INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ketidakpastian masih membayangi perekonomian dunia. Eskalasi ketegangan geopolitik, termasuk memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, mendorong kenaikan harga minyak, meningkatkan volatilitas pasar keuangan, serta memperbesar risiko terhadap perdagangan global. 

Di sisi lain, suku bunga Amerika Serikat diproyeksikan tetap tinggi, sementara laju pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat.

Di tengah dinamika tersebut, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan daya tahan. Pada triwulan I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen—menjadi capaian pertumbuhan triwulan pertama tertinggi sejak 2014.

Ketahanan tersebut ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik yang terus menguat. Konsumsi masyarakat tetap menjadi motor penggerak, didukung peningkatan penjualan listrik di berbagai segmen, membaiknya permintaan kendaraan, meningkatnya aktivitas pariwisata, hingga naiknya tingkat hunian hotel. 

Optimisme konsumen pun tetap terjaga, sejalan dengan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. 

Hal ini turut diperkuat oleh keputusan S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan peringkat Investment Grade Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan prospek stabil.

Dari sisi fiskal, hingga 30 Juni 2026 pendapatan negara telah mencapai Rp1.459,4 triliun. Sementara itu, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp1.656 triliun untuk mendukung berbagai program yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Melalui Transfer ke Daerah, #UangKITA mendukung penyaluran Dana BOS bagi 42,3 juta siswa, bantuan operasional pendidikan untuk 5,8 juta peserta didik PAUD, serta pembayaran tunjangan bagi 616 ribu guru. 

Di sektor perumahan, pembiayaan melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) telah membantu penyediaan 91.531 unit rumah layak huni yang tersebar di 35 provinsi.

Komitmen memperkuat ketahanan pangan juga terus dijalankan. #UangKITA dimanfaatkan untuk mendukung penyerapan 3,5 juta ton gabah sekaligus memperkuat Cadangan Beras Pemerintah melalui peran BULOG.

Secara keseluruhan, kinerja APBN pada semester I 2026 tetap terjaga. Pendapatan negara tumbuh kuat, belanja negara bergerak lebih cepat, dan defisit tetap berada dalam batas yang aman. 

Melalui #UangKITA, APBN terus dioptimalkan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat pelayanan publik, serta mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global.