INDUSTRY.co.id - Jakarta, Deru mesin di Pertamina Mandalika International Circuit akhir pekan ini bukan sekadar bunyi kompetisi. Ia menjadi latar bagi sebuah narasi yang lebih besar: pertemuan antara mimpi, kreativitas, dan panggung global.
Di tengah gelaran GT World Challenge Asia Powered by AWS pada 1–3 Mei 2026, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menghadirkan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya balapan, tetapi juga cerita tentang bagaimana kekayaan intelektual (IP) lokal Indonesia menemukan jalannya ke lintasan internasional.
“Event ini bukan hanya ajang, tetapi juga sangat inklusif. Yang penting kita berani bermimpi, karena mimpi itu bisa diwujudkan, dan ini adalah panggungnya,” ujar Wamen Ekraf Irene Umar, Senin (4/5/2026).
Kolaborasi lintas sektor pun terwujud. Bersama Radical Motorsport, Sekuya EVOS Racing, Maxdecal, serta TaleX, IP lokal Starla X Roar tampil mencolok melalui livery mobil balap. Visual yang dahulu mungkin hanya hidup di ruang kreatif kini melesat di atas aspal sirkuit, membawa identitas Indonesia ke kecepatan tinggi.
Di balik desain tersebut, ada perjalanan personal yang tak kalah menarik. Erika Richardo dan Jheremy Owen, yang sebelumnya dikenal sebagai kreator yang melukis mobil balap, kini mengambil peran baru sebagai pembalap dalam sesi Radical Time Attack—sebuah format yang menantang peserta untuk mencatat waktu putaran tercepat.
Transformasi ini bukan sekadar perubahan profesi, melainkan cerminan luasnya peluang dalam ekosistem ekonomi kreatif. Dari kanvas ke kokpit, dari karya visual ke performa di lintasan, keduanya menunjukkan bahwa kreativitas bisa menjadi pintu masuk ke dunia yang sama sekali berbeda.
“Indonesia menunjukkan bahwa kita adalah negara yang inklusif, dengan ruang yang terbuka bagi semua. Siapa pun bisa dare to dream and make it happen,” kata Wamen Irene.
Mandalika pun semakin menegaskan perannya sebagai simpul penting. Pengembangan kawasan oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) menjadikan lokasi ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga arena tempat berbagai sektor bertemu: olahraga, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Tidak berhenti di sana, semangat inklusivitas juga hadir melalui Krida Agya One Make Race (OMR) Kartini Race. Ajang ini membuka ruang bagi pembalap perempuan untuk berkompetisi, sekaligus memperkuat pesan tentang kesetaraan dan pentingnya regenerasi talenta dalam dunia motorsport nasional.
Di balik gemerlap acara, ada banyak tangan yang bekerja tanpa sorotan. Peran tim di balik layar, dari teknisi hingga penyelenggara, menjadi fondasi yang memastikan standar global dapat tercapai.
“Setiap peran, termasuk yang di belakang layar, memiliki kontribusi besar. Ini adalah panggung dunia, dan setiap upaya yang diberikan menjadi bagian dari wajah Indonesia di mata global,” imbuhnya.
Pada akhirnya, Mandalika tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga momentum. Kolaborasi antara IP lokal, talenta kreatif, dan platform global menjadi langkah strategis untuk membuka peluang baru. Sebuah penegasan bahwa Indonesia tidak hanya hadir sebagai pasar, melainkan juga sebagai pemain yang ikut membentuk arah industri kreatif dunia.
Dan di lintasan itulah, mimpi-mimpi itu melaju—cepat, berani, dan tanpa batas.