INDUSTRY.co.idJakarta-Beberapa tahun lalu, ketika seseorang harus dirawat di rumah sakit karena penyakit yang tergolong umum seperti tipes, banyak keluarga masih merasa biaya perawatannya relatif bisa dijangkau, yaitu berkisaran antara Rp 9 juta di tahun 2023. Namun, kemudian angka itu terus meningkat. Di tahun 2024 biaya perawatan penyakit tipes menjadi Rp 16 juta, naik hampir dua kali lipat.

 

Kenaikan ini didorong oleh tingginya inflasi medis di Indonesia yang terus meningkat lebih cepat dibanding inflasi umum bahkan lebih tinggi dibanding negara-negara tetangga. Kenaikan inflasi medis dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, mulai dari gaya hidup yang kurang sehat sehingga lebih banyak yang berobat (teori supply and demand), adopsi teknologi medis berbiaya tinggi, hingga praktik overutilisasi, yakni penggunaan pemeriksaan atau tindakan medis yang tidak selalu diperlukan secara klinis.

 

Ketika kenaikan biaya terjadi secara konsisten seperti ini setiap tahun, pertanyaan yang muncul adalah: apakah layanan tersebut akan tetap terjangkau bagi semua orang di masa depan?

 

Pengendalian inflasi medis tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem Kesehatan, seperti penyedia layanan, penjamin/industri asuransi, pemerintah, serta pemasok alat kesehatan dan obat, semua memiliki peran penting. Di tengah kompleksitas sistem kesehatan dan tekanan biaya yang terus meningkat, pasien sebenarnya memiliki ruang untuk berperan lebih aktif.

 

Pernah di momen kamu merasa ragu setelah keluar dari ruang dokter, ingin bertanya lebih jauh, tapi sudah terlanjur mengangguk setuju? Atau menerima resep dan rangkaian tindakan tanpa benar-benar memahami mengapa semuanya diperlukan? Situasi seperti ini sangat umum terjadi. Di tengah waktu konsultasi yang terbatas dan istilah medis yang tidak selalu mudah dipahami, banyak pasien memilih diam. Padahal, di momen itulah kita sebenarnya sedang mengambil keputusan penting tentang tubuh dan kesehatan kita sendiri.

 

Menjadi pasien yang kritis adalah bentuk kolaborasi yang lebih sehat antara pasien dan tenaga medis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong pendekatan layanan kesehatan yang melibatkan pasien secara aktif dalam pengambilan keputusan, karena keputusan yang dipahami bersama cenderung menghasilkan hasil yang lebih baik dan lebih aman. Dengan kata lain, kita berhak, dan sebaiknya, ikut memegang kendali. Pendekatan ini bukan untuk meragukan tenaga medis, melainkan sebagai bentuk check and balance demi sistem kesehatan yang lebih efisien, berkelanjutan, dan berfokus pada hasil yang optimal.

 

Salah satu cara paling sederhana adalah membiasakan diri untuk bertanya: “Apakah ini benar-benar perlu?” Pertanyaan ini bisa membuka diskusi yang lebih dalam tentang manfaat, risiko, durasi, hingga alternatif dari suatu pengobatan atau tindakan yang diberikan kepada kita sebagai pasien sudah tepat

 

Lalu, apa sebenarnya manfaat menjadi pasien yang kritis?

  1. Meningkatkan akurasi diagnosis dan perawatan
    Sering kali, diagnosis yang tepat bergantung pada informasi yang kita sampaikan. Misalnya, seorang pasien mengalami nyeri perut dan langsung diberi obat maag. Namun, setelah ia menceritakan lebih detail, bahwa nyeri muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu dan disertai alergi, dokter bisa mempertimbangkan kemungkinan lain dan menyesuaikan penanganan. Pertanyaan dan penjelasan tambahan dari pasien dapat membantu dokter melihat gambaran yang lebih utuh.

 

  1. Melakukan perawatan kesehatan sesuai kebutuhan medis

Tidak semua keluhan membutuhkan tindakan lanjutan yang kompleks atau berulang. Dalam beberapa kasus, pasien bisa langsung direkomendasikan untuk menjalani fisioterapi berkali-kali. Padahal, dengan bersikap lebih kritis, frekuensi tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan medis yang sebenarnya. Dengan bertanya seperti, “Apakah ini perlu dilakukan sesering ini?” atau “Apakah ada alternatif lain dengan hasil yang sama?”, pasien dapat memperoleh pemahaman yang lebih utuh. Dari situ, kita bisa menilai apakah tindakan tersebut diperlukan atau masih ada ruang untuk pendekatan yang lebih sederhana tanpa mengurangi efektivitas perawatan.

 

  1. Meningkatkan keamanan pasien

Perawatan Kesehatan yang tidak sesuai kebutuhan bisa terjadi, maka sebagai pasien kita berhak bertanya perlu atau tidak obat yang diberikan. Contohnya, seorang pasien menerima dua obat berbeda tanpa menyadari bahwa keduanya memiliki kandungan serupa. Dengan bertanya dan mengonfirmasi, risiko efek samping atau risiko kesehatan lainnya dapat dihindari. WHO sendiri menekankan bahwa keterlibatan pasien adalah bagian penting dalam meningkatkan keselamatan layanan kesehatan.

 

  1. Jalani perawatan dengan rasa tenang dan percaya diri
    Pasien yang memahami kondisi dan rencana perawatannya cenderung merasa lebih tenang dan percaya diri dalam menjalani proses pengobatan.

 

  1. Membantu pengambilan keputusan yang lebih sesuai dengan kondisi kesehatan pribadi
    Setiap orang memiliki kondisi, prioritas, dan kemampuan yang berbeda. Misalnya, seorang pasien yang bekerja dengan mobilitas tinggi mungkin perlu mempertimbangkan jenis terapi yang tidak mengganggu aktivitasnya. Dengan berdiskusi secara terbuka, keputusan yang diambil bisa lebih realistis dan berkelanjutan.

 

  1. Menghindari biaya yang tidak perlu
    Dengan diberikannya pengobatan yang tepat dan sesuai kebutuhan medis, dapat mempengaruhi biaya yang pasien keluarkan. Dengan memahami kebutuhan medis secara lebih jelas, pasien dapat mengelola pengeluaran kesehatan dengan lebih bijak tanpa mengorbankan kualitas perawatan.

 

Namun, memegang kendali atas kesehatan tidak berhenti di ruang konsultasi. Ada satu aspek lain yang sering kali baru disadari saat dibutuhkan: perlindungan kesehatan dan finansial. Dalam situasi tertentu, seperti perawatan lanjutan, rawat inap, atau kondisi yang membutuhkan biaya besar, memiliki perlindungan asuransi dapat menjadi penopang penting, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga.

 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya transparansi informasi dan pemahaman konsumen terhadap produk keuangan, termasuk asuransi. Artinya, sama seperti saat berkonsultasi dengan dokter, kita juga perlu bersikap kritis ketika memiliki produk asuransi.

 

Apakah kita sudah benar-benar memahami manfaat yang diberikan? Apa saja pengecualian dalam polis? Bagaimana prosedur klaimnya? Dokumen apa saja yang diperlukan? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk memastikan bahwa ketika dibutuhkan, proses klaim dapat berjalan lancar tanpa hambatan yang tidak perlu. Dengan memahami syarat dan ketentuan dalam masing-masing polis termasuk hal-hal yang dikecualikan, maka proses klaim lebih mudah dan manfaat yang diterima oleh nasabah dapat optimal. 

Lebih jauh lagi, sikap kritis ini tidak hanya berdampak pada diri kita sendiri, tetapi juga pada sistem yang lebih luas. Dengan bertanya dan memastikan bahwa setiap tindakan medis yang dijalani sesuai dengan yang diperlukan, kita turut berperan dalam mewujudkan penggunaan layanan kesehatan yang tepat dan sesuai kebutuhan media. Hal ini karena tengah tren kenaikan biaya medis, langkah sederhana mencegah overutilisasi ini dapat membantu menekan potensi peningkatan biaya klaim asuransi dan menjaga manfaat perlindungan yang diterima tetap optimal dan mendukung setiap tahap kehidupan nasabah dalam jangka panjang. 

Dengan menjadi pasien yang lebih kritis dan sadar, kita tidak hanya menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga turut berkontribusi pada sistem kesehatan yang lebih adil, efisien, dan berkelanjutan bagi semua.

1. Laporan Mercer Marsh Benefits Health Trends 2025 memproyeksikan kenaikan biaya medis di Indonesia di tahun 2025 mencapai 19%, sedangkan di Malaysia 15%, di Singapura 11%.