INDUSTRY.co.id - Jakarta, Educational Testing Service (ETS) bersama Indonesian International Education Foundation (IIEF) menggelar TOEFL Experience Day di The Ritz-Carlton Jakarta, Kamis (22/5). Kegiatan ini menjadi ruang interaktif bagi tenaga pendidik, konselor pendidikan, institusi, hingga para pemangku kepentingan pendidikan untuk memahami perkembangan terbaru TOEFL iBT dan relevansinya terhadap kebutuhan komunikasi akademik global.
Meningkatnya minat pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan internasional membuat kemampuan bahasa Inggris akademik menjadi kebutuhan penting. TOEFL iBT saat ini diterima di lebih dari 13.000 institusi di 160 negara sebagai syarat studi, mobilitas akademik, hingga komunikasi global. Tes tersebut dirancang untuk mengukur kemampuan membaca, mendengarkan, berbicara, dan menulis dalam konteks akademik.
Dalam kesempatan tersebut, ETS dan IIEF memperkenalkan pembaruan TOEFL iBT 2026 yang menghadirkan skala penilaian baru 1–6, desain tes adaptif, serta penekanan lebih kuat pada kemampuan komunikasi akademik. Pembaruan ini disebut bertujuan menghadirkan asesmen bahasa Inggris yang lebih relevan, mudah dipahami, dan sesuai dengan perkembangan pendidikan global yang semakin kolaboratif serta digital.
“Pendidikan dan komunikasi berkembang dengan sangat cepat, sehingga asesmen juga perlu ikut beradaptasi. Melalui pembaruan TOEFL iBT 2026, kami ingin menghadirkan pengalaman asesmen yang lebih relevan dengan keterampilan komunikasi masa depan yang mencerminkan cara pelajar belajar serta berkomunikasi di lingkungan akademik saat ini,” ujar Sidnei De Souza di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Sidnei menambahkan, pembaruan TOEFL iBT juga menghadirkan pengalaman asesmen yang lebih autentik melalui berbagai tipe tugas baru yang mencerminkan pola komunikasi di lingkungan akademik maupun profesional saat ini, termasuk aktivitas menulis email dan interaksi berbasis wawancara.
Melalui TOEFL Experience Day, peserta memperoleh kesempatan mengikuti pengalaman interaktif TOEFL iBT, diskusi panel, serta dialog bersama perwakilan ETS dan IIEF. Sesi tersebut diharapkan dapat membantu para pendidik memahami perkembangan asesmen bahasa Inggris sehingga mampu mendampingi pelajar memilih tes yang sesuai dengan kebutuhan akademik mereka.
Sementara itu, Diana Kartika mengatakan penggunaan sertifikasi bahasa Inggris kini semakin luas dan tidak lagi terbatas untuk kebutuhan studi luar negeri semata.
“Saat ini kami melihat penggunaan sertifikat bahasa Inggris semakin berkembang, tidak hanya untuk kebutuhan studi luar negeri, tetapi juga untuk program beasiswa, pertukaran pelajar, dan berbagai jalur pendidikan internasional lainnya. Di saat yang sama pelajar juga semakin mempertimbangkan asesmen yang fleksibel dan relevan dengan kebutuhan komunikasi modern,” ujarnya.
Menurut Diana, IIEF terus memperluas kerja sama dengan berbagai mitra lokal guna meningkatkan kesadaran, menyediakan sumber persiapan, serta mendukung akses TOEFL iBT bagi pelajar di berbagai daerah di Indonesia.
Acara ini juga menghadirkan Chuong Nguyen yang membagikan perspektif mengenai kebutuhan asesmen bahasa Inggris di kawasan Asia Tenggara dan bagaimana TOEFL iBT terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pelajar maupun institusi pendidikan.