INDUSTRY.co.id - Jakarta – Keselamatan penerbangan tidak hanya ditentukan oleh sistem dan teknologi di udara, tetapi juga ditopang oleh rantai operasional di darat yang memastikan awak pesawat dapat tiba tepat waktu dan dalam kondisi siap bertugas. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap aspek keselamatan transportasi, PT Aerotrans memperkuat pengelolaan armadanya melalui pemanfaatan teknologi telematika untuk meningkatkan visibilitas dan menekan risiko kecelakaan.

Sebagai penyedia layanan transportasi darat bagi Garuda Indonesia Group, Aerotrans mengoperasikan lebih dari 700 kendaraan dengan lebih dari 1.200 perjalanan setiap bulan. Skala operasional tersebut menghadirkan tantangan tersendiri, mulai dari pengawasan armada, pemantauan perilaku pengemudi, hingga mitigasi risiko kecelakaan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Aerotrans menggandeng Geotab, perusahaan penyedia solusi armada terhubung, dengan mengimplementasikan platform berbasis data real-time yang memungkinkan pemantauan kondisi kendaraan, perilaku pengemudi, hingga potensi risiko operasional secara langsung.

Direktur Aerotrans Kadek Bayu Temaja mengatakan transformasi yang dilakukan perseroan tidak sekadar terkait adopsi teknologi, tetapi juga untuk menjaga standar keselamatan dan ketepatan operasional secara konsisten.

“Transformasi ini bukan hanya tentang adopsi teknologi, tetapi bagaimana kami memastikan keselamatan dan presisi operasional secara konsisten di seluruh armada. Geotab menghadirkan platform yang selaras dengan nilai kami, terutama dalam hal presisi dan keselamatan. Bagi Aerotrans, Geotab bukan hanya sekedar produk, melainkan mitra strategis,” ujar Kadek.

Melalui sistem tersebut, tim operasional dapat memantau lokasi kendaraan, kondisi mesin, hingga perilaku berkendara seperti pengereman mendadak dan akselerasi agresif. Sejak implementasi pada September 2024, Aerotrans mengklaim telah mencatat sejumlah perbaikan dalam aspek keselamatan dan efisiensi.

Perusahaan berhasil membukukan skor keselamatan sebesar 89%, melampaui rata-rata armada sejenis di kawasan regional. Selain itu, prediksi tingkat kecelakaan per kilometer meningkat 61%, sementara insiden pengereman mendadak turun 57% dan akselerasi agresif berkurang 66%. Di sisi lain, durasi kendaraan dalam kondisi idle juga turun 22%, yang berdampak pada efisiensi konsumsi bahan bakar dan operasional.

Associate Vice President Southeast Asia Geotab, Ezanne Soh, mengatakan pemanfaatan data dan teknologi menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi armada sekaligus meningkatkan keselamatan transportasi.

“Tujuan kami adalah membantu organisasi seperti Aerotrans memaksimalkan potensi armada mereka melalui data dan teknologi canggih. Dalam konteks operasional penerbangan, kemitraan ini menunjukkan bagaimana insight real-time dari platform Geotab dapat meningkatkan efisiensi, memperkuat keselamatan transportasi awak, serta mendukung operasional aviasi yang lebih andal dan berkelanjutan,” kata Ezanne.

Dalam industri penerbangan, ketepatan waktu penjemputan awak menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran operasi. Melalui teknologi geofencing dan pemetaan lokasi secara real-time, Aerotrans kini dapat meningkatkan akurasi penjemputan serta meminimalkan potensi keterlambatan.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi Transportasi (Control Center) Aerotrans, Hermawan, mengatakan fitur geofencing memungkinkan perusahaan memantau kendaraan yang memasuki zona operasional penting secara lebih presisi.

“Geofencing merupakan salah satu fitur unggulan Geotab. Fitur ini memungkinkan kami melacak kendaraan yang mendekati zona operasional penting seperti area bandara di Denpasar atau Soekarno-Hatta, sehingga kami memiliki visibilitas real-time atas posisi kendaraan secara presisi,” ujar Hermawan.

Ke depan, Aerotrans berencana mengintegrasikan teknologi Geotab dengan sistem Transport Management System (TMS) internal untuk membangun ekosistem operasional yang lebih terhubung. Integrasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan akurasi pengiriman, mempercepat waktu respons, serta mengoptimalkan pemanfaatan armada melalui identifikasi kendaraan terdekat yang tersedia.

Langkah tersebut dinilai tidak hanya memperkuat operasional internal perusahaan, tetapi juga membuka peluang penerapan teknologi serupa pada sektor transportasi lain, termasuk pariwisata dan logistik. Dengan demikian, digitalisasi sistem pendukung di darat semakin menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem transportasi yang aman, efisien, dan terintegrasi.