INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI kembali menunjukkan daya tariknya di pasar global. BUMN pembiayaan infrastruktur itu sukses menghimpun dana US$ 300 juta melalui penerbitan obligasi global tenor lima tahun, sekaligus mencetak rekor baru sebagai lembaga keuangan non-bank Indonesia dengan spread paling ketat untuk tenor serupa di pasar internasional.
Penerbitan senior unsecured fixed rate notes tersebut menjadi langkah comeback PT SMI ke pasar obligasi dolar AS setelah terakhir kali menerbitkan surat utang global pada 2021. Obligasi ini diterbitkan di bawah skema Euro Medium Term Note (EMTN) senilai US$ 2 miliar dan mengantongi peringkat investasi Baa2 dari Moody’s serta BBB dari Fitch Ratings.
Keberhasilan transaksi ini tidak lepas dari derasnya minat investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia dan sektor infrastruktur nasional. PT SMI mulai memasarkan obligasi tersebut pada 6 Mei 2026 melalui rangkaian pertemuan virtual dengan investor institusional di Asia dan Eropa. Respons pasar disebut langsung positif sejak awal penjajakan.
Awalnya, perseroan membuka panduan harga di kisaran 5,45%. Namun tingginya permintaan membuat ruang pengetatan harga semakin besar. Pada akhirnya, obligasi ditetapkan dengan imbal hasil 5,10% atau mengalami tightening sebesar 35 basis poin dari panduan awal.
Permintaan investor tercatat sangat agresif. Orderbook final mencapai lebih dari US$ 2,2 miliar dari 119 akun, atau setara 7,3 kali oversubscribe dibanding target penerbitan US$ 300 juta. Angka tersebut menegaskan likuiditas global masih memburu instrumen fixed income Indonesia yang memiliki profil risiko kuat dan menawarkan imbal hasil kompetitif.
Dominasi investor Asia terlihat jelas dengan kontribusi alokasi mencapai 87%, sementara investor EMEA menyumbang 13%. Dari sisi tipe investor, manajer aset dan fund manager mendominasi sebesar 74%. Sisanya berasal dari bank sentral, perusahaan asuransi dan dana pensiun sebesar 14%, sektor perbankan 10%, serta private bank dan investor lainnya sebesar 2%.
Komposisi investor yang beragam dinilai menjadi sinyal penting bahwa PT SMI semakin dipandang sebagai kredit unggulan regional di tengah ketidakpastian pasar global dan tingginya volatilitas suku bunga internasional. Keberhasilan pricing yang agresif juga mencerminkan persepsi risiko Indonesia yang tetap terjaga, terutama untuk institusi yang memiliki keterkaitan erat dengan agenda pembangunan infrastruktur pemerintah.
Dalam transaksi ini, DBS Bank Ltd. bertindak sebagai Sole Global Coordinator. Sementara BNI Securities, Deutsche Bank, Mizuho, MUFG dan Standard Chartered Bank menjadi Joint Bookrunners dan Joint Lead Managers.