INDUSTRY.co.id - Jakarta, Delegasi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 akhirnya menghirup udara kebebasan. Setelah sempat ditahan militer Israel dalam misi solidaritas menuju Gaza, seluruh aktivis, termasuk sembilan Warga Negara Indonesia (WNI), kini dilaporkan telah dibebaskan dan bersiap kembali ke negara masing-masing.

Kabar tersebut disambut penuh syukur oleh jejaring solidaritas kemanusiaan internasional. Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) memastikan para relawan yang sebelumnya mengalami penahanan kini telah masuk proses pemulangan melalui jalur diplomatik dan pendampingan hukum internasional.

“Alhamdulillah saudara kita ada dalam daftar yang diberikan oleh penjajah kepada tim, dan nama mereka termasuk yang akan naik (pesawat), tapi kemudian bisa benar-benar bebas dari penculikannya atau tidak menunggu informasi lebih lanjut,” ujar Maimon Herawati, Steering Committee Global Peace Convoy Indonesia.

Pembebasan ini disebut terjadi setelah tekanan dan solidaritas global terus mengalir dari berbagai penjuru dunia. Sedikitnya 428 aktivis Global Peace Convoy dilaporkan telah dilepas oleh otoritas Israel.

Pemerintah Indonesia pun mengonfirmasi perkembangan tersebut. Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan bahwa sembilan WNI yang sebelumnya ditangkap saat operasi pencegatan kini telah meninggalkan wilayah Israel menuju Turki.

“Pemerintah Indonesia dengan penuh rasa syukur menyampaikan bahwa sembilan warga negara Indonesia yang ditangkap oleh militer Israel dalam pencegatan kapal dan penangkapan relawan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2.0. Saat ini dalam perjalanan meninggalkan wilayah Israel menuju Istanbul, Turki, dan akan segera melanjutkan perjalanan ke Tanah Air,” ujar Sugiono.

Para delegasi dijadwalkan diterbangkan menuju Istanbul melalui Bandara Umm Al Rashrash, yang oleh Israel disebut Bandara Eilat/Ramon. Meski situasi disebut masih dinamis, sejumlah sumber memastikan proses deportasi dan pemulangan sedang berlangsung.

Tiga penerbangan Turkish Airlines disebut disiapkan untuk membawa para relawan keluar dari wilayah Palestina, masing-masing dengan nomor penerbangan TK 6919, TK 6921, dan TK 6925. Pemulangan ini dilaporkan menggunakan penerbangan khusus yang disewa Pemerintah Turki, bukan jalur komersial reguler.

Sementara itu, tim hukum Adalah Legal Center terus memantau proses keberangkatan para aktivis untuk memastikan seluruh delegasi dapat keluar dengan aman.

“Proses deportasi ini akan diawali proses interview, semacam pemeriksaan ke semua partisipan yang dilakukan oleh pihak Israel, kemudian dipindahkan ke bandara lalu dideportasi, kami masih memantau perkembangan ini secara langsung,” ungkap Syamsul Ardiansyah, Aktivis GPCI sekaligus Manager Aliansi Strategis Dompet Dhuafa.

Menurut Syamsul, para relawan nantinya juga akan menjalani pemeriksaan kesehatan setibanya di Turki setelah mengalami luka selama masa penahanan.

“Selanjutnya kami akan menyambut kedatangan para relawan kemanusiaan, yang sebelumnya masih dalam proses cek kesehatan di Turki dari luka yang dialami selama penahanan oleh militer Israel," tambah Syamsul.