INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Di tengah penguatan pasar keuangan domestik sepanjang 2025, Allianz Indonesia mencatat pertumbuhan dana kelolaan yang solid. Namun, memasuki 2026, perusahaan menilai ruang pertumbuhan tetap terbuka dengan catatan: volatilitas global masih tinggi dan strategi investasi harus dijalankan lebih selektif.
Kinerja ekonomi Indonesia tahun lalu menjadi fondasi utama penguatan industri keuangan. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11% dengan inflasi yang terjaga di level 2,92% secara tahunan. Di saat yang sama, pelonggaran moneter melalui penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia turut memperkuat likuiditas pasar.
Momentum itu tercermin di pasar modal. IHSG melesat 22,13% sepanjang 2025, sementara indeks obligasi pemerintah tumbuh 12,43%. Kondisi tersebut menjadi ruang yang positif bagi industri asuransi berbasis investasi untuk menjaga pertumbuhan aset kelolaan.
Allianz Indonesia memanfaatkan momentum tersebut dengan membukukan total asset under management (AUM) sebesar Rp43,7 triliun pada akhir 2025, tumbuh 9,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia, Ni Made Daryanti, mengatakan perseroan tetap konsisten menjalankan strategi investasi yang disiplin untuk menjaga keseimbangan antara risiko dan imbal hasil.
“Di tengah volatilitas global sepanjang 2025, Allianz Indonesia tetap berfokus pada konsistensi pengelolaan dana kelolaan nasabah dengan pendekatan investasi yang disiplin dan adaptif, sejalan dengan karakteristik bisnis asuransi yang berorientasi jangka panjang,” ujar Ni Made.
Menurut dia, ketahanan ekonomi domestik menjadi faktor penting yang menopang stabilitas portofolio investasi perusahaan. Likuiditas pasar yang membaik dan dominasi investor domestik dinilai menjadi bantalan utama menghadapi tekanan eksternal.
Sepanjang tahun lalu, Allianz mengelola 49 unit link fund, dengan tiga produk terbesar yakni Smartlink Equity senilai Rp5,8 triliun, Smartlink Fixed Income Rp1,7 triliun, dan Smartlink Balanced Rp1,4 triliun.
Meski prospek pasar 2026 dinilai tetap konstruktif, Allianz melihat tantangan global belum sepenuhnya mereda. Ketidakpastian arah kebijakan perdagangan, inflasi global, dan tensi geopolitik masih menjadi faktor yang dapat memicu volatilitas baru.
Di sisi domestik, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,2% hingga 5,8% tahun ini. Belanja modal negara, terutama untuk infrastruktur dan transportasi, diproyeksikan naik signifikan menjadi Rp156 triliun. Sementara belanja sosial diperkirakan terus menopang konsumsi masyarakat.
Bagi Allianz, kondisi itu menciptakan peluang di pasar saham maupun obligasi. Namun, pendekatan investasi tidak lagi bisa agresif seperti tahun lalu.
“Memasuki 2026, kami mempersiapkan strategi yang lebih selektif dengan menekankan kualitas aset dan pengelolaan risiko yang terukur, agar tetap selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang nasabah,” kata Ni Made.
Ia menambahkan, dalam situasi pasar yang cepat berubah, investor perlu lebih disiplin mengevaluasi tujuan keuangan, horizon investasi, serta toleransi risiko. Diversifikasi aset dinilai tetap menjadi strategi utama untuk menjaga keseimbangan antara proteksi dan pertumbuhan investasi.
“Diversifikasi tetap menjadi kunci, dan pemilihan instrumen perlu selaras dengan profil risiko agar tujuan proteksi dan investasi berjalan seimbang dalam jangka panjang,” tutupnya.