INDUSTRY.co.id - Jakarta-Pentingnya Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) untuk perbaikan dan peningkatan hasil produksi Sawit. Sampai saat ini belum ada mandatori terhadap Sawit.

Iim Mucharam, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian menjelaskan yang ada volunteer bagi Petani Sawit.


"Belum ada mandatori, baru volunteer," kata dia di Diskusi Forwatan dengan Tema "Mandatori PSR Solusi Peningkatan Produktifitas Sawit" di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Target PSR yang mulanya 120 ribu ha, kata dia turun menjadi 50 ribu untuk replating dan lainnya.


Diketahui secara umum, lanjut dia, Indonesia memiliki luas perkebunan kelapa sawit mencapai 16,83 jutabHa. Dari luas lahan tersebut, Indonesia memproduksi sekitar 46,7 juta ton hingga 46,82 juta ton minyak sawit setiap tahunnya, yang menjadikannya sebagai produsen kelapa sawit terbesar dan penyumbang sekitar 59% pasokan minyak kelapa sawit global.

Ia menyebutkan mengapa target PSR turun agar lebih realistis.

"Berpikir objektif, dana ada di LPDP. Sepakat target realistis," jelasnya.

Untuk merealisasikan target PSR, kata dia mempunyai berbagai macam tantangan. Mulai dari legalitas lahan, luas lahan.


Kemudian kata dia, melaksanakan PSR memiliki dua jalur, pertama Dinas dan Kedua Kelembagaan.

Tadi disebutkan, belum ada mandatori masih volunteer. Maka PSR belum maksimal.

"Masalahnya sekarang harga lagi bagus, petani enggan PSR karena jika PSR itu lama," jelasnya.

Muhammad Iqbal, Kepala Divisi Kebijakan dan Sosialisasi Peremajaan Sawit Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menjelaskan petani sawit itu ada yang Kemitraan, Lepas dan Swadaya.

"Banyak petani yang mundur, gara - gara takut dipanggil Polisi, padahal 60 juta dana PSR Per ha disiapkan," jelasnya.