Goyang Ria yang diiringi lagu-lagu timur.

Sebelum pertunjukan utama, panitia menggelar kirab budaya yang diikuti hampir 1.000 orang. Peserta sudah antre sejak pukul 05.00 pagi untuk masuk TMII, lalu berjalan kaki sejauh sekitar 1 kilometer dari Plaza Kori Agung menuju Anjungan NTT. Kirab diiringi nyanyian adat dan bunyi gendang dan sempat berhenti di depan dua Gereja TMII sebagai bentuk penghormatan karena ibadah Minggu sedang berlangsung.

“Suasana seperti kembali ke kampung halaman,” kata salah satu peserta yang datang mengenakan songke dan busana tradisional Manggarai.

Selain pertunjukan, festival menyediakan stan kuliner yang menyajikan hidangan khas Manggarai, seperti kompiang, soto ayam, kopi Congkar Manggarai, menu dapur molas, ayam Putus Lidah, Cucur Gola Manggarai, menu daun kelor, dan lain menu khas lainnya. Panitia juga menyiapkan 1.000 porsi soto ayam gratis untuk pengunjung. Pelaku UMKM Manggarai memang juga memanfaatkan acara untuk mempromosikan produk kuliner dan tenun songke, kain tradisional yang menjadi kebanggaan warga Manggarai.

“Songke tidak hanya ragam hias. Banyak motif terinspirasi alam, seperti flora, baru kemudian fauna. Karena asosiasi pertama orang Manggarai adalah alam,” ujar Rikard Bagun, Ketua IKAMADA, yang hadir pada kegiatan tersebut.

Festival kali ini mengusung tema “REKO B'EO TANAH KUNI AGU KALO,” yang bermakna mencintai dan merawat nilai-nilai budaya. Menurut Gaudens Wodar, salah satu tokoh Manggarai, tema itu menegaskan bahwa cinta terhadap budaya adalah wujud menjaga spiritualitas dan nilai-nilai dasar kehidupan.

“Merawat budaya berarti merawat identitas dan asal-usul, meski kita merantau jauh,” kata Gaudens, mantan aktivis PMKRI. Ia menambahkan bahwa meski pertunjukan caci tampak seperti saling pukul, praktik itu diatur oleh norma dan etika ketat, sebuah warisan spiritual yang perlu dilestarikan. Ia juga meminta dukungan pemerintah agar tradisi ini berkelanjutan.

Festival diselenggarakan atas inisiatif IKAMADA bekerja sama dengan komunitas diaspora Manggarai se-Jabodetabek, Seperti Komunitas Perempuan Manggarai (KPM), AK5 Jakarta Barat, IKAMASI Bekasi dan DEBORA Depok Bogor Raya serta  didukung oleh mahasiswa Manggarai yang sedang menempuh studi di berbagai kampus di Jabodetabek.

Ketua panitia, Libertus Jehani, menyatakan panitia menyediakan sekitar 650 tiket gratis untuk memudahkan partisipasi warga dan rombongan kirab.

Acara mendapat perhatian media. Sejumlah stasiun televisi nasional, seperti DAAI TV, CNN TV, Garuda TV, dan Gratia TV hadir meliput. Selain itu, ratusan content creator, YouTuber, serta pegiat media sosial juga mendokumentasikan kegiatan.

Menurut penyelenggara, Festival Budaya Manggarai bukan sekadar hiburan, melainkan sarana memperkenalkan Manggarai sebagai destinasi wisata budaya. Kegiatan ini diharapkan membuka ruang bagi pengembangan ekonomi kreatif lokal dan pelestarian tradisi.

Dengan kombinasi pertunjukan tradisional, kuliner, dan partisipasi diaspora, festival kali ini memperlihatkan bagaimana komunitas perantau menjaga akar budaya sambil memperkuat jaringan sosial di perantauan. Gelaran di TMII menjadi contoh nyata bagaimana identitas daerah dapat dipertahankan dan disampaikan ke publik yang lebih luas.

“Luar biasa. Diaspora Manggarai ini tumpah ruah hingga ke jalan, dan penonton setia menunggu sampai selesai. Kami memperkirakan sekitar 5.000 orang hadir,” ujar seorang warga yang sering mengikuti acara serupa di TMII.