INDUSTRY.co.id - BUDAPEST — Pemerintah Indonesia terus memperluas promosi investasi ke kawasan Eropa Tengah dan Timur dengan menawarkan peluang investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang kepada pelaku usaha Hungaria. Upaya tersebut dilakukan melalui forum bisnis bertajuk Indonesia’s New Economic Frontier: Investing in Batang Integrated Estate and Health Special Economic Zone yang berlangsung di Budapest, Hungaria, pada 21 Mei 2026.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang. Dalam forum tersebut, pemerintah menyoroti peran KEK sebagai instrumen utama dalam mendorong transformasi ekonomi nasional melalui pembangunan ekosistem industri terintegrasi, pemberian insentif investasi yang kompetitif, serta dukungan konektivitas strategis ke kawasan Indo-Pasifik.

“Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, kami mengundang dunia usaha internasional tidak hanya untuk menyaksikan transformasi Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan tersebut,” ujar Edwin dalam sambutannya.

Menurut Edwin, Indonesia dan Hungaria memiliki peluang besar untuk memperkuat kerja sama di sektor kesehatan, farmasi, sains, dan inovasi. Ia menilai Hungaria memiliki keunggulan sebagai pusat riset farmasi di kawasan Eropa Tengah dan Timur, sementara Indonesia menawarkan pasar yang besar serta infrastruktur yang mendukung investasi jangka panjang.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Agung Putu Ngurah Wirawan, memaparkan perkembangan kawasan yang terus menarik minat investor. Hingga saat ini, KEK Industropolis Batang telah membukukan investasi senilai US$1,3 miliar dan menyerap sekitar 11.000 tenaga kerja langsung.

Agung mengungkapkan tingginya minat investor tercermin dari realisasi penjualan lahan yang jauh melampaui rata-rata kawasan industri nasional. “Pada 2024, penjualan lahan di KEK Industropolis Batang mencapai 104 hektare dan pada 2025 telah mencapai 97 hektare. Angka ini jauh di atas rata-rata penjualan kawasan industri pada umumnya yang hanya berkisar 15–20 hektare per tahun. Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap potensi dan daya saing KEK Industropolis Batang,” katanya.

Selain memperkenalkan KEK Industropolis Batang, pemerintah juga mempromosikan sejumlah KEK sektor kesehatan, antara lain KEK Sanur, KEK Pariwisata dan Kesehatan Internasional Batam, serta KEK Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional Banten. Promosi dilakukan melalui forum bisnis dan pertemuan bisnis langsung dengan calon investor.

Dalam sesi business matching, sejumlah peluang kerja sama dibahas, termasuk pengembangan sistem pengelolaan air dan daur ulang air industri, investasi properti dan fasilitas penunjang bagi pekerja kawasan, hingga penjajakan skema pendanaan bersama antara pemerintah Indonesia dan Hungaria untuk mendukung proyek strategis.

Forum tersebut juga menghasilkan dua nota kesepahaman bisnis antara PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) sebagai pengelola KEK Industropolis Batang dengan perusahaan Hungaria, Merlion Tech Ltd dan Iconic Energi Kft. Kedua perusahaan tersebut bergerak di bidang energi terbarukan, efisiensi energi, dan keberlanjutan lingkungan.

Sebelum pelaksanaan forum, delegasi Indonesia lebih dahulu melakukan pertemuan dengan Hungarian Export Promotion Agency (HEPA), Hungarian Chamber of Commerce and Industry (HCCI), serta Hungarian Water Partnership. Dalam pertemuan itu, pihak Hungaria menunjukkan ketertarikan terhadap peluang kerja sama di sektor pengelolaan air, energi hijau, teknologi digital, dan pengembangan kota pintar.

Bahkan, HCCI mengusulkan agar KEK Industropolis Batang dijadikan proyek percontohan penerapan teknologi pengolahan air asal Hungaria di Indonesia. Usulan tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan kawasan industri modern yang semakin menekankan aspek keberlanjutan dan efisiensi sumber daya.

Pemerintah menilai rangkaian promosi investasi tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia di kawasan Eropa Timur dan Tengah. Selain membuka peluang masuknya investasi baru, inisiatif tersebut juga berpotensi mempercepat transfer teknologi di sektor energi hijau, pengelolaan air, teknologi digital, dan manufaktur berteknologi tinggi.

Sebagai tindak lanjut, Sekretariat Jenderal Dewan Nasional KEK bersama KITB dan sejumlah kementerian serta lembaga terkait akan mempercepat agenda business matching lanjutan, kunjungan investor ke Indonesia, serta pembahasan implementasi kerja sama investasi yang telah dijajaki dalam forum tersebut.