INDUSTRY.co.id - Jakarta, Indonesia tengah memasuki fase baru pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah dinamika global, percepatan transformasi industri, serta semakin terbukanya konektivitas antardaerah, HIPMI memosisikan diri bukan lagi sekadar organisasi pengusaha, melainkan ekosistem yang mempertemukan peluang, jejaring, dan pertumbuhan usaha Indonesia.
Bagi pengusaha generasi pertama, tantangan hari ini tidak berhenti pada kebutuhan motivasi. Mereka membutuhkan akses yang konkret dan terukur—mulai dari business matching, koneksi buyer, project linkage, integrasi supply chain, akses pembiayaan, hingga kolaborasi lintas daerah yang mampu membuka pasar lebih luas.
Dari kebutuhan itulah arah gerak HIPMI semakin menemukan bentuknya: membangun konektivitas ekonomi anggota secara nyata.
Dengan kekuatan jaringan 514 BPC di tingkat kabupaten dan kota serta organisasi yang tersebar di 38 provinsi, HIPMI mendorong distribusi peluang usaha agar tidak terpusat hanya di wilayah tertentu. Pertumbuhan ekonomi harus tersebar, jejaring bisnis harus saling terhubung, dan akses usaha harus dapat dijangkau seluruh anggota.
Energi pertumbuhan tersebut mulai terlihat melalui dashboard konektivitas HIPMI. Saat ini tercatat 171.248 anggota aktif, 2.843 proyek terhubung secara nasional, serta transaksi terfasilitasi mencapai Rp8,42 triliun dengan konektivitas lintas 38 provinsi.
“Konektivitas adalah energi baru pertumbuhan usaha. Ketika anggota terhubung, peluang bergerak lebih cepat daripada batas wilayah," ujar Anthony Leong.
Data tersebut bukan semata statistik organisasi. Ia mencerminkan bagaimana jejaring yang terkoneksi mampu melahirkan kekuatan ekonomi baru di kalangan pengusaha muda Indonesia.
Namun HIPMI juga memahami bahwa pertumbuhan usaha tidak selalu berjalan mulus. Sebagian pelaku usaha masih menghadapi tantangan berupa pembayaran proyek yang tertunda, buyer yang berubah, tingginya biaya distribusi, keterbatasan modal kerja, hingga cashflow yang fluktuatif. Di sisi lain, roda usaha tetap harus berjalan: pekerja tetap bekerja, vendor tetap bergerak, distribusi tetap dilakukan, dan produksi tetap dijaga.
“Ketahanan usaha bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi kemampuan menjaga operasional tetap bergerak di tengah tekanan," imbuhnya.
Kondisi tersebut tercermin dalam data nasional. Outstanding kredit UMKM Indonesia telah melampaui Rp1.500 triliun dengan porsi 19,4 persen terhadap total kredit nasional. Pada banyak sektor usaha, siklus pembayaran proyek bahkan dapat berlangsung antara tiga hingga enam bulan.
Karena itu, pengusaha tidak cukup hanya diberikan ruang untuk bertumbuh. Mereka membutuhkan ekosistem yang mampu menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempercepat konektivitas ekonomi antaranggota.
Dalam debat kandidat Ketua Umum HIPMI, Anthony Leong menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tidak mungkin tercapai tanpa stabilitas politik dan kolaborasi kebangsaan.
“Kekuatan ekonomi tidak bisa dicapai tanpa stabilitas politik. Fondasi itulah yang akan melahirkan pertumbuhan ekonomi 8% menuju Indonesia Emas 2045," ujarnya.
Anthony Leong juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan Profesor Sufmi Dasco Ahmad sebagai figur yang dinilai mampu menjadi jembatan politik dalam merajut kepentingan nasional.
Menurutnya, peluang bagi pengusaha muda Indonesia sesungguhnya sudah terbuka luas. Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan akses tersebut dapat dirasakan hingga ke daerah.
Pertanyaan besarnya pun muncul: apakah HIPMI hanya akan menjadi pemain cadangan dalam perjalanan besar Indonesia menuju negara maju?
Jawabannya, menurut Anthony Leong, harus jelas.
“HIPMI tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. HIPMI harus menjadi mesin penggerak, mesin kolaborasi, dan mesin pertumbuhan nasional," sebutnya.
Ke depan, ia menegaskan bahwa hilirisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan industri semata. Hilirisasi harus mampu melahirkan pengusaha daerah yang kuat dan terkoneksi dalam rantai ekonomi nasional.
“Membangun hilirisasi bukan sekadar membangun industrinya, tetapi membangun pengusaha daerahnya," tukasnya.
Sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pusat-pusat ekonomi besar, tetapi juga oleh pengusaha daerah yang bergerak bersama dalam satu ekosistem pertumbuhan nasional.
Di titik inilah HIPMI berupaya mengambil peran: menjadi rumah konektivitas usaha, mesin kolaborasi nasional, dan penggerak baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.